DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 35 (AKTING 2)


__ADS_3

“Temani aku di sini dulu sebentar, jangan masuk ke kelas dulu.” Ucap Karren dengan wajah yang memelas.


“Maaf Karren, saya ga bisa nemenin kamu di sini karena saya sudah terlambat.” Ucap Gibran yang membuat Karren kecewa.


Gibran terus melirik jam tangannya beberapa kali dengan gelisah karena jam terus berjalan dan kelas yang harusnya sudah di mulai sejak beberapa menit yang lalu.


Lalu tiba-tiba saja Karren memeluk lengan Gibran dengan erat agar Gibran tidak bisa pergi.


Sedangkan Gibran terkejut dengan apa yang di lakukan Karren padanya, jantungnya berdegup kencang saat lengannya di peluk oleh Karren.


Berdekatan dengan Karren memang tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


“Lepaskan tangan saya Karren, ini di kampus jangan bertindak berlebihan.” Ucap Gibran.


Namun Gibran sama sekali tidak berusaha untuk menarik tangannya, Gibran memilih untuk menunggu Karren melepaskan tangannya sendiri.


Tapi bukannya melepaskan pelukannya, Karren malah semakin mengeratkan pelukannya di lengan Gibran, bahkan kepalanya dia sandarkan di bahu kekar Gibran.


“Ke kelasnya bareng aku aja mas, kalau aku jalan sendirian terus pusing lagi gimana coba?” ucap Karren dengan wajah memelas.


Gibran menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, saya akan menunggu sampai pusing di kepalamu hilang.” Ucap Gibran yang akhirnya mengalah.


Mendengar hal itu membuat Karren tersenyum senang karena Gibran mau menemaninya dan dia bisa mengulur waktu lebih lama lagi.


“Terimakasih mas, jadi makin sayang deh sama kamu.” Ucap Karren tanpa merasa malu sedikitpun.


Gibran yang merasa tersipu langsung memalingkan wajahnya menutupi pipinya yang mungkin sudah mulai memerah, Gibran merasa tidak percaya karena di usianya yang sudah tidak muda lagi itu bisa-bisanya tersipu hanya karena ucapan gadis seperti Karren yang sama sekali jauh dari tipe wanita idamannya.


Sampai beberapa menit berlalu, Karren merasa kalau Darren pasti sudah selesai dengan urusannya dan dia segera menegakkan kepalanya yang tadi menyender di bahu Gibran.


“Kepalaku sudah tidak pusing lagi mas, ayo kita ke kelas.” Ajak Karren sambil tersenyum manis ke arah Gibran.


“Yakin udah ga pusing lagi?” tanya Gibran dan di balas anggukan oleh Karren.


Gibran mengangguk dan membantu Karren untuk berdiri, setelah Karren sudah berdiri di luar mobil, barulah Gibran menutup pintu mobilnya dan di kuncinya kembali.


“Ayo.” Ucap Gibran yang mau berjalan mendahului Karren.

__ADS_1


Namun siapa sangka kalau Karren tiba-tiba saja memeluk lengan Gibran membuat Gibran terkejut dan langsung menghentikan langkahnya.


“Karren, apa yang kamu lakukan?” tanya Gibran.


“Kenapa mas?” tanya Karren tanpa rasa bersalah sama sekali.


“Ya, kamu kenapa meluk lengan saya? Ini kampus Karren, kamu ga bisa melakukan hal seperti ini di sini.” Ucap Gibran.


“Tapi aku takut pusing lagi mas, nanti aku pingsan gimana?” tanya Karren dengan wajah memelas.


“Tapi tidak seperti ini caranya.” Tegas Gibran.


“Lalu gimana caranya mas?” tanya Karren dengan senyum yang penuh pikiran kotor.


“Kamu jalan di depan, biar saya mengikutimu dari belakang, jadi kalo kamu pingsan tiba-tiba aku akan segera menangkapmu.” Ucap Gibran.


Mendengar ucapan Gibran membuat Karren kesal, dia langsung memanyunkan bibirnya dan segera berjalan di depan Gibran dengan kedua tangan yang di silangkan di dadanya.


Padahal Karren pikir Gibran akan menggendongnya lagi sampai di kelas, tapi ternyata pikirannya salah! Gibran memanglah dosen killer yang tidak peka.


Sampai akhirnya Karren melihat pemandangan yang sangat menyebalkan, bagaimana tidak? Saat itu Karren melihat Darren sedang bercanda dan tertawa riang dengan seorang perempuan yang sepertinya mahasiswi baru di kampusnya.


Karren segera mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk angka dua dan mengarahkannya ke kedua matanya lalu beralih menunjuk ke arah Darren.


Sedangkan di sisi lain, mahasiswi yang tadi menjadi teman berbicara Darren terus memanggil namanya karena Darren sudah tidak fokus berbicara dengannya.


“Kak? Kak Darren?” ucap mahasiswi itu sambil menggoyangkan lengan Darren.


“Ah sorry, gue kayaknya harus masuk kelas.” Ucap Darren yang segera masuk ke dalam kelas dan meninggalkan mahasiswi yang tadi menjadi teman mengobrolnya.


Sedangkan Karren terus berjalan ke arah kelas dan masuk ke dalam tanpa memperdulikan Gibran yang dari tadi berjalan di belakangnya.


Sebenarnya Gibran merasa aneh karena Karren terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun, namun dia tidak memperdulikan hal itu dan tetap masuk ke dalam kelas karena dia sudah terlambat hampir setengah jam.


Pelajaran pun di mulai, Gibran mulai menerangkan dan para mahasiswanya juga mulai mendengarkan dengan serius tanpa berbicara sedikit pun begitu juga dengan Karren. Karena saat pertama kali masuk ke dalam kelas, Gibran sudah memberi peringatan kepada para mahasiswanya untuk memperhatikannya dengan serius karena di akhir kelas akan ada pertanyaan random yang di lontarkan.


Saat menerangkan materi perkuliahan, Gibran bisa melihat dengan jelas beberapa mata mahasiswa laki-lakinya sedang menatap Karren dengan tatapan kagum.


Memang Gibran akui, hari itu Karren terlihat sangat cantik entah apa yang berbeda padahal Karren memakai pakaian yang memang biasa dia pakai, tapi di mata Gibran hari itu Karren sangatlah cantik.

__ADS_1


sedangkan Karren sama sekali tidak perduli dengan tatapan para laki-laki yang ada di sekitarnya, dia hanya menatap ke arah Gibran yang terlihat tampan saat sedang menjelaskan materi.


Gibran memberikan beberapa pertanyaan dan juga tugas tertulis kepada mahasiswanya, namun perhatian Gibran sama sekali tidak teralihkan dari Karren yang saat ini sedang fokus mengerjakan tugasnya.


Sedangkan di sisi lain, Darren terus melirik ke arah Karren yang hanya diam saja dan itu membuat Karren menjadi menyeramkan.


Hal itu membuat Darren jadi takut untuk mendekati Karren.


Darren memang mengakui kalau dia salah karena tidak memberitahu Karren kalau urusannya di toilet sudah selesai.


Tapi ponselnya memang tertinggal di dalam mobil jadi dia tidak bisa menghubungi Karren.


Dengan ragu akhirnya Darren memberanikan diri untuk mendekati sepupunya itu.


"Ren..." panggil Darren dengan nada takut.


Mendengar namanya di panggil membuat Karren melirik tajam ke arah Darren lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


"Ren, lo jangan kayak gini dong, gue jadi takut nih.." ucap Darren.


"Lo siapa?" tanya Karren dengan nada yang menyebalkan.


"Apaan sih lo Ren ga lucu banget!" balas Darren.


"Gue ga kenal sama lo!" ketus Karren.


"Ren, sorry banget Ren gue ga ngabarin lo kalo urusan gue udah selesai." ucap Darren dengan penuh penyesalan.


"Ya gue tau lo pasti sibuk menggoda cewek-cewek kan?" balas Karren.


"Engga Ren, ponsel gue ketinggalan di mobil." balas Darren.


"Gue kesel banget sama lo Ren! Gue udah mati-matian buat ngalangin Gibran, lo malah enak-enakan ngobrol sama cewek!" ketus Karren.


"Ren serius itu gue juga baru selesai urusannya terus ga sengaja ketemu sama mahasiswi tadi dia langsung ngajak gue ngobrol, ya akhirnya gue ladenin padahal awalnya gue mau ke mobil ambil ponsel." jelas Darren.


"Terserah deh! Pokoknya lo harus bayar gue banyak sih buat hal ini." ucap Karren.


"Siap! Gue bakal traktir apapun yang lo mau di kantin." ucap Darren yang di balas anggukan oleh Karren.

__ADS_1


Walaupun Karren tidak kekurangan uang jajan, tapi kalau ada yang gratisan kenapa tidak? Hahaha...


__ADS_2