DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 88 (MEMPROVOKASI)


__ADS_3

Para mahasiswa berhamburan keluar kelas saat kelas Gibran telah berakhir, Kevin masih tidak mau menanggapi Karren membuat wanita itu berniat untuk mengikuti Kevin ke kantin sampai laki-laki itu mau mengajaknya mengobrol.


“Karren!” panggil seseorang dengan suara beratnya.


Karren sudah tau siapa yang memanggilnya, dia langsung menghentikan langkahnya dan dengan malas menoleh ke arah orang itu.


“Apa?” ucap Karren dengan malas.


Para mahasiswa yang masih ada di kelas tidak terkejut dengan respon Karren kepada Gibran, karena satu fakultas sudah tau kalau mereka berdua sudah bertunangan.


“Kok kamu sewot gitu sih?” ucap Gibran tidak suka.


“Iya maaf, ada apa bapak Gibran Mahardika yang terhormat?” ucap Karren dengan senyum yang di paksakan.


“Tolong bawakan buku-buku saya ke ruangan saya!” ucap Girban yang meninggalkan buku-bukunya begitu saja di atas meja. Sedangkan Gibran langsung berjalan meninggalkan kelas begitu saja.


Karren melongo, dia bahkan belum mengiyakan perntah Gibran tapi Gibran dengan segala kekuasaannya langsung memerintah tanpa mau repot-repot endengar balasan dari Karren.


Karren hanya bisa mengelus dada mencoba untuk bersabar, tangannya mengambil buku-buku Gibran yang bertumpuk-tumpuk, lalu berjalan cepat mengikuti Gibran.


Para mahasiswa yang melihatnya cukup terkejut dengan interaksi Karren dan Gibran, mereka pikir setelah bertunangan dengan Karren, Gibran akan memperlakukan Karren dengan manis. Namun ternyata tidak, Gibran tetap tidak berubah, dia masih galak bahkan terhadap tunangannya sendiri.


Karren berlari menyusul Gibran dengan beberapa buku milik Gibran yang dia peluk, Karren berusaha untuk menyamakan langkahnya walaupun napasnya sudah terengah-engah.


“Jangan suka menggoda laki-laki lain!” tegas Gibran saat Karren berhasil menyamakan langkahnya.


Karren hanya melengos mendengar ucapan Gibran, jadi dia mendapat perlakuan seperti ini karena dia menggoda Kevin tadi.


Sesampainya di depan ruangan Gibran, mereka berdua masuk ke dalam. Karren segera menaruh buku-buku milik Gibran di atas meja, sedetik kemudian tangannya menyibakkan rambutnya dengan senyum menggoda.


“Kalau godain kamu boleh?” ucap Karren dengan nada yang manja sambil mengedipkan sebelah matanya.


Melihat hal itu membuat Gibran terkejut, matanya melotot melihat tingkah centil Karren yang sedang berada di hadapannya.


“Boleh nanti kalau sudah menikah.” Ucap Gibran membuat Karren memanyunkan bibirnya.


“Kalau gitu aku juga tidak akan menggoda laki-laki lain, tapi nanti setelah menikah.” Balas Karren yang langsung keluar dari ruangan Gibran tanpa berpamitan.

__ADS_1


“Jangan macem-macem Karren!” teriak Gibran saat Karren sudah menuntup pintu ruangannya.


Gibran tidak berusaha untuk mengejar Karren, dia sudah cukup bersabar hari ini dan tidak mungkin juga dia main kejar-kejaran di koridor kampus, yang ada image dosen galak di dalam dirinya hilang begitu saja.


***


Seseorang sedang memandangi rumah besar bercat putih yang ada di depannya dengan ragu, wanita itu adalah Sarah.


Sudah lama sekali dia tidak ke rumah itu, terakhir kali dia ke rumah itu, terakhir kali dia ke sini saat SMA dengan teman-temannya bertujuan untuk kerja kelompok.


Rumah besar itu adalah rumah keluarga Mahardika, dia sengaja datang ke rumah itu untuk bertemu dengan Yulia.


Penampilan Sarah saat ini kembali tertutup, tentu saja itu bertujuan untuk mendapatkan hati Yulia. Jika Sarah kesulitan untuk mengambil hati Gibran, maka jalan satu-satunya adalah merebut hati mamanya.


Sarah sudah berniat untuk mendapatkan hati Yulia, agar Yulia lebih setuju Gibran bersamanya dari pada bersama Karren.


Sarah tersenyum licik, kali ini dia sudah menyiapkan bukti tentang kenakalan Karren, termasuk kebiasaan Karren yang suka keluar malam dan minum-minuman keras.


Dia akan membuat Yulia berpikir ulang untuk menjadikan Karre sebagai menantunya, Sarah yakin kalai Yulia pasti akan kecewa setelah melihat bukti yang dia berikan.


Kaki Sarah dengan mantap berjalan di atas ubin marmer rumah keluarga Gibran, dia segera menekan bel rumah Gibran sambil mengucapkan salam.


“Assalamualaikum...” teriak Sarah dari luar.


“Waalaikumsalam.” Jawab seseorang dari dalam tanpa menunggu lama.


Yulia membuka pintu rumahnya, matanya menatap bingung saat melihat Sarah berada di depan rumahnya, awalnya Yulia kira Sarah ingin bertemu dengan Gibran. Tapi bukankah Sarah sudah tau kalau Gibran sudah tidak tinggal di rumah ini lagi?


“Gibran ga ada di sini Sarah, dia ada di rumahnya sendiri, kamu jauh-jauh ke sini cuma mau cari Gibran?” ucap Yulia memberitahu Sarah.


Karena memang rumah Yulia dan Gibran berjarak sekitar satu jam karena berbeda kota tapi tidak terlalu jauh juga.


“Saya ke sini mau ketemu sama tante bukan sama Gibran tan.” Ucap Sarah sambil tersenyum sopan.


“Oh gitu, yaudah ayo masuk kalo gitu.” Ucap Yulia mempersilahkan Sarah untuk masuk ke dalam rumahnya.


Sarah hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Yulia ke ruang tamu.

__ADS_1


“Silahkan duduk Sarah.” Ucap Yulia yang di balas anggukan oleh Sarah dan duduk di sofa rumah Yulia setelah di persilahkan.


“Kamu mau minum apa Sarah?” tanya Yulia.


“Apa aja tante.” Balas Sarah.


Yulia mengangguk, lalu dia segera pergi untuk membuatkan minuman untuk Sarah, sebenarnya di sana ada ART, hanya saja Yulia lebih suka mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri selagi dia senggang tidak ada kerjaan.


Yulia kembali dengan membawa dua jus jeruk, dia menyajikannya di atas meja.


“Silahkan di minum Sarah.” Ucap Yulia.


“Maaf jadi ngerepotin tante.” Ucap Sarah yang merasa tidak enak karena dia kira yang membuatkan minum adalah ART, tapi ternyata Yulia sendiri lah yang membuatkan minum untuknya.


“Nggak apa-apa Sarah, kamu kan memang tamu yang harus di jamu dengan baik.” Balas Yulia sambil tersenyum ramah seperti biasanya.


Sarah segera meminum minuman yang di sajikan Yulia untuk menghormati Yulia.


“Jadi, ada apa kamu mau ketemu tante?” tanya Yulia yang penasaran setelah Sarah sudah meminum minumannya.


“Saya mau menunjukkan sesuatu kepada tante.” Ucap Sarah.


“Menunjukkan apa?” tanya Yulia sambil mengerutkan keningnya.


Sarah mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dia menunjukkan video Karren yang sedang menari dengan lihainya di bar.


Video itu juga menampilkan Karren yang beberapa kali menegus minuman dan mengobrol dengan Kevin.


Sarah mengambil video itu dari instastory salah satu mahasiswinya sekaligus teman Karren, itu terjadi saat acara ulang tahun teman Karren bulan lalu.


“Ini tan, video yang menunjukkan sifat asli Karren, tante bisa lihat sendiri kan kalau Karren bukan perempuan baik-baik, dia tidak pantas buat Gibran tan, Gibran bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Karren.” Ucap Sarah mencoba untuk memprovokasi.


Yulia melihat video itu dengan mata menajam, wajahnya datar tidak menampilkan ekspresi apapun.


“Sarah...” panggil Yulia dengan pelan.


“Iya tan? Tante pasti kecewa banget kan lihat kelakuan buruk calon menantu tante? Saya juga tan, saya sebagai sahabat Gibran juga tidak rela kalau Gibran mendapatkan istri seperti itu.” Ucap Sarah.

__ADS_1


__ADS_2