DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 43 (BEKAL)


__ADS_3

Jam mengajar pun akhirnya selesai, Gibran kembali memikirkan ucapan Sarah saat di ruangannya tadi, jam makan siang kali ini Gibran habiskan di dalam ruangannya dengan


merenung memikirkan gosip yang sedang beredar.


Dia lebih memikirkan pandangan orang-orang terhadap Karren di bandingkan dengan image nya sendiri. Dia tidak menyangka orang lain akan berpikiran seburuk itu kepada Karren. Walaupun baru saja mengenal Karren tapi Gibran yakin kalau Karren tidak seburuk yang di pikirkan orang-orang.


Image seksi Karren memang membuatnya selalu terlihat menggoda sekalipun dia tidak berniat menggoda, Karren juga terlalu ramah jadi membuat orang-orang mengira Karren suka menggoda laki-laki padahal memang begitulah sifatnya.


Setelah memikirkan hal ini dengan cukup lama, akhirnya Gibran memutuskan kalau menjauhi Karren adalah hal yang paling tepat untuk saat ini, Gibran melakukan ini bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk Karren.


Gibran tidak ingin orang-orang berpikir kalau Karren mendapatkan nilai bagus karena menggodanya, padahal Karren sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan nilai bagus.


Karena Gibran akan tetap profesional dalam masalah nilai, walaupun mereka dekat Gibran bisa memastikan kalau dia tidak akan memberikan nilai bagus dengan alasan hubungan dekat.


Tok,, tok,, tok.. Ketukan pintu menyadarkan pikiran Gibran yang masih memikirkan tentang Karren.


“Masuk.” Teriak Gibran mempersilahkan orang yang ada di depan ruangannya masuk ke dalam.


Seseorang membuka pintu lalu memasukkan kepalanya ke dalam sambil tersenyum manis.


“Assalamualaikum mas...” ucap Karren dengan senyuman manisnya seperti biasa.


Gibran yakin kalau Karren juga sudah mendengar gosip tentang mereka berdua, tapi Karren masih saja bersikap seperti biasanya dan sama sekali tidak terpengaruh dengan gosip tersebut.


“Waalaikumsalam... Bukannya saya sudah bilang kalo di kampus jangan panggil saya ‘mas’! Kalau bisa jangan memanggil saya seperti itu lagi, kamu harus lebih sopan pada saya!” tegas Gibran.


Gibran sudah bertekad untuk membuat Karren menjauh dengan sendirinya.


Sedangkan mendengar ucapan dingin Gibran membuat senyum Karren perlahan memudar, Gibran memang galak dan Karren seringkali mendengar kata-kata ketusnya, tapi kali ini berbeda, Gibran sangat dingin membuat Karren sedikit takut.


“Maaf pak.” Ucap Karren dengan sopan.


“Ada apa kamu ke sini?” tanya Gibran.


“Aku.. Eh, saya bawain makan siang buat bapak, ini dari mami saya.” Jawab Karren sambil menyodorkan tempat bekal yang dari tadi dia pegang.

__ADS_1


“Hari ini saya akan makan siang bersama Sarah, jadi bekal itu buat kamu aja.” Ucap Gibran dengan nada dingin.


Karren menganga mendengar jawaban dari Gibran, benar-benar tidak seperti Gibran yang kemarin pergi menonton dengannya.


Entah kenapa Gibran tiba-tiba berubah, apa dia melakukan kesalahan? Atau apa? Karren juga tidak tau alasan perubahan sikap Gibran saat ini.


"Ini titipan dari mami saya buat bapak, jadi saya akan tetap menaruhnya di sini, terserah bapak mau di makan atau di buang intinya saya sudah menyampaikan titipan mami saya." ucap Karren.


"Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum." Sambung Karren yang langsung keluar dari ruangan Gibran dengan perasaan yang kecewa.


Karren seketika mengingat bagaimana perjuangannya bangun lebih pagi untuk membantu maminya memasak dan menyiapkan bekal makan siang untuk Gibran.


FLASHBACK


Adzan subuh berkumandang, seperti biasa Karren akan bangun dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Namun yang berbeda kali ini adalah, Karren yang biasanya akan tertidur lagi sekarang malah segera mencuci wajahnya dan berjalan ke luar kamarnya menuju dapur.


Melihat putri semata wayangnya turun ke dapur di jam segitu membuat Key terkejut, bahkan sampai mematung di tempatnya.


"Mam, aku mau membantu mami memasak." jawab Karren yang membuat Key semakin shock.


"What!? K-kamu lagi mimpi ya? Sayang kalo ada yang sakit bilang mami ya jangan di pendam sendiri." ucap Key sambil memeriksa keadaan putrinya.


"Ih mami apaan sih, Karren beneran mau bantu mami masak, kan selama ini Karren juga sering bantu mami." balas Karren.


"Mami tau, tapi kamu ga pernah bantuin mami masak buat sarapan Ren, jujur sama mami ada apa?" tanya Key dengan wajah penasaran.


"Sebenernya Karren mau bikinin bekal makan siang buat mas Gibran mam, kemarin Karren lihat mas Gibran di bawain bekal sama salah satu dosen wanita yang menyukainya." jelas Karren sambil malu-malu.


Mendengar ucapan Karren membuat Key tersenyum, dia paham maksud dari putrinya, dan tentu saja Karren juga tidak ingin putri semata wayangnya kalah dalam memperebutkan Gibran sang menantu idaman.


“Kalo begitu ayo kita segera masak makanan yang enak untuk calon menantu mami.” Ucap Key dengan bersemangat.


Karren tersenyum senang, dia bersemangat dan segera memakai apron untuk melindungi pakaiannya dari minyak yang akan membekas di pakaiannya.

__ADS_1


“Tapi mam...” ucap Karren yang membuat Key menoleh ke arah Karen.


“Apa lagi Karren?” tanya Key.


“Aku malu kalau tiba-tiba bawain makan siang buat mas Gibran mam..” ucap Karren.


“Ya, kalo gitu kamu bilang aja bekal ini dari mami, dia juga ga akan nolak deh kalo pemberian mami.” Sahut Key memberi ide.


“Ah mami benar! Kalo gitu ayo kita mulai mam.” Ajak Karren yang kembali bersemangat.


Akhirnya mereka berdua mulai memasak berbagai macam menu makanan, dan tentu saja hasilnya sangat enak karena Key sudah jago memasak sejak usianya masih kecil.


Key memang tidak seperti maminya yang masih memikirkan tentang mengajari putrinya untuk memasak sejak dini, Key lebih membebaskan Karren karena jaman sekarang anak-anak tidak bisa di paksa.


Namun Key tetap memberikan nasihat dan tetap mengajari karren memasak dan mengurus pekerjaan rumah sesekali.


Sampai akhirnya mereka berdua selesai memasak dan Karren segera mengambil tempat bekal dan mengemas makanan untuk Gibran.


Karren terus memeluk tempat bekal itu bahkan saat dia mandi pun tempat bekal itu di bawa ke dalam kamarnya.


“Sebenarnya apa yang terjadi kepada Karren? Kenapa dia membawa tempat bekalnya ke sana ke mari?” tanya Bernard yang sama sekali tidak mengetahui apapun.


“Dia buatin bekal untuk Gibran, bahkan sampai tidak tidur habis sholat loh.” Balas Key.


“Hah? Serius? Wah dia niat banget ternyata ya.” Balas Bernard.


“Ya begitulah, tuh buktinya bekal di bawa kemana-mana.” Sahut Key.


Bernard dan Key tertawa bersama, keduanya menertawakan kelucuan putri mereka yang selama ini tidak pernah mengejar laki-laki manapun, dan baru Gibran lah yang benar-benar membuat putri mereka berubah ke arah yang lebih baik.


“Semoga saja mereka berjodoh.” Ucap Bernard.


“Sepertinya kamu yang lebih menyukai Gibran.” Ucap Key.


“Gibran itu anak yang sopan, baik juga, dia juga cepat menempatkan diri, seperti saat bertemu dengan papi dan mami, dia begitu cepat akrab dengan papi yang kamu tau sendiri kalau papi sangat tegas.” Ucap Benard.

__ADS_1


FLASHBACK END


__ADS_2