
“Mas, gandeng dong, nanti aku hilang loh..” rengek Karren membuat Gibran terkejut tidak percaya.
“Kamu bukan anak kecil yang harus di gandeng orang tuanya Karren.” Balas Gibran.
Karren yang kesal hanya bisa memanyunkan bibirnya, lalu dia melirik ada laki-laki yang kelihatannya seusia dengan Gibran, dan seketika Karren memiliki ide licik.
“Yaudah kalo gitu aku minta gandeng mas-mas yang di situ aja.” Ucap Karren yang ingin melangkahkan kakinya mau menghampiri mas-mas itu.
Gibran segera menahan Karren dan menatapnya dengan tatapan tajam.
“Kalau kamu melakukan hal itu aku akan meninggalkanmu di sini.” Tegas Gibran.
“Kalo kamu tinggalin aku di sini pasti ada banyak orang yang mau bawa aku.” Balas Karren dengan wajah yang menyebalkan.
Melihat ekspresi wajah Karren yang menyebalkan membuat Karren melotot tidak percaya. Selama ini Gibran pikir hanya teman-temannya lah yang suka bersikap kekanakan, tapi ternyata sikap Karren lebih parah dari mereka.
Rasanya saat ini Gibran lebih cocok di bilang pengasuh anak SD dari pada orang yang sedang pergi menonton dengan wanita dewasa.
Mereka akhirnya sampai di bioskop, Karren segera memesan tiket bioskop dengan film ber-genre romantic-adult. Namun ternyata tiket di jam yang dia inginkan tidak ada dan akhirnya dia memutuskan untuk memesan tiket yang akan di mulai dua jam lagi.
“Aku sudah pesan tiketnya, tapi masih ada waktu dua jam lagi filmnya mulai, kita makan dulu aja ya mas.” Ajak Karren.
Gibran menganggukkan kepala setuju, dia segera berjalan di sebelah Karren, mengikutinya sampai akhirnya mereka tiba di food court yang ada di dalam mall.
Karren memesan beberapa makanan berat dan juga makanan ringan, bahkan dia juga memesan minuman yang manis membuat Gibran heran.
Karena Gibran pikir Karren akan menjaga tubuhnya seperti para selebgram dan artis lainnya, tapi ternyata tidak.
Dan selama makan juga Karren hanya diam saja tidak banyak mengoceh seperti sebelumnya karena Gibran sudah mewanti-wantinya untuk tidak berbuat yang aneh-aneh.
Karren juga tidak memiliki niat untuk melakukan hal yang aneh karena perutnya sudah sangat lapar saat melihat makanan yang sudah di hidangkan di hadapannya.
Gibran tersenyum melihat Karren yang makan dengan lahapnya, bahkan saat makan sepertinya Karren tidak memikirkan masalah berat badannya yang akan naik karena makan terlalu banyak.
“Saya kira kamu hanya makan sayur-sayuran dan buah-buahan.” Ucap Gibran.
__ADS_1
“Kenapa aku harus makan sayur dan buah?” Tanya Karren.
“Yah, bukankah public figure pada umumnya melakukan hal itu? Mereka tidak ingin tubuh mereka jadi gemuk karena makan makanan sembarangan.” Balas Gibran.
“Aku ga suka makan makanan kambing mas, kata mami kalo mumpung masih sehat kita harus makan semua yang kita mau.” Jelas Karren.
“Emang kamu ga takut gendut?” Tanya Gibran.
“Selama olahraga teratur kayaknya ga akan gendut kan? Aku rutin olahraga bareng Darren kok, anggap saja itu pembakaran lemak.” Ucap Karren.
Gibran menganggukkan kepalanya, dia suka dengan cara Karren menjaga tubuhnya, alih-alih memakan sayuran dan menyiksa diri sendiri, Karren lebih memilih untuk berolahraga.
Setelah selesai makan dan mengobrol sedikit, Gibran dan Karren segera bergegas menuju bioskop karena film yang ingin Karren tonton akan mulai 5 menit lagi.
“Kamu mau popcorn?” Tanya Gibran kepada Karren yang sedang melihat ponselnya.
“Hemm, boleh deh mas, tapi satu aja biar romantis makan berdua.” Ucap Karren sambil mengedipkan sebelah matanya.
Gibran hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Karren yang genit kepadanya.
Film pun di mulai, Karren dan Gibran duduk bersebelahan dan mulai focus menonton film yang sudah mulai di putar.
Gibran sebenarnya tidak antusias dan juga tidak tau apa yang sedang di tonton oleh Karren, namun dia masih setia menonton dengan malasnya.
“Nih makanlah.” Ucap Gibran di tengah-tengah film.
“Suapin…” ucap Karren dengan menjanya.
“Karren, kamu bukan anak kecil!” tegas Gibran.
Karren berdecak kesal, lalu akhirnya dengan terpaksa Karren mengambil popcornnya dengan tangannya sendiri, padahal awalnya dia ingin ada adegan romantis di antara keduanya namun ternyata rencananya hancur begitu saja.
Karren kembali menonton film dengan serius karena memang Karren sangat ingin menonton film itu.
Karren menyukai film itu karena dia sangat mengidolakan actor yang menjadi pemeran utama di film itu, sebenarnya Karren ingin menontonnya dengan Darren, tapi sayangnya Darren sudah menonton film itu bersama kekasihnya.
__ADS_1
Akhirnya Karren memberanikan diri untuk mengajak Gibran kalau Gibran tidak mau barulah Karren mengajak Kevin, dan ternyata sebuah keajaiban terjadi karena Gibran mau menemaninya.
Karren melirik sekilas ke arah Gibran, laki-laki itu lebih banyak memainkan ponselnya dan memakan popcorn di bandingkan menonton filmnya.
Dan baru kali inilah Karren sadar kalau Gibran ternyata tidak suka dengan film yang dia pilih.
“Kamu ga suka filmnya ya mas?” Tanya Karren.
“Aku lebih suka nonton film action thriller dari pada romance begini sebenernya.” Balas Gibran.
Karren hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tiba-tiba saja Karren menyenderkan kepalanya di bahu Gibran.
Karren bisa merasakan kalau tubuh Gibran menegang karena hal yang di lakukan Karren. Karren yang merasa apa yang di lakukannya tidak salah pun hanya terus menonton film dengan santai tanpa memperdulikan laki-laki yang menjadi tempat sandarannya sekarang sudah terdiam kaku layaknya patung.
“K-Karren, jangan seperti ini.” Bisik Gibran.
“Kenapa mas? Mereka kok boleh?” ucap Karren sambil menunjuk ke arah dua orang yang sedang duduk di depan mereka.
Gibran melihat ke arah yang di tunjuk oleh Karren, dia melihat ada seorang perempuan yang sedang bersandar di bahu pacarnya dan juga melingkarkan tangannya di lengan sang pacar.
“Itu karena mereka sepasang kekasih, sedangkan kita hanyalah dosen dan mahasiswi.” Ucap Gibran.
“Mereka juga ga akan tau kalo kita dosen dan mahasiswi selama kita ga koar-koar mas.” Balas Karren.
“Tetap saja ini ga pantas Karren, kalau ada mahasiswa yang melihat kita gimana? Bisa-bisa jadi bahan gossip di kampus.” Ucap Gibran.
“Yaudah kalo gitu jadiin aku pacar kamu aja mas.” Karren dengan santainya berbicara sambil melihat ke arah Gibran dengan polosnya dan tersenyum manis.
Gibran semakin kaku mendengar permintaan Karren, Gibran berusaha untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tidak mau membalas tatapan Karren.
Karena Karren tidak mau mengangkat kepalanya, akhirnya Gibran mengangkat paksa kepala Karren dari bahunya dan Gibran segera menggeser tubuhnya sedikit lebih jauh dari Karren.
Karren kesal dan dia hanya bisa memanyunkan bibirnya karena apa yang di lakukan Gibran padanya, Karren menatap tajam ke arah Gibran, entah kenapa walaupun Gibran memang sering menolaknya tapi saat ini Karren merasa lebih kesal di bandingkan biasanya.
Sedangkan Gibran yang sebenarnya sadar kalau Karren sedang menatapnya hanya diam menatap lurus ke arah layar bioskop seolah dia sedang menikmati film yang sedang di putar untuk menghindarai tatapan tajam yang Karren berikan kepadanya.
__ADS_1