DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 87 (BALAS DENDAM)


__ADS_3

Karren yang sedang berlari seketika memelankan langkahnya, mata Karren melihat sosok yang beberapa hari ini menghindarinya, dia terlihat sedang berjalan menuju kelas dengan langkah yang terlihat cool di mata perempuan yang melihatnya.


Sudut bibir Karren tertarik sedikit, dia terpukau dengan penampilan Kevin yang tidak pernah gagal membuat para wanita mengaguminya.


“Kevin!” teriak Karren.


Namun bukan hanya Kevin yang menoleh, tapi manusia lain yang ada di sekitar Kevin juga ikut menoleh.


“Yang gue panggil Kevin, tapi kenapa Paijo sama Jamal ikut noleh? Apa semuanya namanya Kevin?” ucap Karren dengan kesal.


Karren langsung berlari menghampiri Kevin saat laki-laki itu menoleh ke arahnya, senuman tercetak di bibir Karren.


“Ada apa Karren?” tanya Kevin.


Ada yang mengganjal di hati Karren mendengar panggilan Kevin untuknya, seharusnya dia merasa biasa aja karena Kevin memang memanggil namanya sendiri, tapi kenapa telinganya merasa aneh.


Karren tidak terbiasa mendengar Kevin memanggilnya dengan nama, mungkin sekitar satu tahun yang lalu terakhir kali Kevin memanggil Karren dengan nama aslinya.


Karren sedih melihat perubahan Kevin, biasanya laki-laki itu menyambutnya dengan senyuman dan panggilan ‘beb’ yang dari saat mereka pacaran sampai sudah putus pun panggilan itu tetap tidak berubah.


Tapi sekarang, wajah laki-laki itu terlihat sendu dan dia juga mengubah panggilannya untuk Karren.


Karren tau kalau dia sudah mengecewakan Kevin, tapi dia tetap tidak rela Kevin menjauhinya, dia masih ingin bersahabat dengan Kevin seperti sebelumnya.


Terdengar egois memang, tapi Karren memang tidak bisa kehilangan salah satu orang yang penting dalam hidupnya.


“Lo panggil gue Karren?” gumam Karren dengan lirih.


Raut wajah terkejut Karren masih menghiasi wajah cantiknya, tubuhnya mematung di tempat sambil menatap ke arah Kevin.


“Nama lo masih Karren kan? Belum berubah?” ucap Kevin dengan santainya.


“I-iya sih, tapi...”


“Gue duluan ya, kelas udah mau di mulai. Gue ga mau buat masalah lagi.” Ucap Kevin yang langsung berjalan meninggalkan Karren.

__ADS_1


Kata-kata Kevin seolah mengandung makna lain, hanya saja Karren tidak bisa mengartikan maksud dari ucapan Kevin.


Melihat punggung Kevin yang sudah menjauh, Karren baru tersadar dari lamunannya.


“Kevin, tungguin gue! Bareng ke kelas.” teriak Karren.


Karren mencoba untuk mensejajarkan langkahnya dengan Kevin, namun laki-laki itu tetap menatap lurus ke depan tanpa berniat menoleh ke arah Karren yang beberapa kali meliriknya.


Karren bisa melihat mata Kevin yang sangat tajam, tapi sebenarnya menyimpan kesedihan di sorot matanya.


Mata Karren melotot saat melihat Gibran sedang berjalan dari arah yang berlawanan dari dia dan Kevin, bahkan laki-laki itu sudah hampir sampai ke kelas.


Karren refleks menggenggam tangan Kevin, mengajaknya berlari agar tidak kehilangan nyawa mereka jika Gibran lebih dulu masuk ke dalam kelas.


“Ayo kita lari Vin, dia sudah mau sampai kelas.” Ucap Karren.


Saat itu Karren sudah tidak perduli lagi apakah Kevin setuju atau tidak di tarik seperti itu, Karren tetap menarik tangan Kevin untuk menyelamatkan nyawa mereka berdua.


Kevin yang tangannya tiba-tiba di tarik hanya pasrah dan mau tidak mau dia harus mengikuti langkah Karren.


Karena ingin memberi pelajaran untuk keduanya, Gibran dengan sengaja mempercepat jalannya, dan itu membuat Karren berlari semakin kencang sampai tanpa sadar pegangannya pada tangan Kevin terlepas, mereka seolah sedang lomba lari dengan pintu kelas sebagai garis finishnya.


Karren tidak sadar jika lantainya masih basah dan akhirnya membuat Karren yang sibuk berlari terpeleset hingga terjatuh.


“Aw!” teriak Karren saat dia sudah terduduk manja di lantai, b0k0ngnya terasa sakit karena terjatuh dengan sangat tidak cantik.


Gibran menahan tawanya saat melihat Karren yang sedang meringins kesakitan sambil mengusap b0k0ngya.


Saat teringat kalau yang terjatuh itu adalah calon istrinya, Gibran segera menghampiri Karren dan mengulurkan tangannya untuk membantu Karren.


Begitu juga dengan Kevin yang ikut mengulurkan tangannya untuk membantu Karren, sedangkan Karren yang melihat ada dua tangan yang terulur langsung mendongak menatap kedua laki-laki itu sambil tersenyum lebar.


Dengan wajah tanpa dosa, Karren meletakkan satu tangannya di atas telapak tangan Gibran dan satu lagi di atas telapak tangan Kevin.


Karren berdiri dengan anggunnya seolah dia adalah ratu dengan dua raja yang berusaha memperebutkan hatinya.

__ADS_1


“Thanks my boys!” ucap Karren sambil tersenyum manis.


Bahkan Karren dengan beraninya mengelus pipi keduanya sebelum akhirnya berjalan dengan santai menuju ruang kelas.


Gibran dan Kevin masih melongo di tempatnya, mereka belum sadar dengan apa yang baru saja terjadi.


Setelah sadar, Kevin langsung berlari masuk ke dalam kelas sebelum keduluan Gibran. Dosen killernya itu sudah mengambil wanita pujaannya, jangan sampai dia juga mengambil nyawanya.


“Karren!!” gumam Gibran yang geram dengan Karren.


Dia segera masuk ke dalam kelas karena dia sudah sangat terlambat, ini semua karena Karren. Tingkah Karren pagi ini benar-benar bisa membuat Gibran mengelus dada.


Selama mengajar juga Gibran tidak bisa fokus karena matanya terus saja beberapa kali melirik ke arah Karren yang banyak tingkah, membuat cita-citanya untuk menyeret Karren ke KUA semakin besar.


Gibran merasa gemas sekaligus kesal, bisa-bisanya Karren mencoba untuk menarik perhatian laki-laki lain di saat calon suaminya sedang memantaunya dengan sorot mata yang tajam.


Karren saat ini sedang menoel-noel lengan Kevin karena laki-laki itu tidak mau menoleh ke arahnya.


Gibran menatap ke arah Kevin dengan prihatin, pasti selama ini hidup laki-laki itu tidak tenang, dan sebentar lagi giliran hidup Gibran yang tidak tenang.


“Karren, kalau kamu tidak mau diam silahkan keluar dari kelas saya!” tegas Gibran dengan suara yang tegas membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Karren.


Karren yang di beri peringatan oleh Gibran langsung berhenti mengganggu Kevin dan duduk dengan tegap menatap ke depan, yang di lakukan Karren saat ini hanyalah bernapas dan mengedipkan matanya saja.


Dalam diam Karren sudah merencanakan pembalasan untuk Gibran, dia akan membalas laki-laki itu setelah mereka menikah.


Jika Gibran berani mengancam akan mengeluarkannya dari kelas, maka Karren berani mengancam mengeluarkan Gibran dari kamar.


“Lihat saja nanti!” gumam Karren yang menatap ke arah Gibran dengan senyum devilnya.


Karren tidak dendam kepada Gibran, hanya saja dia ingin menciptakan hubungan yang seru dan tidak membosankan.


Karren tidak bisa mengandalkan Gibran yang kaku itu untuk menciptakan suasana seru, jadi Karren sendiri lah yang akan turun tangan untuk membuat hubungan mereka menjadi seru.


Karren masih fokus dengan rencana liciknya sampai akhirnya kelas pun selesai dan para mahasiswa satu per satu keluar dari ruangan kelas.

__ADS_1


__ADS_2