
“Aku mau kamu janji dulu kalau kamu bakal pelan-pelan, jangan sampai buat aku kesakitan.” Ucap Karren dengan malu-malu.
Gibran semakin tidak mengerti maksud dari ucapan Karren. Kerutan di dahinya semakin banyak. Setelah otaknya bekerja, barulah dia mulai mengerti maksud dari Karren, matanya melebar tidak percaya.
Jujur saja, melihat pergaulan dan gaya hidup Karren membuat Gibran tidak terlalu berharap akan menjadi yang pertama untuk Karren. Rasa cintanya pada Karren membuat Gibran tidak memperdulikan hal itu.
Gibran menerima Karren apa adanya, jadi saat melihat reaksi Karren yang seperti ini malah membuat keinginan Gibran untuk segera meng unboxing Karren semakin besar.
Gibran bersyukur, karena meskipun pergaulan Karren bebas, tapi dia masih bisa menjaga dirinya.
“Terimakasih sudah menjaganya untuk saya.” Ucap Gibran dengan tulus.
Karren tersenyum dan mengangguk, tangannya menyentuh rahang Gibran dan mengelusnya dengan lembut. Tanpa Gibran mengatakannya, Karren sudah tau apa yang sedang suaminya pikirkan. Dia tidak tersinggung, semua orang mungkin akan berpikiran se[erti itu jika melihat pergaulan Karren.
Semalaman dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu berolahraga di atas tempat tidur yang terasa panas padahal AC sudah mereka nyalakan tapi masih saja tubuh mereka berkeringat cukup banyak setelah beberapa ronde.
Gibran terbangun lebih dulu karena mendengar suara adzan subuh dari ponselnya, suara itu mampu membuat Gibran terbangun karena dia memang sudah terbiasa bangun jam segini.
Meskipun dia baru saja tidur, tapi kalau sudah mendengar adzan dari ponselnya dia pasti akan bangun. Adzan subuh seolah sebagai alarm untuknya.
Jika Gibran bangun sebelum subuh, biasanya dia akan melaksanakan shalat di masjid, tapi karena saat ini dia berada di hotel jadi dia memutuskan untuk shalat di dalam kamar hotel saja.
Gibran mengucek matanya yang sebenarnya masih sangat lengket. Setelah matanya terbuka sempurna, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat saat melihat ada wanita cantik yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
Mulai tadi malam Karren bukanlah anak gadis lagi, dia sudah menjadi seorang wanita seutuhnya, lebih tepatnya wanita milik Gibran.
Saat sedang tidur seperti ini saja Karren terlihat sangat cantik, tak henti-hentinya Gibran mengagumi kecantikan istrinya. Memang benar, tidak ada yang mampu menolak pesona seorang Karren Adibrata.
Gibran yang sebelumnya menolaknya malah sekarang ikut jatuh ke dalam pesonanya, Gibran tidak pernah mengira kalau dirinya akan jatuh pada wanita seperti Karren.
Karena nyatanya wanita seperti Karren sangat jauh dari tipe wanita idamannya. Kalau di tanga tipe idaman Gibran seperti apa, jawabannya adalah seperti Sarah untuk visualnya, tapi tidak dengan sifatnya.
__ADS_1
Sebenarnya dari awal Gibran sudah tertarik kepada Karren, hanya saja dia terus menyangkalnya karena sadar jika wanita seperti Karren bukanlah wanita yang dia inginkan unruk menjadi istrinya.
Gibran tidak sadar jika cinta memang tak ada logika, logikanya memang menolak Karren, tapi hatinya terus menginginkan Karren. Tanpa sadar Gibran sudah melabeli Karren sebagai miliknya karena dia akan marah jika ada laki-laki yang mencoba untuk mendekati Karren.
Godaan dari perhatian yang Karren lakukan secara terang-terangan membuat Gibran merasa memiliki hak untuk melarang Karren dekat dengan laki-laki lain selain dirinya, karena Gibran merasa kalau Karren menyukainya.
Memang sangat egois karena mereka tidak memiliki status hubungan yang jelas, tapi mau bagaimana lagi jika otak dan hati Gibran ternyata tidak selaras.
Gibran tidak bisa memberikan status yang jelas karena logikanya masih menolak Karren, tapi dia juga tidak bisa menahan rasa sesak yang ada pada hatinya saatmelihat Karren berdekatan dengan laki-laki lain.
Terutama Kevin, mantan kekasih Karren. Gibran benar-benar heran bagaimana bisa mereka bisa berteman baik padahal mereka sudah menjadi mantan.
Gibran mengecup kening Karren dengan lembut, bayang-bayang tentang malam pertama mereka tiba-tiba teringat di kepala Gibran membuat Gibran tidak bisa menahan senyumnya lagi.
Kemarin menjadi pengalaman pertama mereka berdua dan rasanya sangat luar biasa, bahkan Gibran sampai menginginkannya berkali-kali.
“Sayang... bangun.” Ucap Gibran pelan sambil membelai pipi Karren dengan lembut.
Namun Karren sama sekali tidak berkutik, dia tidak terganggu dengan elusan Gibran yang ada di pipinya.
Namun Karren tetap tidak berkutik sampai membuat Gibran memutar bola matanya, mungkin saja Karren kelelahan karena pergulatan mereka semalam, tapi tetap saja dia harus bangun untuk shalat subuh.
Karena Karren tidak terusik dengan cara membangunkan Gibran yang lembut, akhirnya dia memakai cara yang sedikit kasar untuk membangunkan Karren.
Gibran mulai menggoyang-goyangkan tubuh Karren dan juga mencubit pipi istrinya itu, dan sekarang barulah Karren mulai berkutik.
“Kamu apaan sih mas? Aku lagi tidur malah di gangguin.” Protes Karren dengan kesal lalu dia kembali menutup matanya setelah mengatakan hal itu.
“Ayo bangun! Sekarang sudah subuh Karren.” Balas Gibran.
“Jangan ganggu aku mas please, aku ngantuk banget kan kita baru banget tidur.” Ucap Karren dengan mata yang masih menutup.
__ADS_1
Gibran yang kesal kembali mencubit pipi Karren dengan lebih keras, dia tidak akan membiarkan istrinya itu kembali tidur.
“Yaampun mas! Baru juga nikah kemarin kamu udah KDRT aja!” ketus Karren yang akhrinya membuka kedua matanya dan menatap ke arah Gibran dengan kesal.
“Makanya ayo bangun.” Sahut Gibran.
“Tapi aku masih ngantuk...” rengek Karren.
“Kita shalat subuh dulu ntar kamu boleh tidur lagi sampe siang juga ga apa-apa.” Balas Gibran.
“Mas, tapi mata aku lengket tuh ga bisa di buka, biarin aku tidur bentar, aku bangunnya nanti aja.” Ucap Karren dengan memasang wajah memelas.
“Kalo kamu bangunnya nanti subuhnya keburu hilang, ayo bangun sekarang! Emangnya kamu ga mau saya imamin?” tanya Gibran.
“Imaminnya nanti aja pas shalat dzuhur.” Balas Karren sambil membalik tubuhnya membelakangi Gibran.
Demi apa pun Karren benar-benar baru tidur beberapa jam yang lalu tapi Gibran sudah membangunkannya.
Namun Gibran tidak mau mengalah, dia menarik tubuh Karren agar kembali terlentang.
“Saya ga akan biarin kamu tidur sebelum kita shalat bersama!” tegas Gibran.
Mendengar ucapan Gibran membuat Karren berdecak kesal, Gibran benar-benar tidak memberinya keringanan sama sekali.
“Iya- iya aku bangun.” Ucap Karren mengalah.
Gibran tersenyum, setidaknya Karren adalah wanita penurut walaupun harus berdebat dulu awalnya.
“Kamu harus terbiasa bangun jam segini, karena saya akan selalu mengajak kamu shalat berjamaah.” Ucap Gibran.
“Tapi kalo aku telat masuk kelas gimana?” tanya Karren.
__ADS_1
“Kamu bisa tidur lagi sebentar setelah shalat subuh, nanti saya yang bangunkan.” Jawab Gibran.
Karren mengangguk pasrah, terserah apa yang Gibran katakan yang penting setelah ini dia bisa kembali tidur karena matanya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.