
Di dalam ruangannya, Gibran sedang membaca buku untuk mengisi jam kosongnya karena jadwal mengajarnya masih beberapa jam lagi.
Membaca buku adalah pilihan yang sangat tepat untuk mempersingkat waktu karena tanpa sadar sudah tinggal beberapa menit lagi sebelum dia masuk ke kelas selanjutnya.
Gibran yang sedang asik membaca di kejutkan oleh ketukan pintu yang berasal dari luar.
“Masuk!” teriak Gibran yang sudah menaruh buku bacaannya kembali.
Awalnya Gibran kira itu adalah salah satu mahasiswanya yang mau mengumpulkan tugas, namun ternyata yang datang adalah Sarah.
Dengan wajah yang cemberut sarah langsung masuk ke dalam ruangan Gibran lalu duduk di hadapannya, bahkan sampai lupa memberi salam.
“Waalaikumsalam.” Ucap Gibran bermaksud menyindir.
“Assalamualaikum, maaf aku lupa sangking keselnya.” Balas Sarah.
“Kenapa kesal?” tanya Gibran sambil mengerutkan keningnya karena penasaran.
Gibran pikir mungkin Sarah sedang PMS makanya kesal, namun Gibran sama sekali tidak ada niatan untuk bertanya kepadanya.
Walaupun mereka berdua adalah teman dekat, namun Gibran tetaplah Gibran yang tidak terlalu perduli dengan urusan oang lain.
“Kamu udah denger belum sih tentang gosip yang sedang beredar?” tanya Sarah.
Gibran memandang wajah Sarah sekilas lalu dia menggelengkan kepalanya, karena memang Gibran tidak terlalu suka mendengarkan gosip, selain menambah dosa karena sudah membicarakan orang lain, gosip juga bisa mengubah pandangannya terhadap seseorang.
“Kamu beneran belum dengar? Padahal gosipnya tentang kamu.” Ucap Sarah.
“Tentang saya? Memangnya gosip apa?” tanya Gibran yang akhirnya tertarik karena gosip itu tentang dirinya.
“Gosip tentang kamu sama Karren, semua mahasiswa bahkan para dosen pun dengar gosip itu.” Jelas Gibran.
Mendengar nama Karren di sangkut pautkan dengan dirinya membuat Gibran semakin penasaran tentang gosip apa yang sudah tersebar.
__ADS_1
“Emang saya dan Karren kenapa?” tanya Gibran.
“Kalian jalan berdua, ada mahasiswi yang lihat kalian berdua di mall, kamu bilang kamu ga suka sama Karren, terus kenapa kamu malah jalan sama dia?” tanya Sarah.
Sarah terlihat sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, dia cemburu. Selama ini Gibran selalu ada alasan untuk menolak kalau Sarah mengajaknya pergi, sedangkan Gibran tidak menolak saat Karren yang mengajaknya pergi.
Kehadiran Karren di hidup Gibran membuat posisi Sarah sebagai teman dekan Gibran tergeser, padahal Karren jauh dari tipe wanita idaman Gibran.
“Saya hanya menepati janji.” Balas Gibran.
Gibran berbicara dengan santai karena merasa kalau apa yang dia dan Karren lakukan tidak ada yang salah, sedangkan Sarah semakin kesal karena Gibran menanggapi gosip itu dengan santai.
“Janji apa?” tanya Sarah yang semakin penasaran.
Jantung sarah terasa sesak memikirkan kedekatan Gibran dan Karren yang sampai membuat janji layaknya dua orang yang memiliki hubungan yang special.
Mendengar pertanyaan Sarah membuat Gibran langsung menatap ke arah Sarah dengan tatapan sedikit tidak suka.
“Saya tidak perlu menjelaskannya kepadamu karena itu tidak ada hubungannya denganmu.” Ucap Gibran.
“Kamu harus menjauhi Karren!” ucap Sarah dengan nada menyuruh.
“Memangnya kamu siapa berani menyuruh saya untuk menjauhi seseorang?” tanya Gibran yang sudah mulai kesal.
Gibran sama sekali tidak mengerti dengan sikap Sarah, mereka berdua memang berteman dekat tapi bukan berarti Sarah berhak mengatur hidupnya.
Mendengar ucapan Gibran membuat Sarah sedih, matanya berkaca-kaca, Sarah tidak pernah menyangka kalau Gibran akan berbicara seperti itu kepadanya.
Sarah sudah lama menyukai Gibran, tapi selama ini Gibran hanya menganggapnya teman, bahkan sikap Gibran selalu kaku sejak dulu sampai saat ini.
“Para dosen juga ikut membicarakan kamu dan Karren, mereka mempertanyakan hubungan kalian berdua.” Ucap Sarah.
“Kamu harus menjauhi Karren sebagai bentuk bantahan buat dugaan mereka, image kamu di depan para mahasiswa akan hancur, mereka akan menganggap kamu sama dengan laki-laki lain yang menyukai Karren hanya karena dia cantik dan sexy.” Lanjutnya.
__ADS_1
Gibran kembali membuka buku yang dia baca tadi, walaupun begitu dia juga mendengarkan dan memikirkan apa yang Sarah katakan.
“Kalau kamu terus dekat dan memberi perhatian lebih kepada Karren walaupun hanya kalian bertetangga, tapi bisa aja dia baper sama semua perhatian kamu. Sebelum dia menaruh perasaan lebih padamu, lebih baik kamu jauhi dia karena image kamu yang baik akan hancur melihat seperti apa Karren di luar sana.” Sambung Sarah membuat perasaan Gibran semakin kacau.
“Maaf Sarah, bisakah kamu keluar? Saya ada jam mengajar sebentar lagi.” Ucap Gibran berniat untuk mengusir Sarah dengan cara halus.
Sarah mengangguk lalu dia segera pergi dari ruangan Gibran setelah memberi salam kepada Gibran.
Meskipun ucapan Sarah berhasil membuat Gibran kepikiran, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu saat ini karena dia harus segera mengajar.
Gibran segera menyiapkan apa yang di perlukan untuk mengajar lalu dia segera keluar dari ruangannya menuju kelas.
Saat berjalan di koridor, tanpa sengaja Gibran mendengarkan pembicaraan empat mahasiswi yang menyebut namanya. Karena penasaran Gibran akhirnya menghentikan langkahnya dan berhenti tidak jauh dari mereka.
Gibran pura-pura memainkan ponselnya agar mereka tidak tau kalau dia sedang menguping. Gibran melakukan hal ini karena dia penasaran gosip seperti apa yang sedang menyebar, walaupun selama ini Gibran sama sekali tidak pernah menguping orang yang sedang bergosip.
“Gue yakin kalo Karren deketin pak Gibran karena mau dapet nilai bagus.” Ucap salah satu mahasiswi yang ada di sana.
“Ya pastilah! Setahu gue kan dia dekatnya sama Kevin, tiba-tiba deket sama pak Gibran ya pasti ada apa-apanya lah.” Balas yang lain.
“Gue denger nilai dia juga ga seberapa bagus pas di ajar sama dosen sebelumnya, lah sekarang nilai dia pasti aman karena dekat sama pak Gibran.” Balas yang lain lagi.
“Kalo gue sih lebih dukung pak Gibran sama bu Sarah, tapi ya mungkin karena Karren lebih seksi aja jadi pak Gibran lebih pilih Karren.”
“Haha, gue curiga sih kalo Karren dah serahin tubuhnya buat pak Gibran, makanya pak Gibran yang galak itu bisa luluh sama dia.”
Begitulah isi gosip yang tersebar di kampus akhir-akhir ini, Gibran yang mendengar hal itu hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi karena mendengar kata-kata yang tidak terpelajar keluar dari mulut seorang mahasiswi terpelajar.
Rahang Gibran mengeras dengan tatapan tajam yang melihat ke arah mahasiswi tersebut, sayangnya mereka tidak menyadari kehadiran Gibran di sana.
Sebenarnya Gibran ingin menegur mereka, namun karena jam mengajarnya akan segera di mulai maka Gibran
mengurungkan niatnya dan langsung berjalan dengan wajah datarnya seperti biasa, namun kali ini bukan wajah datar biasa, tapi wajah datar karena menahan emosi.
__ADS_1
Selama jam perkuliahan Gibran sama sekali tidak fokus, dia terus memikirkan ucapan mahasiswinya tadi yang menilai Karren yang tidak-tidak.
Selama ini Gibran hanya santai jika ada gosip tentang dia dengan Karren, tapi ternyata semua orang lebih banyak menyudutkan dan menjelek-jelekkan Karren di banding dirinya.