
Karren terus memperhatikan Gibran yang sedang menerangkan sisa materi yang belum di terangkan, sedangkan tugas yang tadi di kerjakan sudah di kumpulkan di meja Gibran.
Tanpa sengaja mata Gibran dan Karren saling bertemu, melihat hal itu Karren tersenyum manis ke arah Gibran, sedangkan Gibran malah mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Karren.
Melihat hal itu membuat Karren mendengus kesal, baru kali ini ada laki-laki yang menolak pesonanya, bahkan Karren berubah menjadi wanita yang tidak tau malu hanya di depan Gibran.
Setelah selesai, Gibran segera membubarkan kelas. Satu per satu mahasiswa keluar dari kelas, begitu juga dengan Karren yang sedang memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
“Masih lama beb?” Tanya Kevin.
“Bentar lagi Vin.” Balas Karren.
“Gue tunggu di depan ya beb.” Ucap Kevin sambil mengacak-acak rambut Karren.
Interaksi keduanya tidak luput dari pandangan Gibran yang sedang menatap mereka dengan tatapan tajam.
“Kamu mau ke mana Karren?” Tanya Gibran saat Karren mau berjalan melewatinya.
“Mau ke kantin.” Balas Karren.
“Tolong bantu saya bawa tugas-tugas yang tadi di kerjakan teman-temanmu.” Ucap Gibran.
“Hah?!” Karren tidak percaya dengan ucapan Gibran, dia tidak tau kalau Gibran akan menyuruhnya untuk membawa tugas yang tadi di kerjakan oleh teman-temannya.
Gibran berjalan mendahului Karren, namun Karren sama sekali tidak bergerak, dia hanya melamun melihat tumpukan tugas yang ada di meja dosen.
Sampai akhirnya Gibran
menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah Karren.
“Karren, ayo!” ucap Gibran yang membuat Karren terkejut.
“Eh, i-iya pak.” Ucap Karren yang langsung mengambil tumpukan tugas yang ada di meja dan berjalan mengikuti Gibran dari belakang.
Karren terus mengikuti Gibran dengan langkah yang sedikit berlari karena kaki Gibran yang lebar membuat langkahnya terlihat cepat dan Karren tertinggal jauh.
Kevin yang berada di luar ruang kelas melihat dengan kening yang berkerut karena melihat Karren yang sedang membawa setumpuk kertas di tangannya.
Karren yang tau kalau Kevin kebingungan itu hanya bisa memberi kode untuk pergi ke kantin duluan dan dia akan segera menyusul.
__ADS_1
Jika bisa, Karren ingin sekali membuat pesawat dari kertas-kertas itu dan menerbangkannya ke ruangan Gibran agar dirinya tidak perlu ke ruangan Gibran.
Sesampainya di ruangan Gibran, dia segera membukakan pintu untuk Karren dan mempersilahkan Karren untuk masuk ke dalam ruangan lebih dulu.
“Aku taruh di sini kan pak?” Tanya Karren dengan wajah datar tidak seperti biasanya.
“Iya, taruh saja di atas mejaku.” Balas Gibran.
Karren segera menaruh semua tumpukan kertas di atas meja lalu dia segera berpamitan kepada Gibran.
“Kalo gitu saya permisi pak.” Ucap Karren sambil menundukkan kepalanya sedikit.
“Terimakasih Karren.” Ucap Gibran.
“Sama-sama pak.” Balas Karren sambil tersenyum singkat lali segera pergi meninggalkan Gibran.
Perutnya yang lapar lebih penting di bandingkan menggoda Gibran seperti biasanya, namun menurut Gibran hal itu sangatlah aneh saat melihat Karren yang pergi begitu saja tanpa menggodanya seperti biasa.
Karren yang sedang berjalan tidak sengaja melihat Sarah yang membawa kotak bekal di tangannya dan dia berjalan ke arah ruangan Gibran.
Karren hanya tersenyum singkat lalu terus berjalan melewati Sarah. Ternyata benar yang di katakan Silvia kalau Sarah sering membawakan bekal untuk Gibran.
Di kantin, Kevin melambaikan tangannya saat Karren baru saja masuk ke dalam kantin, dengan segera Karren menghampiri Kevin dan teman-temannya yang lain.
“Lo habis dari mana sih Ren?” Tanya Silvia.
“Pak Gibran nyuruh gue bawa tugas anak-anak ke ruangannya.” Balas Karren.
“Lah tumben, biasanya juga di bawa sendiri atau nyuruh mahasiswa cowok.” Balas Silvia.
“Modus kali dia beb, mau deket-deket sama lo aja itu.” Sahut Kevin.
“Kalo emang modus ya harusnya di ajak makan siang bukan bawain tugas kali Vin.” Balas Karren.
“Udahlah yang penting sekarang gue mau makan, laper banget perut gue.” Sambung Karren.
Kevin dan yang lainnya menganggukkan kepala, lalu Kevin menanyakan satu per satu pesanan teman-temannya.
“Silahkan di makan.” Ucap seseorang yang membawa banyak sekali makanan di tangannya.
__ADS_1
“Darren? Lo dari tadi ngilang malah tiba-tiba ada di sini aja.” Ucap Silvia.
“Iya, gue yang bakal nraktir kalian hari ini.” Balas Darren sambil tersenyum manis yang di buat-buat.
“Lo salah minum obat Ren?” Tanya Kevin kepada sahabatnya itu.
“Berisik lo!” ketus Darren yang ikut duduk di sebelah Silvia.
“Dia kayak gini gara-gara ada salah, coba kalo ga ada salah ya ga akan nraktir, dia kan lebih seneng nraktir cewek-ceweknya dari pada sahabat sendiri.” Sindir Karren.
“Kalian berdua ini pasti lagi berantem ya? Ga biasanya kalian berdua perang dingin gini.” Ucap Silvia sambil menatap kedua sepupu itu dengan tatapan curiga.
“Tanya aja sama dia, kesalahan apa yang dia lakuin sampe harus nraktir kita gini.” Ucap Karren sambil menunjuk ke arah Darren dengan dagunya.
Silvia dan Kevin langsung menoleh ke arah Darren secara bersamaan, keduanya sama-sama kepo dengan yang terjadi di antara sepupu itu, karena tidak biasanya mereka berdua mengalami perang dingin seperti ini.
Akhirnya Darren menceritakan semua yang terjadi kepada Kevin dan juga Silvia, mereka berdua tertawa karena semua yang sudah di lakukan Darren dan Karren.
“Emangnya lo apain pak Gibran sampe bisa telat masuk gitu beb?” Tanya Kevin kepada Karren.
Karena Darren pun tidak mengetahui bagaimana cara Karren merayu Gibran sampai dosen killer itu masuk ke kelas terlambat.
“Gue ini sejak dini udah di turunin bakat akting sama nyokap, bukan anak Key Putri Kalandra kalau tidak bisa melakukan hal semudah itu.” Ucap Karren dengan sombongnya.
“Gila lo Ren, harusnya tadi gue rekam semuanya biar pak Gibran tau kalo lo jago akting.” Ucap Silvia.
“Lo kayaknya jangan jadi model doing deh beb, lo harus memikirkan untuk berkarir di dunia perfilman Indonesia.” Sahut Kevin.
Karren hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Darren masih tidak percaya kalau sepupunya itu bahkan rela meminum obat padahal sedang tidak sakit.
Lalu tiba-tiba saja Darren merebut makanan yang di pegang Kevin dan Silvia, lalu memberikannya kepada Karren.
“Apa-apaan sih Ren!” ketus Silvia.
“Ini semua buat sepupu gue aja deh! Gila lo emang terbaik banget Ren, lope-lope di udara deh.” Ucap Darren sambil membentuk hati dengan tangannya.
“Dih apaan sih lo jijik banget!” ketus Karren sambil bergidik ngeri.
Mereka semua tertawa dan saling bercanda seperti biasanya, Karren juga sudah memaafkan saudara sepupunya itu karena memang ponsel Darren tertinggal di mobil dan Karren juga tidak bisa terus marah kepada saudara kesayangannya itu.
__ADS_1