DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 74 (KOPI RACIKAN KARREN)


__ADS_3

Walaupun sudah memberitahu di mana tempat-tempat Gibran menaruh barang-barang yang di perlukan untuk membuat kopi, Gibran masih tetap di sana untuk memastikan Karren tidak akan membakar dapurnya.


Gibran tidak pernah berpikir kalau Karren bisa memasak, namun saat dengan santainya Karren menyalakan kompor dan menunggu air sampai mendidih membuat Gibran yakin kalau Karren setidaknya tidak akan lupa mematikan kompor karena tidak tau caranya.


Sambil menunggu air yang dia masak mendidih, Karren mulai meracik kopi dan takaran gula yang tepat.


“Kamu biasanya minum kopi yang kental apa gimana mas? Gulanya berapa sendok?” tanya Karren.


“Saya mau meminum kopi yang sama dengan yang kamu minum aja, saya mau mencobanya.” Ucap Gibran.


Karren menganggukkan kepalanya lalu dia segera meracik kopi sesuai dengan yang biasanya dia minum, menurut Karren racikan dia adalah yang terbaik, tapi entah bagaimana menurut Gibran.


Selama Karren meracik kopi, Gibran terus melihatnya dari belakang, dia tersenyum membayangkan Karren yang tidak lama lagi akan masuk ke dapurnya setiap pagi, itu akan menjadi pemandangan yang sangat indah untuk di lihat.


Setelah selesai dengan kopinya, Karren menyerahkan secangkir kopi kepada Gibran dan menyuruhnya untuk mencoba kopi buatannya.


“Gimana rasanya mas?” tanya Karren dengan penuh harap.


“Enak, sepertinya saya lebih suka kopi buatan kamu dari pada kopi buatan saya sendiri.” Jawaban Gibran sangat memuaskan bagi Karren, dia tersenyum senang dan ikut menyeruput kopinya yang masih panas tanpa sadar.


“Ah! Panas yaampun panas banget.” Ucap Karren sambil menjulurkan lidahnya yang sepertinya melepuh akibat meminum kopi yang masih sangat panas.


Melihat Karren yang kepanasan membuat Gibran langsung menaruh kopinya di atas meja makan lalu dia mengambil cangkir kopi dari tangan Karren dan memegang pipi Karren yang bergerak terus.


“Diam! Jangan bergerak biar aku lihat.” Ucap Gibran.


“Kamu ini gimana sih, kenapa teledor sekali.” Ucap Gibran yang panih.


“Au an ga au kao ahas.” Ucap Karren tidak jelas karena lidahnya terus menjulur keluar. (Aku kan ga tau kalo panas.)


“Gimana bisa kamu ga tau kalo panas, orang kamu asal minum aja ga tiup-tiup dulu! Bentar aku ambilin es batu.” Ucap Gibran yang langsung berjalan ke arah kulkas.


Untung saja Gibran selalu menyediakan air es dan es batu karena sesekali dia ingin meminum minuman yang dingin.


“Ini.” Ucap Gibran sambil memberikan es batu dan menyuapinya ke mulut Karren memakai sendok.


“Aaseh.” (makasih) udah Karren yang saat ini mulutnya penuh dengan es batu yang berbentuk kotak.

__ADS_1


Gibran hanya menggelengkan kepalanya melihat Karren yang teledor seperti itu, berarti masih ada kemungkinan kalau Karren akan membakar dapurnya karena lupa mematikan kompornya sehabis memasak.


Setelah beberapa lama lidah Karren sudah tidak terasa sakit lagi dan es batu yang ada di mulutnya juga sudah habis.


“Sudah tidak panas?” tanya Gibran.


“Hem, sudah mendingan mas, terimakasih ya.” Balas Karren.


“Kalau begitu kita sudah bisa lanjut mengerjakan tugas kan?” tanya Gibran yang di balas anggukan oleh Karren.


Karren mulai mengerjakan tugasnya kembali dan di bantu oleh Gibran, penjelasan Gibran mulai bisa di terima oleh otak Karren sekarang.


Ternyata Karren lebih fokus jika di jelaskan di rumah berdua saja, kalau di kelas Karren tidak bisa konsentrasi karena matanya selalu saja memandangi tubuh Gibran yang terlihat kekar, Darren dan Kevin juga seringkali mengganggunya dan dia juga selalu memperhatikan para perempuan yang menatap kagum ke arah tubuh Gibran.


“Kamu ngerti dengan yang saya jelaskan tadi?” tanya Gibran.


“Hem, aku sudah mengerti sekarang mas.” Balas Karren yang fokus menyelesaikan tugasnya.


Setelah selesai mengerjakan tugas, Karren dan Gibran mengobrol santai sambil menghabiskan kopi yang tadi Karren buat.


“Oh iya mas aku mau tanya.” Ucap Karren yang membuat Gibran menaruh cangkir kopinya dan fokus melihat ke arah Karren.


“Kenapa kamu ga bilang kalau kamu udah ngomong sama papi?” tanya Karren yang membuat Gibran tidak mengerti.


“Ngomong apa?” tanya Gibran tidak mengerti.


“Ngomong kalo kamu mau serius sama aku.” Balas Karren.


“Oh yang itu, yah.. saya hanya ingin papi kamu tahu kalau saya serius sama kamu agar papi kamu tidak memberikan kesempatan lain untuk laki-laki lain yang akan mendekati kamu.” Jelas Gibran.


Karren menatap Gibran dengan mata yang berbinar, mati-matian dia menahan agar dirinya tenang, sekarang malah dia ingin sekali memeluk tubuh Gibran dengan erat.


“Nggak bosan apa kamu buat aku kagum tiap hari mas? Gara-gara kamu aku jadi merasa laki-laki lain kurang, karena yang sempurna menurut aku itu cuma kamu seorang.” Ucap Karren.


“Baguslah, kalau begitu saya akan terus membuatmu kagum, saya senang jika kamu berpikiran seperti itu, karena jujur saja saya tidak suka kalau kamu memberi perhatian lebih kepada laki-laki lain.” Ucap Gibran.


Karren menatap kesal ke arah Gibran sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


“Dasar posesif!” ketus Karren.


“Hanya dengan kamu saya berpikiran seperti itu!” sahut Gibran.


Karren hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu dia kembali menyeruput kopi miliknya agar dia bisa cepat pulang.


“Aku pulang dulu ya mas.” Ucap Karren berpamitan.


“Lain kali jangan keluar memakai pakaian seperti ini lagi! Dengar?” ucap Gibran.


“Iya iya mas dengar..” balas Karren dengan malas.


Gibran mengantar Karren sampai depan rumahnya, padahal dia bisa melihat Karren dari rumahnya tapi entah kenapa dia malah mengantar Karren sampai depan pintu rumahnya.


“Kamu kan bisa lihat aku dari rumah kamu mas, kenapa malah nganter aku sampe rumah.” Ucap Karren.


“Biarin aja, aku lagi pingin mengantar kamu sekalian jalan-jalan.” Balas Gibran.


“Udah sana cepat masuk rumah! Aku ga mau sampe ada orang yang lihat kamu berpakaian seperti itu malam-malam begini.” Ucap Gibran yang langsung di angguki oleh Karren.


“Bye mas, terimakasih karena sudah membantuku mengerjakan tugas dan terimakasih juga karena kamu sudah mengantar aku sampe rumah.” Ucap Karren sambil tersenyum manis.


“Sama-sama..” balas Gibran yang juga membalas senyuman Karren.


Untuk pertama kalinya Karren melihat senyum termanis Gibran, rasanya ingin sekali Karren berlari memeluk tubuh Gibran dan menciumi seluruh wajahnya karena gemas.


“Kamu bisa ga janji satu hal sama aku?” tanya Karren.


“Apa?” tanya Gibran.


“Jangan senyum seperti itu kepada wanita lain, cukup aku saja yang bisa melihat senyummu itu.” Ucap Karren.


“Hem? Kenapa emangnya sama senyumku?” tanya Gibran merasa aneh dengan permintaan Karren.


“Karena kamu terlalu tampan saat tersenyum seperti itu mas, aku ga mau yang lain melihat ketampananmu itu.” Ucap Karren dengan wajah memelas sambil menundukkan wajahnya.


Melihat hal itu membuat Gibran terkekeh, Karren memang wanita yang bisa membuatnya tertawa dan juga kesal.

__ADS_1


“Baiklah aku tidak akan memberikan senyum seperti ini kepada orang lain selain dirimu.” Ucap Gibran meyakinkan Karren.


Mendengar hal itu membuat Karren tersenyum lega lalu dia melambaikan tangannya lebih dulu sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya.


__ADS_2