
Tanpa Karren sadari, sejak tadi Gibran beberapa kali meliriknya karena dia penasaran apa yang sedang di lakukan Karren di sebelahnya karena sejak tadi Karren tidak bisa diam di kursinya.
Gibran tau kalau Karren sedang berusaha untuk merapihkan penampilannya, tapi Gibran sama sekali tidak berniat untuk membantunya, lagipula apa yang bisa Gibran lakukan untuk membantu?
Mengancingkan kancing kemejanya? Menyuapinya roti? Atau membantunya memakai make up ke wajahnya yang masih dalam keadaan polos itu?
Saat ini kemeja Karren sudah terkancing sepenuhnya, tangannya mulai meraih pouch make upnya yang ada di dalam totebag nya.
Karren mulai memoles wajahnya dengan make up, Karren ingin hari ini dia memakai make up yang simple saja karena waktunya memang sangat mepet.
“Mas, bisa minta tolong lambatin mobilnya bentar ga? Biar aku selesein dulu make upnya sebelum kita sampai kampus.” Ucap Karren tanpa sadar.
Dia melirik ke arah Gibran sekilas lalu kembali meratakan makeupnya. Tubuh Karren mematung seketika setelah menyadari sesuatu.
Mulut Karren ini memang tidak pernah bisa di rem kalau bicara, mungkin mulutnya lupa kalau orang yang sedang berada di sampingnya ini sedang marah padanya.
Dengan perasaan yang takut Karren menoleh ke arah Gibran, lalu dia segera menelan salvilanya dengan susah payah saat melihat Gibran sedang meliriknya dengan tajam.
“Maaf.” Ucap karren dengan lirih.
Gibran kembali menatap ke depan setelah melirik Karren beberapa saat, untung saja mobilnya sedang berada di jalan yang sepi jadi keadaannya tetap aman walaupun pandangan Gibran teralih pada Karren.
“Sekarang saja kita sudah terlambat, bisa-bisanya kamu mernyuruh saya untuk memelankan laju mobil hanya untuk make up.” Ucap Gibran dengan ketus sambil tersenyum sinis.
Karren melirik ke arah Gibran dengan tajam, apa lagi saat melihat wajah menyebalkan Gibran yang sedang tersenyum sinis.
Andai wajahnya tidak ganteng, mungkin Karren sudah menampolnya dengan alasan ada nyamuk di wajahnya.
Karren tidak menggubris ucapan Gibran, dia lebih memilih untuk melanjutkan memoleskan make up ke wajahnya.
“Jangan memakai lipstik warna merah! Kamu seperti drakula yang habis minum darah saja!” ucap Gibran memberi peringatan kepada Karren.
Karren kembali menoleh ke arah Gibran dan menatapnya dengan kesal.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih mas? Sensi banget dari tadi?” ucap Karren dengan kesal.
“Tidak, saya kan hanya memberi saran saja.” Balas Gibran dengan santai.
Gibran sepertinya memang sangat suka membuat mood Karren hancur, rasanya ingin sekali Karren membuang Gibran ke rawa-rawa lalu mengambil alih mobilnya untuk berangkat ke kampus sendiri.
“Nyebelin dasar! Nanti aku pulang sama Darren aja!” ucap Karren.
Ya udah, saya cuma mau kasih tau kalau nanti saya akan memberikan oleh-oleh untuk di bawa pulang, awas saja kalau kamu minta bantuan saya.” Ucap Gibran sambil tersenyum miring.
Oleh-oleh yang di maksud Gibran bukanlah makanan atau benda, oleh-oleh yang di maksud Gibran adalah tumpukan tugas. Gibran memang mengganti namanya dengan sebutan oleh-oleh agar dirinya terlihat seperti dosen yang baik dan dermawan.
“Dasar dosen killer!” gumam Karren dengan kesal.
“Saya masih bisa dengar Karren.” Ucap Gibran.
“Saya juga tidak perduli mas.” Balas Karren.
Gibran lebih memilih untuk fokus ke jalanan, dia sengaja mempercepat laju mobilnya untuk membuat Karren kesal karena apa yang di lakukannya itu berbanding terbalik dari apa yang di minta Karren.
Sedangkan Karren berusaha untuk bersabar dan mencoba melatih skill make upnya agar tetap terlihat bagus meskipun Gibran beberapa kali sengaja mengendarai mobil tidak beraturan, kadang juga Gibran sengaja ngerem mendadak saat jalanan sepi.
Karren benar-benar tidak menyangka kalau Gibran akan bertingkah kekanak-kanakan seperti itu dengan melajukan mobilnya dengan berkelok-kelok demi bisa membuat Karren kesal.
Sampai akhirnya Karren dan Gibran pun sampai di kampus, Karren juga sudah selesai memakai make up dengan baik, keduanya keluar bersama walaupun Karren dan Gibran sama-sama saling kesal tapi mereka tetap berjalan beriringan.
Mata Karren menyipit saat melihat seorang perempuan yang terasa familiar baginya, perempuan itu juga baru keluar dari mobilnya dan ingin berjalan masuk ke dalam kampus.
Jika di lihat-lihat dia seperti Sarah, tapi penampilannya sangat berbeda benar-benar berubah drastis.
Biasanya Sarah akan memakai gamis dan hijab, saat ini perempuan itu memakai baju layaknya dosen hanya saja lebih ketat dengan rambut yang terurai.
“Mas.” Ucap Karren tanpa sadar.
__ADS_1
“Akhirnya kamu ngajak saya bicara juga.” Ucap Gibran sambil tersenyum sinis.
Gibran masih sibuk mengirim pesan kepada teman-temannya, dia tidak melihat ke arah Karren atau ke lain tempat.
Karren malas menanggapi sindiran Gibran padanya, karena apa yang Karren lihat saat ini lebih membuatnya penasaran.
“Perempuan itu beneran bu Sarah kan? Tapi kenapa ga pake kerudung ya?” gumam Karren yang masih bisa di dengar oleh Gibran.
Gibran langsung menoleh, dia terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini, Sarah yang biasanya memakai baju sopan sekarang malah memakai baju yang serba ketat yang sangat menonjolkan lekuk tubuhnya.
Kepala yang biasanya tertutup dengan hijab, sekarang tidak tertutup apapun. Raut wajah Gibran berubah menjadi sendu, dia sangat kecewa dengan perubahan Sarah, sekarang dia tau apa maksud dari ucapan Sarah waktu itu.
“Bu Sarah punya kembaran deh kayaknya.” Gumam Karren yang masih tidak percaya jika perempuan yang dia lihat saat ini adalah Sarah.
“Emangnya kamu pikir dia upin ipin punya kembaran?” ucap Gibran dengan nada sewot dan membuang napas kasar.
Karren kesal dengan jawaban Gibran, sepertinya Gibran memang sengaja mengibarkan bendera perang kepadanya.
“Tau ah gelap! Kalo bisa udah aku tuker tambah kamu sama oppa oppa korea!” ketus Karren yang langsung berjalan mendahului Gibran.
Namun baru beberapa langkah dia berjalan, Karren kembali menoleh ke arah Gibran.
“Aku jalan duluan ke kelas, jangan sampe kamu duluin aku masuk ke kelas!” tegas Karren yang kembali melangkahkan kakinya denga santai.
“Saya mau ke ruangan dulu mengambil sesuatu, kalau kamu jalan santai seperti itu bisa-bisa saya duluan yang sampai ke kelas.” Ucap Gibran sedikit berteriak agar Karren bisa mendengar.
Karren yang mendengar teriakan Gibran hanya bisa mendengus kesal lalu berlari dengan cepat menuju ke kelasnya membuat Gibran tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Karren.
Karren yang sedang berlari seketika memelankan langkahnya, mata Karren melihat sosok yang beberapa hari ini menghindarinya, dia terlihat sedang berjalan menuju kelas dengan langkah yang terlihat cool di mata perempuan yang melihatnya.
Sudut bibir Karren tertarik sedikit, dia terpukau dengan penampilan Kevin yang tidak pernah gagal membuat para wanita mengaguminya.
“Kevin!” teriak Karren.
__ADS_1