
Setelah melihat putrinya sudah mulai bersin-bersin, Key tidak tinggal diam, dia segera menghubungi saudara kembarnya untuk mengadukan yang Darren lakukan kepada Karren, Bernard yang sudah datang juga langsung menemani putrinya di kamar.
Dan benar saja, setelah itu Darren, Ken dan Andini mengunjungi rumah Key untuk melihat keadaan Karren dan bukan hanya Key dan Bernard yang memarahi Darren, tapi Ken dan Andini juga memarahi Darren yang sudah meninggalkan Karren.
Bahkan Ken mengancam kalau dia akan menyita mobil Darren jika Darren berani meninggalkan Karren lagi.
Darren yang sudah tersudut tidak bisa melakukan apa-apa lagi, dia juga tidak bisa menyangkal apapun karena dia memang salah, dia hanya bisa pasrah menerima omelan demi omelan yang dia dapatkan dari kedua orang tuanya dan om tantenya.
Tanpa mereka sadari Karren tersenyum samar karena berhasil mengerjai Darren, salah sendiri dia bermain-main dengan Karren, padahal Karren tau kalau kerjaan sebagai ketua BEM tidak sesulit itu.
Apa yang di takutkan oleh Karren dan orang tuanya benar-benar terjadi, pagi ini Karren sakit badannya sangat panas, hidungnya merah dan mampet membuat suara Karren menjadi mindeng. Kepalanya terasa berat bahkan sampai tidak bisa bangun karena terlalu pusing dan lemas.
“Hattchhiii..” Karren mengelap ingusnya dengan tisu dan langsung membuangnya di tempat sampah yang ada di samping tempat tidurnya.
Tangan Karren tidak henti-hentinya menekan hidungnya yang terasa gatal dan juga mampet sampai tidak bisa mencium bau apa pun.
Karren benar-benar tidak suka sakit karena rasanya sangat tidak enak, dia akan meminum obat apapun walaupun pahit asal dia bisa cepat sembuh.
Keadaannya saat ini membuat Karren malas untuk mandi dan akhirnya dia hanya mencuci wajahnya saja dan terlihat sekali kalau wajahnya pucat apa lagi saat tidak memakai makeup apapun.
Sebenarnya saat ini juga dia harusnya ada mata kuliah Gibran, tapi dia tidak memberikan surat dokter, biarkanlah nyawanya di ambil lagi Karren sudah tidak perduli.
Karren memutuskan untuk tidak ada kabar bukan karena dia ingin gibran mengkhawatirkannya, hanya saja Karren tidak ingin perduli dengan apapun yang berurusan dengan Gibran lagi dan tidak perduli dengan peraturan-peraturan yang di buat Gibran.
Key masuk ke dalam kamar Karren dengan membawa sepiring nasi dan juga obat untuk di minum oleh Karren.
“Sayang, makan dulu yuk habis itu minum obat.” Ucap Key.
“Engga mau mam, rasanya pahit mulutku.” Balas Karren.
“Mami tau, tapi kalo ga makan kamu ga bisa minum obat Karren, ayo makan dulu dikit-dikit aja ga apa-apa yang penting perutnya ke isi.” Paksa Key.
Di saat musim hujan begini Key memang menyiapkan semua obat-obatan di rumahnya mengingat bagaimana rentannya Karren jika terkena hujan.
Karren akhirnya terpaksa menerima suapan demi suapan yang di berikan maminya walaupun pahit dan rasanya tidak enak sama sekali.
Cara mengunyah Karren pun sangat lambat, namun Key dengan sabar menunggu makanan yang di mulut sang putri habis dan sehingga akan menyuapkan makanan lagi ke mulut Karren.
Namun setelah beberapa suapan saja Karren langsung menghindar dari sendok yang Key sodorkan kepada Key.
“Sudah mam, aku sudah makan banyak.” Ucap Karren yang hampir saja memuntahkan makanan yang dia makan.
Karren meminum obat yang di bawakan maminya dan meminum banyak air agar obat itu langsung masuk dengan lancar.
__ADS_1
Setelah melihat putrinya sudah meminum obatnya, Key segera merapihkan piring dan gelasnya lalu berniat untuk membawanya kembali ke bawah.
“Nanti papi sama mami ada pertemuan sama rekan bisnis, sebentar aja kok kamu ga apa-apa kan mami tinggal?” tanya Key.
“Ga apa-apa mam, aku juga udah makan dan minum obat jadi tinggal tidur aja.” Balas Karren.
“Mami pastikan kami akan langsung pulang setelah pertemuan itu selesai, nanti mami suruh aunty Andin ke sini ya?” ucap Key.
“Engga mam, ga enak ah ngerepotin aunty Andin, biar aku sendiri aja kan ada bibi juga.”
“Baiklah, kalau begitu kamu hati-hati di rumah nanti kalo Darren udah pulang kuliah mami suruh ke sini." ucap Key yang di balas anggukan oleh Karren.
Key mencium kening Karren lebih dulu sebelum dia turun ke bawah.
Tidak lama setelah Key turun, Bernard datang dan menghampiri tempat tidur Karren.
"Hai sayang, gimana udah mendingan?" tanya Bernard.
"Panasnya udah mending pap, tapi pusing sama mampetnya masih." jawab Karren.
Terlihat sekali kalau Karren sudah mulai mengantuk karena efek dari obat yang tadi dia minum.
"Istirahatlah sayang, maaf papi dan mami malah harus pergi saat kamu sedang sakit begini." Ucap Bernard.
Cup! Bernard mencium kening putri kesayangannya itu.
Karren adalah putri kesayangan Key dan Bernard karena memang hanya Karren lah putri mereka satu satunya.
Lebih tepatnya, sejak kecil Karren tidak pernah ingin memiliki adik, dia ingin menjadi satu-satunya, cukuplah dia memiliki sepupu-sepupu yang kadang menyebalkan namun selalu ada untuknya.
Key dan Bernard sudah pergi, sedangkan Karren tertidur pulas karena efek obatnya, Key sudah menitipkan Karren kepada bibi yang membantu di rumah, Key juga sudah menitip pesan kepada Andini untuk menyuruh Darren menemani Karren jika pulang kuliah nanti.
Karren yang sudah tertidur pulas tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya saat merasakan ada tangan yang mengelus rambutnya dan membuat Karren terbangun.
Karren terkejut melihat orang yang mengelusnya, namun beberapa saat kemudian dia tersenyum manis.
"Kevin.." ucap Karren memastikan kalau orang yang ada di hadapannya benar benar Kevin.
“Iya gue.” Balas Kevin.
“Lo kok ada di sini?” tanya Karren.
“Gue main ke rumah Darren, terus nyokapnya cerita kalo lo sakit dan Darren suruh temenin lo, jadi gue ikut aja ke sini.” Jelas Kevin.
__ADS_1
“Terus Darren di mana?” tanya Karren.
“Dia di bawah main ps, gue mau liat keadaan lo.” Balas Kevin.
Tangannya masih setia di rambut Karren, Kevin mengelus dengan sangat lembut dan penuh perhatian.
Karren berusaha untuk duduk, melihat hal itu Kevin segera membantunya.
“Lagi pengen apa? Biar gue beliin.” Ucap Kevin.
“Ga pengen apa-apa.” Balas Karren sambil menggelengkan kepalanya.
Kevin hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu tiba-tiba saja Karen kembali memanggilnya.
“Vin..” panggil Karren.
“Hem? Ada apa?” tanya Kevin dengan lembut.
“Laper hehehe.” Ucap Karren sambil memamerkan gigi putihnya.
Kevin terkekeh mendengar ucapan Karren yang terdengar sangat manja.
“Mau makan apa? Gue ambilin nanti di bawah.” Ucap Kevin.
“Ga mau makan nasi.”
“Terus maunya apa?”
“Makan roti aja.” Balas Karren.
“Oke, rotinya di mana biar gue ambilin.” Ucap Kevin.
Karren tidak menjawab, dia malah meregangkan kedua tangannya ke atas, rasanya setelah istirahat pusingnya sudah mendingan.
Tiba-tiba Karren menyodorkan kedua tangannya ke arah Kevin yang membuat Kevin bingung.
“Gendong, gue lemes banget nih! Kita makan di bawah aja, kalo di sini ntar kita di nikahin lagi.” Ucap Karren.
Mendengar ucapan konyol Karren membuat Kevin tertawa, tapi meskipun begitu Kevin tetap menuruti ucapan Karren untuk menggendongnya.
“Emangnya lo ga mau di nikahin sama gue?” tanya Kevin yang masioh tertawa.
“Mau, tapi ga sekarang.” Balas Karren.
__ADS_1
Mendengar ucapan Karren membuat Kevin seketika menghentikan tawanya, Kevin tidak pernah menyangka kalau Karren akan menanggapi ucapannya seperti itu.