DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 81 (PERTUNANGAN)


__ADS_3

Semua orang sudah keluar dari kamar Karren karena mereka mau membantu menyiapkan perlengkapan acara, sedangkan di dalam kamar hanya tinggal Karren dan Darren saja.


Karren masih berjalan ke sana kemari sambil mengatur napasnya berkali-kali membuat Darren semakin kesal di buatnya.


“Bisa ga sih diem Ren, lo bikin gue tambah pusing tau.” Ucap Darren.


“Gue takut, setelah menikah pasti banyak masalah yang akan terjadi, gue bisa ga ya ngadapinnya?” tanya Karren.


“Lo tenang saja, gue bakal awasin lo dari jauh, kalau sampai dia semena-mena sama lo, gue bakal beraniin diri maju buat lo dan ngelindungin lo.” Ucap Darren.


Mendengar ucapan Darren membuat Karren menoleh menatap Darren dengan haru, lalu dia memeluk Darren dengan erat.


Darren tersenyum lalu membalas pelukan saudara sepupunya itu dan menepuk pinggung Karren untuk menenangkannya.


“Gue terharu loh Ren, setelah sekian lama akhirnya lo berguna juga jadi sepupu gue.” Ucap Karren.


Mendengar ucapan Karren membuat Darren melotot lalu dia mendorong tubuh Karren pelan agar menjauh darinya.


“Sialan lo!” ketus Darren.


Karren tertawa sambil menghapus air matanya yang tadi sempat turun beberapa tetes, lalu tiba-tiba saja tawanya berhenti saat dia mengingat sesuatu.


“Kevin gimana?” tanya Karren.


Jujur saja Karren merasa bersalah dan juga tidak tega di dalam hatinya jika mengingat Kevin yang selalu ada untuknya, tapi sekarang Karren malah mau bertunangan dengan laki-laki lain, pasti dia merasa kecewa.


“Udah di bar dia jam segini, makanya acaranya di percepat kek biar gue bisa cepat nyusul dia ke sana.” Balas Darren.


“Mau ikut..” rengek Karren.


“Nggak! Lo udah mau jadi bini orang ga usah aneh-aneh deh!” ketus Darren.


“Tapi, Kevin gimana?” tanya Karren.


“Udah ada Dina di sana, ntar lagi Silvia sama Clara nyusul kok.” Balas Darren.


Karren memanyunkan bibirnya, dia merasa bersalah kepada mantannya itu. Mereka selalu yakin kalau mereka pasti berjodoh walaupun ucapan itu hanya candaan saja.

__ADS_1


Karren juga berasa kalau Kevin adalah laki-laki yang paling klop dengannya, sayangnya ternyata Karren harus berakhir dengan laki-laki lain.


“Kak Karren, ayo turun keluarga calon tunangan kakak udah dateng tuh.” Ucap Azzura dari luar kamar Karren.


“I-iya..” sahut Karren yang semakin gugup.


Jantung Karren berdetak sangat cepat, tangannya berkeringat dan perutnya semakin mulas.


“Gimana dong Ren...” ucap Karren dengan wajah memelas meminta bantuan.


“Ya turun lah, mau gimana lagi? Bukannya ini yang lo mau? Jadi pasangan pak Gibran?” ucap Darren dengan santainya.


Karren semakin kesal karena sepupunya itu, mentang-mentang Darren tidak berada di posisi Karren, dia bisa sesantai itu.


“Tapi ga secepet ini juga yang gue mau.” Balas Karren.


Rasanya Karren ingin menangis, ini terlalu cepat untuknya, masak aja kalo niat, kadang bangun habis sholat tidur lagi sampai kesiangan dan Key harus membangunkannya menggunakan air, bagaimana nanti kalau dia akan menjadi istri orang.


“Udah ayo turun jangan lama-lama! Gue temenin, keburu pak Gibran berubah pikiran.” Ucap Darren yang langsung menarik tangan Karren dengan lembut.


Langkah kaki Karren terasa sangat berat seolah ada sesuatu yang mengikatnya dan membuatnya tidak bisa berjalan dengan lancar.


Terlihat di ruang tamu sudah ada banyak orang yang menunggunya, mulai dari keluarga Gibran dan juga keluarga besar Karren.


Perasaan Karren semakin kacau, tapi dia tetap memaksakan senyumannya dan menyapa semua orang yang ada di sana.


Gibran terlihat sangat tampan dengan kemeja batik yang dia pakai, laki-laki itu saat ini sedang terpukau melihat penampilan Karren yang terlihat sangat cantik malam ini.


Tanpa sadar bibirnya tersenyum menatap calon tunangannya yang sedang berjalan ke arahnya.


Karren duduk di sebelah Gibran, dia terus menunduk dan tidak berani untuk menatap orang-orang yang mungkin saja sedang memperhatikannya saat itu.


Karren meremas tangannya sendiri, dia sama sekali tidak fokus dengan pembicaraan antara keluarganya dan keluarga Gibran. Yang Karren inginkan saat ini adalah agar acaranya cepat selesai.


“Jangan gugup.” Bisik Gibran yang menyadari kalau Karren sedang merasa gugup.


Karren sedikit mendongak dan menoleh melihat ke arah Gibran yang sedang tersenyum tipis, dan senyuman itu tanpa sadar membuat Karren ikut tersenyum.

__ADS_1


Rasa gugupnya lumayan berkurang setelah melihat wajah Gibran yang menenangkan hatinya dan membuatnya nyaman.


“Karren Adibrata, saya datang kemari bersama keluarga saya dengan maksud untuk melamar kamu, apakah kamu bersedia untuk menjadi istri saya?” ucap Gibran dengan serius setelah pembicaraan basa basi yang panjang kali lebar.


Mata Karren berbinar, dia ingin menerimanya tapi masih belum siap untuk menjadi seorang istri dalam waktu dekat ini. Lalu akhirnya Karren mengangguk setelah meyakinkan dirinya sendiri.


“Aku bersedia.” Ucap Karren.


Semua orang bersorak dat bertepuk tangan dengan meriah, Gibran memasangkan cincin berlian di jari manis Karren, dan Karren pun melakukan hal yang sama, setelah itu Karren mencium punggung tangan Gibran.


Karren menghela nafas lega karena acara sudah selesai dan sekarang tinggal acara makan malam bersama seluruh keluarga besar, semua orang berbincang-bincang. Untung saja keluarga besar Karren adalah orang yang sangat welcome, mereka membuat keluarga Gibran nyaman dan bercengkrama layaknya satu keluarga.


Untuk pertama kalinya Karren bertemu dengan papanya Gibran, karena saat acara ulang tahun mamanya Gibran papanya tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan, dan baru kali ini lah Karren melihat calon papa mertuanya.


“Terimakasih karena sudah menerima saya.” Ucap Gibran setelah acara makan malam selesai.


“Terimakasih juga karena kamu sudah mau memberikan aku kepastian.” Balas Karren dengan senyuman manisnya.


Gibran mengajak Karren ke gazebo belakang rumah Karren, mereka duduk berdua sambil menikmati pantulan cahaya lampu yang ada di air kolam renang yang tenang.


Keduanya terdiam sesaat dan suasana seketika menjadi canggung, hingga Gibran akhirnya membuka pembicaraan.


“Seperti yang orang tua saya tadi bilang, mereka ingin kita menikah secepatnya.” Ucap Gibran.


“Iya aku tau kok, insyaAllah aku sudah siap jika harus menikah cepat.” Balas Karren sambil menganggikkan kepalanya.


Walaupun masih takut tapi tidak mungkin Karren mengatakan tidak karena suasananya benar-benar terasa canggung.


“Besok kamu berangkat sama saya aja ya.” Ucap Gibran yang tiba-tiba beralih topik pembicaraan.


Karren hanya mengangguk mengiyakan ucapan Gibran, lalu mereka berdua kembali terdiam satu sama lain.


Sampai akhirnya semua keluarga Gibran berpamitan untuk pulang lebih dulu, Gibran pun berpamitan kepada Karren karena hari juga sudah semakin malam.


“Kalo gitu saya pulang dulu, kamu jangan tidur malam-malam ya.” Ucap Gibran sambil tersenyum ke arah Karren.


“Siap mas.” Balas Karren dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Gibran pun berpamitan kepada kedua orang tua Karren dan seluruh keluarga besar Karren, walaupun ada beberapa yang baru di kenalnya, tapi Gibran pernah makan malam bersama kakek dan nenek Karren, dan juga kedua orang tua Darren.


__ADS_2