
“Gibran! Kamu kok malah bengong sih?” protes Yulia yang membuyarkan lamunan Gibran.
“Apaan sih ma, kayak anak kecil aja deh.” Ucap Gibran.
“Ayo anter mama foto bareng, siapa tau setelah foto bareng mama bisa jadi besan dan mertua idaman.” Celetuk Yulia membuat Gibran batuk karena tersedak ludahnya sendiri.
“Engga ah ma, malu tau.” Balas Gibran yang mash berdiri dengan tegap.
Yulia melepaskan tangannya dari lengan Gibran, dia menatap putranya itu dengan tangan yang menyilang di depan dada.
“Kalo kamu ga mau anter mama ketemu sama dia, berarti besok kamu harus bawa calon menantu mama ke hadapan mama.” Ucap Yulia dengan tegas.
Mendengar hal itu membuat Gibran tidak memiliki pilihan lain dan segera mengangguk mengiyakan permintaan sang mama, dari pada dia harus membawa calon menantu yang dia sendiri pun tidak tau siapa, bahkan kandidatnya pun tidak pernah terpikirkan oleh Gibran.
“Yaudah ayo Gibran kenalin.” Ucap Gibran.
Seketika wajah Yulia mendadak sumringah, Yulia segera menarik tangan Gibran agar berjalan dengan cepat, padahal tidak perlu buru-buru juga mereka pasti akan bertemu karena Karren dan keluarganya tidak akan ke mana-mana.
Karren yang sedang tertawa sambil menyirami maminya itu tiba-tiba saja terkejut karena selang yang dia pegang tanpa sengaja mengenai Gibran yang baru saja berdiri di hadapannya.
Untung saja saat itu Yulia berdiri di belakang tubuh putranya yang berukuran lebih besar darinya sehingga Yulia sama sekali tidak terkena cipratan air itu.
“Yaampun mas Gibran! Maafkan aku mas.” Ucap Karren yang langsung melepaskan selang yang dia pegang.
“Karren kamu gimana sih, kena Gibran kan airnya.” Ucap Key menyalahkan Karren.
Gibran hanya tersenyum ke pada Karren lalu menggelengkan kepalanya sambil mengelap wajahnya yang terkena air.
“Tidak apa-apa kok tante.” Ucap Gibran.
“Sebentar mas, aku ambil handuk dulu di dalam.” Ucap Karren yang mau melangkahkan kakinya ke dalam rumahnya.
“Tidak perlu!” cegah Yulia sambil menggenggam tangan Karren yang membuat Karren menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah orang yang sedang memegang tangannya.
Karren tersenyum, namun ekspresi wajahnya menunjukkan rasa penasaran akan siapa orang yang sedang menggenggam tangannya.
“Eh? Iya tante?” tanya Karren.
“Biarin aja Gibran sudah biasa basah kuyup kok, kamu cantik banget sih sayang, namanya siapa?” tanya Yulia sambil mencubit pipi Karren.
Yulia mulai memuji Karren, sedangkan Gibran di dalam hatinya hanya berharap kalau mamanya tidak akan melakukan atau berbicara hal-hal yang aneh.
__ADS_1
“Karren tante..” jawab Karren dengan sopan.
“Saya mamanya Gibran, Yulia.” Balas Yulia.
“Oh mamanya mas Gibran? Karren panggil tante Yulia aja ya tante.” Ucap Karren.
“Panggil mama juga boleh kok...” sahut Yulia sambil tersenyum.
Karren tersipu malu mendengar ucapan Yulia, sedangkan Gibran mencoba untuk menetralkan jantungnya yang berdebar karena takut mamanya berbicara yang aneh-aneh.
“Jadi kamu udah panggil Gibran pake sebutan ‘mas’ nih? Seneng deh tante dengernya.” Ucap Yulia.
Gibran berdehem untuk menyadarkan kedua wanita itu, karena memang ada Key di sana dan saat ini Key di cueki oleh keduanya.
“Waduh aku sampe di cuekin loh...” ucap Key yang berjalan mendekat berdiri di sebelah putrinya.
“Tante, ini mami Karren..” ucap Karren mengenalkan maminya kepada Yulia.
“Key, mbak..” ucap Key sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Yulia, aku pernah melihat wawancara keluarga kalian di tv, tidak aku sangka ternyata putraku bertetangga dengan orang-orang hebat.” Ucap Yulia.
“Yaampun padahal wawancara itu sudah lama tapi masih ada yang ingat saja.” Balas Key.
“Wah,mama tau banyak ya?” tanya Gibran tidak percaya.
“Semenjak lihat berita itu mama jadi ngefans banget sama keluarga mereka Gib, hati mereka bener-bener terbuat dari apa ya sampe sebaik itu.” Ucap Yulia.
“Mama ngefans banget te, jadi dia mau kenalan sama tante dan keluarga.” Ucap Gibran.
“Kalo gitu ayo masuk.” Ucap Key yang mempersilahkan Yulia untuk masuk dan segera berjalan masuk ke dalam rumah karena dia takut kalau rumahnya ternyata berantakan.
Sedangkan Karren, Yulia dan Gibran masih ada di depan rumah karena Yulia masih ingin melihat wajah Karren yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
“Tante mau ketemu sama keluarga aku?” tanya Karren untuk memastikan..
“Iya tante mau melamar kamu buat jadi menantu hehe..” ucap Yulia.
Mendengar hal itu Karren kembali menundukkan kepalanya, dia malu dan juga senang karena ucapan Yulia.
“Apaan sih ma ga usah aneh-aneh deh, mama mau kenal aja sama keluarga kamu kan tadi saya udah bilang kalo mama ngefans sama keluarga kamu.” Tegas Gibran.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Karren yang awalnya memerah karena tersipu malah memerah karena menahan rasa kesal.
“Tante langsung masuk ke rumah aja, mama pasti sudah menunggu tante.” Ucap Karren yang masih berusaha untuk tersenyum manis kepada Yulia.
“Ga apa-apa nih tante masuk? Sama kamu juga yuk.” Ucap Yulia.
“Ga apa-apa tante, Karren masih mau nyiram taneman belum selesai.” Balas Karren.
“Yaudah deh, ayo Gib anter mama ke dalam, mama ga enak masuk sendirian.” Ajak Yulia yang di balas anggukan oleh Gibran.
Yulia dan Gibran segera masuk ke dalam, sedangkan Karren yang masih kesal kembali mengambil selang dan menyiram tanaman yang sebenarnya sudah tersiram semua.
“Ya busuk coy kalo lo siram terus sampe tanahnya becek.” Suara seseorang membuat Karren menoleh ke asal suara.
“Ngapain lo ke sini!?” ketus Karren saat saudara sepupunya datang ke rumahnya dan langsung mengejeknya.
“Sewot amat lu! Gue mau bawa nenek sama kakek keliling, mereka kemaren bilang mau keliling komplek.” Jawab Darren.
“Ga bisa lagi ada tamu di dalem.” Balas Karren.
“Tamu? Siapa?” tanya Darren sambil mengerutkan keningnya.
“Gibran sama nyokapnya.”
“Dih, dia gercep amat udah mau ngelamar lo?” tanya Darren yang semakin membuat Karren kesal.
“Jangan ngomong kayak gitu bisa ga sih! Kesel banget denger kata ngelamar gue!” ketus Karren.
“Lo kerasukan Ren? Biasanya juga semangat banget kalo ada Gibran, lah dia mau ngelamar kok lo malah kesel?”
“Gue kesel sama Gibran, udah tau gue lagi terbang tinggi, eh malah di jatohin gitu aja!” ketus Karren.
“Emang dia jatohin lo ke mana sampe lo kesel gitu?”
“Tadi nyokapnya bilang kalo dia ke sini mau ketemu keluarga kita buat ngelamar gue, ya gue tau kalo itu cuma bercanda, tapi tetep aja seneng. Eh, si Gibran malah bilang jujur kalo nyokapnya ke sini gara-gara ngefans sama keluarga kita karena pernah melihat waktu wawancara di tv gitu.” Jelas Karren.
“Hahaha, lo aja yang terlalu berharap Ren.” Ejek Darren.
“Sialan lo!” ketus Karren sambil mengarahkan selang yang dia pegang ke arah Darren sampai Darren langsung berlari kabur kembali ke rumahnya.
Karren kembali melihat ke dalam rumah, dia bisa melihat Gibran dan Yulia yang sedang mengobrol bersama keluarganya, Gibran juga membantu mamanya untuk berfoto bersama keluarganya.
__ADS_1
Tidak lupa, Yulia juga kembali ke luar rumah lalu tiba-tiba merangkul lengan Karren dan meminta Gibran untuk memotret mereka berdua membuat Karren terkejut namun dia juga tersenyum manis ke arah kamera walaupun sedang kesal dengan orang yang memegang ponselnya.