
Selesai melakukan touch up, Clara segera mengajak Karren untuk langsung ke lokasi pemotretan karena Dina dan Kevin sudah ada di sana.
Kali ini Karren dan Kevin melakukan pemotretan untuk sampul majalah remaja, tentu saja gaya mereka harus terlihat seperti dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.
Karren dan Kevin mulai berpose di depan kamera, di belakang kamera ada Gibran yang sedang menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah kedua orang itu.
Seperti dugaan Dina dan Clara, keduanya terlihat sangat kaku di depan kamera, beberapa kali fotografer menegur mereka berdua karena tidak biasanya pose mereka mengecewakan seperti itu.
Itu semua karena mereka tidak nyaman berpose mesra sambil di tatap tajam oleh Gibran, untuk merangkul Karren pun Kevin rasanya takut dan canggung.
“Chemistry kalian kurang dapat! Ayo ulangi!” perintah sang fotografer.
Karren dan Kevin berpose seperti sebelumnya mengikuti arahan fotografer, beberapa kali juga hasil jepretannya tetap tidak memuaskan membuat sang fotografer menjadi kesal.
“Lo berdua sebenernya kenapa sih? Pose kayak orang pacaran aja susah banget kayaknya, lo berdua pernah pacaran kan?” ucap sang fotografer.
Karren dan Kevin sama-sama mengangguk kaku menjawab pertanyaan dari sang fotografer.
“ya udah bayangin aja lo berdua lagi pacaran sekarang, keluarin aurakasmarannya, senyumnya juga yang natural jangan di buat-buat.” Ucap sang fotografer.
Karena ingin pemotretannya cepat selesai, akhirnya Karren dan Kevin pun berusaha untuk santai dan melupakan masalah mereka sejenak, mereka berdua mencoba untuk tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Gibran.
Gibran memang benar-benar sangat menyebalkan, keberadaannya berhasil membuat Karren dan Kevin merasa canggung.
Pemotretan berlangsung lebih lama dari perkiraan, tentu saja hal itu karena pose Karren dan Kevin yang tidak memuaskan sampai sang fotografer harus meminta mereka berpose ulang untuk di potret.
Karren keluar dari studio dengan menggandeng tangan Gibran, laki-laki itu terlihat kesal saat menyaksikan calon istrinya di sentuh oleh laki-laki lain dan sekarang Karren berusaha untuk meredam kekesalan laki-laki itu.
“Jangan marah dong mas, aku cuma bersikap profesional aja, lagian tadi posenya juga ga terlalu mesra kok.” Ucap Karren dengan nada manjanya saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
“Tetap saja saya tidak suka! Laki-laki itu menyentuh wajah kamu, bahu kamu, pinggang kamu, tapi kamu malah tersenyum saja.” Ucap Gibran sambil menatap kesal ke arah Karren.
“Kan emang posenya di suruh senyum mas, masa iya aku harus merengut sedangkan temanya anak muda yang sedang kasmaran, gimana sih?” Ucap Karren yang ikut kesal dengan sikap posesif Gibran.
__ADS_1
“Tinggal berapa pemotretan lagi kamu di pasangkan dengan dia?” tanya Gibran.
“Udah selesai, tadi itu yang terakhir.” Jawab Karren.
“Baguslah, lain kali jangan mau di pasangkan dengan dia lagi! Lebih baik kamu pemotretan sendiri atau dengan saya.”
Karren melongo, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan Gibran tadi, Gibran mau menjadi model? Bahkan foto profil WA nya saja sangat kaku seperti foto KTP.
Tubuhnya memang bagus dan cocok untuk menjadi model, tapi kalau tidak bisa bergaya di depan kamera bagaimana bisa menjadi model?
Karren hanya bisa menghela nafas panjang lalu dia menggeleng perlahan melihat tingkah Gibran yang terlalu berlebihan.
Padahal dia tau apa pekerjaan Karren sebagai model dan kerjaannya lebih banyak di pasangkan bersama Kevin karena memang chemistry mereka sangat bagus dan fotografer selalu puas dengan hasil foto mereka.
Tapi kenapa sekarang Gibran sangat berlebihan sekali, apa dia tidak bisa pelan-pelan membatasi hubungan Karren dengan Kevin? Apa harus langsung bersikap seperti ini dan membuat semua orang merasa canggung?
Semua orang sudah selesai pemotretan, begitu juga dengan Karren dan Kevin, para kru mulai merapihkan barang bawaan mereka.
“Aku keluar dulu ya mas, pamitan sama mereka dulu.” Ucap Karren saat melihat semua kru sudah bersiap untuk bubar.
Karren hanya memutar bola matanya jengah lalu menghela nafas kasar sebelum akhirnya keluar dari mobil Gibran tanpa menjawab peringatan Gibran tadi.
“Ren, lo tumben banget sih chemistry nya ga ada sama sekali sama Kevin?” ucap sang fotografer.
“Sorry bang, mungkin kita sama-sama lagi capek aja habis kuliah.” Balas Karren mencari alasan.
“Lo berdua lagi berantem ya? Soalnya mau bilang lo berdua lagi putus cinta ga mungkin kalian kan emang udah putus.”
“Engga kok bang ga ada yang berantem, emang lagi capek aja.” Balas Karren.
Sang fotografer hanya mengangguk mempercayai ucapan Karren, setelah itu Karren segera berpamitan kepada sang fotografer dan juga para kru yang ada di sana.
Kedua mata Karren tidak sengaja bertatapan dengan mata Kevin yang sedang mengobrol dengan Dina dan Clara.
__ADS_1
Karren memutuskan untuk menghampiri mereka bertiga berniat untuk berpamitan, tapi saat beberapa langkah lagi Karren mendekati mereka, Kevin tiba-tiba saja pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah Karren lagi.
Dina dan Clara hanya bisa saling melihat satu sama lain lalu mengangkat kedua bahu mereka, karena mereka juga tidak bisa berbuat banyak untuk membuat mereka berdua kembali seperti sedia kala.
Mereka berdua tau bagaimana perasaan Kevin saat ini, jadi mereka tidak bisa membujuk Kevin untuk berbaikan dengan Karren.
Sedangkan mereka berdua juga tidak tega dengan Karren yang terlihat sedih melihat perubahan Kevin.
“Sabar ya Ren, semua ga bisa balik ke awal secepet itu.” Ucap Clara sambil menepuk pundak Karren.
“Hem, kita juga ga bisa bantu banyak Ren, lo tau sendiri kan perasaan tuh ga bisa di paksa, jadi kita ga bisa bujuk Kevin untuk baikan sama lo.” Sahut Dina.
“Biarin Kevin sendiri dulu, lagian lo juga udah punya tunangan.” Ucap Clara lagi.
Karren menghela nafas panjang sambil matanya tetap menatap ke punggung Kevin yang sudah sangat jauh.
“Gue cuma ngerasa bersalah aja sama Kevin, gue ga pernah lihat dia yang kayak sekarang.” Ucap Karren.
“Lo kira kita pernah liat dia kayak gitu? Walaupun dia sering nongkrong bareng kita juga dia diem aja sambil minum.” Ucap Dina.
“Iya bener, walaupun banyak cewek yang deketin juga dia nolak banget.” Sahut Clara.
“Ah pusing gue, udah deh gue balik duluan deh kasihan mas Gibran nungguin di mobil.” Pamit Karren.
“Hem, hati-hati ya Ren.” Ucap Dina dan Clara bersamaan.
Karren hanya mengangguk mengiyakan ucapan kedua sahabatnya itu lalu dia berjalan kembali ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.
“Sudah?” tanya Gibran.
“Hem sudah kok.” Jawab Karren.
“Mau makan siang dulu? Kamu pasti belum makan karena dari tadi tidak ada waktu untuk makan karena take di ulang-ulang.” Ucap Gibran.
__ADS_1
“Take di ulang-ulang juga gara-gara siapa.” Gumam Karren dengan wajah cemberut dan kedua tangan yang menyilang di dada.