
“Bagaimana dok?” tanya Gibran saat dokter yang menangani Karren keluar dari ruang pemeriksaan.
“Nona Karren harus segera di operasi karena air ketubannya sudah pecah, kami akan segera meminta persetujuan wali dan segera melakukan tindakan.” Balas dokter itu.
“Baiklah, lakukan apa pun yang bisa menyelamatkan istri dan anakku.” Ucap Gibran.
Dokter tersebut hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu akhirnya dia segera pergi meninggalkan Gibran untuk bersiap.
Saat itu Key yang baru saja membeli roti dan kopi untuk menantunya itu melihat dokter yang menangani Karren baru saja pergi membuat Key dengan cepat berjalan menghampiri menantunya itu.
“Bagaimana? Apa kata dokter? Apa Karren harus melahirkan sekarang?” tanya Key.
“Iya mam, tadi ada perawat yang meminta persetujuan Gibran karena Karren harus segera di operasi karena ketubannya sudah pecah.” Jelas Gibran.
"Baguslah, sebaiknya kamu makan dulu ini dari tadi kamu sibuk ke sana kemari ga sempet makan." ucap Key sambil memberikan roti dan kopi kepada menantunya.
"Terimakasih mam, tapi Gibran belum lapar."
"Jangan makan setelah lapar, kalo maag gimana?"
"Tapi mam..."
"Gibran, kamu tau mami ga suka di bantah kan?" ucap Key dengan tatapan tajam.
Melihat mertuanya yang sudah memasang wajah seperti itu membuat Gibran seger mengambil roti dan kopi yang di berikan oleh Key lalu segera memakan dan meminumnya sampai habis.
__ADS_1
"Kenapa lama ya mam?" tanya Gibran.
"Lama kamu bilang? Baru beberapa menit yang lalu perawat minta persetujuan operasi, kamu bilang lama?" tanya Key.
"Tapi Gibran ngerasanya lama mam, oh iya udah ngabarin papi dan yang lain?" tanya Gibran.
"Sudah, mereka semua akan segera menyusul kemari." balas Key.
Gibran hanya mengangguk lalu kembali menundukkan kepalanya sambil terus membaca doa untuk keselamatan istri dan anaknya.
Beberapa menit kemudian, Bernard, Darren, Ken dan Andini datang dengan wajah yang panik, mereka semua terkejut saat mendengar kabar dari Key.
"Bagaimana keadaan Karren? Apa dia belum selesai?" tanya Darren kepada Gibran dan Key entah siapa yang akan menjawab lebih dulu.
"Belum selesai, tenang dan duduklah dulu Darren." ucap Key.
Sampai akhirnya dokter yang menangani Karren keluar dengan beberapa perawat, semua orang langsung berdiri dan menghampiri dokter itu untuk bertanya tentang keadaan Karren.
"Bagaimana dok?" tanya Gibran.
"Semuanya baik-baik saja, ibu dan bayinya selamat dan sehat, selamat bayinya perempuan." ucap dokter tersebut.
"Alhamdulillah...." semua orang mengucap syukur dengan tarikan nafas lega.
Gibran di suruh untuk masuk dan me ngadzani putri pertamanya itu, dengan senang hati Gibran berjalan cepat menuju ruang operasi setelah memakai pakaian khusus lalu dia mulai adzan di telinga putri mungilnya itu.
__ADS_1
Karren yang sudah terlihat lemas itu hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air mata bahagianya, dia tidak percaya ternyata melahirkan akan sangat mendebarkan dan mengharukan seperti ini.
"Terimakasih sudah berjuang sayang, aku akan menjaga kalian berdua dengan sangat baik." ucap Gibran sambil terus mencium wajah Karren berkali-kali.
Gibran menggendong bayi mungilnya itu dengan sangat hati-hati, dia juga melakukan skin to skin dengan bayinya.
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Gibran, Karren dan keluarga mereka.
Orang tua Gibran yang sedang berada di luar kota bahkan segera terbang untuk melihat cucu pertama mereka.
"Apa kamu tidak mau memberinya nama sayang?" tanya Karren dengan suara lemah.
"Bolehkan aku menamainya? Bukannya kamu sudah mencari banyak nama?" tanya Gibran.
"Sebaiknya kamu yang memberinya nama, aku tau kamu pasti memilih nama yang terbaik." ucap Karren.
Mendengar hal itu sungguh membuat Gibran senang, pasalnya dari awal mereka menyiapkan nama, Karren bilang dia yang akan menamai anak pertamanya, padahal Gibran juga sudah menyiapkan nama untuk anak pertamanya.
"Kirana Arsyla Mahardika." ucap Gibran dengan lantang.
Karren tersenyum mendengar Gibran menyebutkan nama yang sangat indah untuk putri mereka.
"Kirana? Nama yang cantik." ucap Karren.
"Sama seperti anak kita, dia seperti malaikat yang sangat suci, aku akan sangat menjaganya! Jangan mengajarinya hal-hal di luar batas seperti kamu." tegas Gibran.
__ADS_1
"What? Apa aku selalu seburuk itu di mata kamu?" tanya Karren yang di balas anggukan penuh keyakinan oleh Gibran.
Karren hanya bisa menghela nafas kesal, dia masih belum memiliki tenaga untuk mengajak ribut suaminya itu.