
“Lihat pakaian yang kamu pakai sekarang! Bukankah saya sudah mengingatkan kamu berkali-kali kalau saya tidak suka melihat kmu berpakaian seperti itu.” Ucap Gibran menggebu-gebu.
“Lihat rok pendek itu, dan juga kemeja dengan dua kancing terbuka? Kamu sebenarnya ingin ke kampus apa ke bar hah!?” ketus Gibran dengan tatapan sinisnya.
Karren berusah sebisa mungkin untuk menahan emosinya agar tidak ikut tersulut, ini lah yang tidak dia sukai dari Gibran, dia terlalu mengatur cara berpakaian Karren dan selalu protes dengan apapun yang Karren pakai.
Awalnya Karren pikir sifat posesif Gibran menggemaskan, tapi semakin ke sini malah semakin menyebalkan membuat Karren merasa tidak nyaman.
“Aku pakai baju kayak gini atas keinginanku mas, kamu ingat kan aku pernah bilang kalau aku akan melakukan apapun yang aku inginkan tanpa perduli dengan reaksi orang lain terhadapku.” Ucap Karren.
“Selama ini ga ada yang pernah melarangku memakai pakaian seperti ini, termasuk orang tuaku jadi aku mohon sama kamu, tolong berhenti mengatur cara berpakaianku.” Lanjutnya.
“Saya hanya mengingatkan kamu saja karena kamu sebentar lagi akan menjadi tanggung jawab saya.” Ucap Gibran.
“Lupain itu! Aku pikir kita memang ga cocok, benar kata Darren kalau kamu itu terlalu benar buat aku yang selalu salah!” ucap Karren yang tersulut emosi bahkan sampai matanya berkaca-kaca.
“Karren kamu ini ngomong apa!” bentak Gibran sedikit keras.
Rahang Gibran mengeras, dengan tangan yang mengepal dan tatapan tajamnya kepada Karren membuat Karren sedikittakut.
Karren langsung mengalihkan pandangannya, dia berusaha untuk tidak terintimidasi dengan tatapan tajam Gibran itu.
“Aku mau ke kelas dulu.” Ucap Karren tanpa menatap ke arah Gibran.
Entah kenapa tatapan Gibran saat itu seperti orang yang sedang kerasukan, dan ruangan Gibran tampak seperti ruang untuk eksekusi.
“Tidak akan aku ijinkan sebelum kamu mengancingkan kemeja kamu!” tegas Gibran.
Karren yang semakin kesal memberanikan diri untuk menatap balik Gibran dengan tatapan tajamnya.
“Aku tidak akan mengancingkan kemeja ini!” tegas Karren.
“Karren!”
__ADS_1
“Tolong berhenti mengomentari cara berpakaianku mas, kamu ini dosen bukan penata busana!” ketus Karren yang berusaha untuk berdiri dan berjalan menuju pintu, namun dengan cepat Gibran menggenggam tangan Karren.
Karren yang di genggam tangannya berusaha untuk melepaskannya, tapi bukannya di lepas Gibran malah mendorong Karren ke sudut tembok dengan cukup keras membuat Karren meringis saat merasakan sakit di punggungnya.
Awalnya Karren sangat ketakutan, tapi dia berusaha untuk terlihat berani di hadapan Gibran yang saat ini berada di depannya.
“Kancingkan Karren!” ucap Gibran memerintah dengansuara yang pelan namun penuh dengan penekanan.
Wajah Gibran saat ini berada hanya beberapa centimeter saja dari wajah Karren, sedangkan Karren tersenyum miring seperti menantang Gibran.
“Kenapa ga kamu aja yang ngancingin kemejaku?” tanya Karren dengan berani.
“Jadi kamu menantang saya? Kamu pikir saya tidak beran?” tanya Gibran yang membalas senyuman miring Karren.
Mendengar ucapan Gibran membuat Karren membeku, dia tidak percaya jika Gibran akan seberani ini.
Brak!! Tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam ruangan Gibran membuat Gibran dan Karren refleks menoleh ke arah pintu dan melihat pelaku yang membuka pintu ruangan Gibran.
“Astagfirullah! Gibran, Karren, apa yang kalian lakukan?” teriak Yulia yang membuat Gibran melepaskan tangannya dari kancing kemeja Karren.
Tubuh Karren saat ini panas dingin, dia masih terkejut sampai tidak bisa melakukan apapun selain berdiri tegak dengan tubuh yang kaku seperti patung.
“Ma,, ini.. tidak seperti yang mama kira.” Ucap Gibran berusaha untuk menjelaskan.
“Kalian sudah sejauh ini?” sahut Yulia yang tidak mendengarkan ucapan putranya, dia hanya menoleh ke arah Gibran dan Karren secara bergantian.
Karren menggelengkan kepala, mulutnya kelu tidak bisa mengeluarkan suara.
“Karren kamu harusnya bilang ke tante kalo kamu dan Gibran punya hubungan khusus, pantas saja dia tidak pernah mau kalau tante kenalkan dengan anak tante, ternyata dia sudah punya tambatan hati.” Ucap Yulia sambil menatap Karren dengan lembut.
Karren hanya bisa menggelengkan kepalanya, entah kenapa mulutnya yang biasanya cerewet ini tidak bisa berkata-kata.
“Baiklah, karena kalian sudah sejauh ini maka pernikahan kalian akan di adakan secepatnya, mama tidak mau kalau kalian melakukan hal yang tidak-tidak sebelum menikah!” tegas Yulia sambil memberikan tatapan mengintimidasi ke arah Gibran dan Karren.
__ADS_1
Karren melotot, dia tidak setuju dengan yang di katakan Yulia, namun Gibran malah berdiri santai, keinginan untuk menjelaskan kepada mamanya tentang apa yang terjadi tadi seketika hilang begitu saja.
“T-tante, sebenarnya ini tidak...” Karren berusaha untuk bersuara namun belum selesai kata-katanya Yulia sudah menyela lebih dulu.
“Kamu tenang saja Karren, dalam waktu dekat ini keluarga kami akan segera mengunjungi rumah orang tuamu untuk melamarmu.” Ucap Yulia.
“Tapi tante..”
Yulia tiba-tiba menggenggam tangan Karren dengan lembut membuat kata-kata Karren terpotong lagi.
“Tante tidak ingin Gibran mengambil kesempatan padakamu di saat kalian belum menikah, nanti kamu yang akan di rugikan sayang..” jelas Yulia dengan lembut.
Mendengar ucapan Yulia membuat Karren tidak percaya, dia hanya bisa berharap kalau semua yang terjadi hanyalah mimpi.
“Kalo gitu mama pergi dulu ya mama akan bicarakan hal ini kepada papa kamu dan orang tua Karren.” Pamit Yulia lalu segera keluar dari ruangan Gibran.
“Tante, tunggu!” teriak Karren yang berusaha untuk menghentikan Yulia dan menjelaskan kepadanya, namun Yulia tidak menghentikan langkahnya.
Karren menunduk lesu, dia takut kalau papi dan maminya akan mengusirnya dari rumah karena kesalah pahaman ini, Karren tidak mau di ungsikan ke tempat nenek buyutnya berada.
Walaupun di luar negri dan hidup enak, tapi nenek buyutnya itu sangatlah cerewet melebihi maminya.
“Aaarrgghh ini semua gara-gara kamu mas!” ketus Karren sambil menatap kesal ke arah Gibran yang sepertinya biasa-biasa saja.
Tanpa Karren dan Gibran ketahui, saat ini Yulia sedang bersorak gembira, dia berjalan menuju mobilnya dengan senyum yang merekah bahkan sesekali dia melompat-lompat layaknya anak kecil.
Awalnya dia ke kampus untuk memberikan makan siang kepada Gibran karena kebetulan Yulia sedang berada di kota itu, namun ternyata dia malah mendapatkan rejeki nomplok.
Marah yang di tunjukkan tadi hanyalah akting belaka, karena Yulia ingin secepatnya memiliki menantu. Yulia tau kalau apa yang tadi dia lihat hanya kesalah pahaman saja karena Yulia sangat mengenal putranya yang tidak akan melakukan hal di luar batas.
“Lalalala, asik dapat mantu, dapat mantu.” Ucap Yulia dengan girang.
Tanpa sengaja pemandangan Yulia yang sedang senang itu tertangkap oleh mata Sarah yang sedang berjalan di koridor sambil melihat ke arah parkiran mobil.
__ADS_1
“Tante Yulia kan? Ngapain tante Yulia di sini?” gumam Sarah namun dia tidak ada niatan untuk menghampirinya karena Yulia juga sudah masuk ke dalam mobilnya.