
Gibran terus memantau istrinya, dia ingin memastikan kalau Karren tidak akan memasukkan bikini ke dalam tas yang dia bawa.
Lagi pula mereka akan pergi ke pantai yang berada di Malang, baju renang yang di pakai pengunjungnya tidak terlalu terbuka seperti di Bali, malah Gibran tidak pernah melihat ada orang yang memakai bikini di pantai Malang.
Niat Karren untuk mandi yang tadinya sempat hilang, sekarang muncul lagi saat tahu kalau dirinya sebentar lagi akan ke pantai. Setelah mandi dia memakai dress pantai yang sudah dia persiapkan lalu memoleskan make up tipis di wajahnya, tidak lupa juga Karren memasukkan kamera milik Gibran, sunblock dan kacamata ke dalam tasnya.
“Naik motor aja mas, biar seru.” Pinta Karren setelah mereka berdua sudah siap.
Karren berani mengajak Gibran naik motor karena udaranya memang tidak panas, sedangkan Gibran langsung melotot tidak setuju dengan permintaan Karren.
“Nggak! Kita pakai mobil aja lagian kamu juga pakai dress, nggak mungkin kita naik motor dengan penampilan kamu yang seperti itu.” Tegas Gibran.
Karren memanyunkan bibirnya sebal, tapi dia tetap menurut karena dia tidak mau Gibran membatalkan acara ke pantai karena Karren membantah ucapan Gibran.
Saat Karren dan Gibran keluar, Karren di kejutkan dengan mobil sport berwarna merah yang sudah terparkir di depan rumah.
“Itu mobil siapa mas?” tanya Karren penasaran.
Pasalnya mobil mewah yang ada di depannya saat ini adalah mobil yang sangat di inginkan Darren, karena Darren adalah kolektor mobil mewah yang tidak pernah ketinggalan jaman.
“Mobilku.” Jawab Gibran dengan santai lalu berjalan menghampiri mobilnya.
“Hah?” Karren melongo dengan mata yang terbuka lebar.
“Aku sengaja taruh mobil ini di sini buat jalan-jalan kalau lagi liburan ke sini.” Jelas Gibran.
__ADS_1
Karren masih mematung di tempatnya, padahal Gibran sudah masuk ke dalam mobil, laki-laki itu mulai membuka atap mobil. Dia memang lebih suka jalan-jalan dengan mobil itu karena dia bisa merasakan udara dingin dengan leluasa.
“Karren? Ayo!” panggil Gibran yang membuat Karren tersadar dari lamunannya.
Karren mengangguk lalu dia segera menghampiri Gibra dan masuk ke dalam mobil.
Mobil mereka mulai menyusuri jalanan kota batu. Pemandangan gunung yang indah dan persawahan berhasil membuat Karren takjub. Dia berdiri merentangkan tangannya saat mobil Gibran melewati jalan sepi.
Udara dingin langsung menerpa tubuh Karren yang hanya menggunakan dress berlengan pendek.
“Jangan seperti itu Karren, nanti kamu masuk angin!” tegas Gibran memberi peringatan.
Karren mengangguk lalu kembali duduk, dia juga mengingat kalau saat ini dia sedang hamil muda. Akhirnya Karren memilih untuk mengikuti alunan lagu yang sedang di putar.
Gibran tersenyum senang karena melihat Karren bahagia seperti itu, rasanya senyuma Karren selalu menular hingga membuatnya ikut tersenyum.
“Aku udah punya mobil ini sebelum aku kenal sama kamu.” Jawab Gibran sambil melirik Karren sekilas.
Karren hanya menganggukkan kepalanya, Karren berencana untuk memotret mobil Gibran dan mengirimkannya kepada Darren agar dia merengek kepada orang tuanya untuk di belikan mobil seperti itu.
Wajah Karren semakin sumringah saat melihat pantai yang akan dia kunjungi sudah terlihat, tidak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Di sana ada banyak orang yang berkunjung mungkin karena memang musim liburan.
Karren memakai kacamata dan topi yang baru dia beli di pinggir jalan tadi, dia menggandeng tangan Gibran menuju pintu masuk karena ada banyak pasang mata yang sedang menatap mereka.
Mungkin banyak yang menyadari kalau orang yang saat ini berada di hadapan mereka adalah Karren Adibrata, selebgram sekaligus model yang sudah memiliki nama. Yang saat ini sudah tobat setelah mendapatkan pawang seperti Gibran Mahardika.
__ADS_1
Lirikan ibu-ibu dan para remaja wanita pada Gibran membuat Karren semakin mengeratkan genggamannya di tangan Gibran, dia takut kalau Gibran di culik tante-tante dan dedek-dedek girang itu kalau Karren lengah menjaga Gibran.
Sebelum menceburkan diri ke dalam air, Karren meminta Gibran untuk memotretnya lebih dulu. Karena memang dasarnya model, Karren berpose dengan sangat lues dan percaya diri. Gibran pun semangat mengambil foto sang istri yang terlihat sangat cantik itu.
Setelah foto sendiri, Karren meminta tolong kepada pengunjung di sana untuk memotret dia dan Gibran. Karren tau kalau Gibran sangat kaku saat di foto jadi Karren sengaja mengarahkan gaya suaminya itu.
Gibran menurut saja berharap agar pemotretan dadakan itu akan segera selesai karena dia memang kurang bersahabat dengan kamera.
Setelah di rasa sudah ada banyak foto yang mereka dapatkan, Karren segera menceburkan dirinya di air setelah mengganti baju dengan celana pendek selutut dan kaus, dia juga tidak lupa mengoleskan sunblock ke kulitnya lebih dulu.
Seorang Karren Adibrata yang selalu berpenampilan seksi itu sekarang sedang memakai celana selutut dan kaos polos? Siapa yang menyangka dia akan seperti itu kalau bukan karena Gibran, dan Karren hanya menurut saja.
Gibran ikut menceburkan tubuhnya di dalam air, dia juga sudah berganti baju dengan kaos dan celana pendek. Mereka berdua mulai berenang berdua, sesekali Gibran melirik ke arah tas mereka untuk memastikan kalau tas mereka masih berada di tempatnya.
Karren dan Gibran sengaja memilih tempat yang sepi untuk berenang, mereka hanya berenang berdua di tempat itu dan hal itu membuat Karren semakin agresif, wanita itu sesekali memeluk tubuh Gibran, mencium pipinya dan naik di punggung Gibran minta di gendong.
Gibran tersenyum melihat wajah bahagia yang terpancar di wajah istrinya yang saat ini sedang menyipratkan air padanya. Gibran dengan cepat maju mendekati Karren dan memeluk tubuh istrinya itu dengan erat agar Karren tidak bisa kabur.
“Teruslah bahagia seperti ini biar aku ga merasa gagal menjadi imam kamu.” Ucap Gibran tepat di telinga Karren.
Karren menghentikan tawanya, dia langsung berbalik dan melingkarkan tangannya di leher Gibran dan senyum manis terukir di wajah cantiknya itu.
“Bukan kamu aja yang bertugas buat bahagiain aku mas, aku juga bertugas untuk bahagiain kamu, kita akan sama-sama saling membahagiakan, terutama kita harus sama-sama membahagiakan calon anak kita.” Bisik Karren yang membuat Gibran mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Maksudnya?” tanya Gibran.
__ADS_1
Karren hanya tersenyum sambil mengangguk menjawab kebingungan suaminya, Gibran yang baru peka pun langsung menganga tidak percaya, matanya mulai memerah seperti ingin menangis lalu dia memeluk tubuh Karren dengan sangat erat.
“Terimakasih sayang, terimakasih, aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu dan anak kita.” Ucap Gibran.