
FLASHBACK
Karren sudah berada di depan rumah Darren, namun mood Karren langsung di buat down saat mendengar dari aunty nya kalau Darren sudah berangkat lebih dulu.
Dengan kesal Karren segera menghubungi sepupu tidak tau diri itu, dan ternyata dia sedang menjemput kekasih barunya jadi dia tidak bisa berangkat bersama Karren.
Karren juga malas sekali menyetir, akhirnya dia berjalan ke rumah Gibran saat melihatnya baru keluar dari rumah.
"Mas, aku nebeng kamu ya soalnya Darren udah berangkat duluan." ucap Karren dengan nada manjanya.
"Kamu lupa ucapan saya kemarin? Berhenti memanggil saya dengan sebutan itu!" ketus Gibran membuat Karren mematung di tempatnya.
"M-maaf pak." ucap Karren dengan wajah menunduk karena sedih bercampur malu.
Karren terkejut karena Gibran masih saja ketus seperti kemarin, dia juga lupa kalau Gibran menyuruhnya untuk tidak memanggilnya ‘mas’ lagi, dan ternyata hal itu juga berlaku di luar kampus.
“Hm, biasakan manggil saya seperti itu! Saya tidak suka mendengar kamu memanggil saya dengan sebutan ‘mas’ lagi.” Tegas Gibran.
Karren mengangguk dengan wajah suram, tidak ada lagi senyuman manis seperti saat pertama dia menghampiri Gibran.
“Saya boleh nebeng bapak? Soalnya Darren ninggalin saya.” Ucap Karren.
Karren masih berusaha untuk bertanya kepada Gibran walaupun respon yang di berikan tidak baik, tapi Karren tidak menyerah hanya sampai di situ saja.
“Tidak bisa, saya ada urusan yang harus di selesaikan dulu, lagian kamu punya mobil kenapa ga nyetir sendiri aja? Jangan manja jadi perempuan!” ucap Gibran dengan ketus.
Karren tersenyum paksa lalu menunduk sekilas ke arah Gibran.
“Baiklah kalau begitu saya permisi.” Pamit Karren yang langsung berbalik meninggalkan rumah Gibran.
Karren segera menghubungi Kevin dan untungnya Kevin masih belum berangkat jadi dia bisa menjemput Karren lebih dulu.
FLASHBACK END
Karren tidak pernah menyangka kalau urusan mendadak yang di maksud Gibran adalah menjemput Sarah.
“Siang pa, bu..” sapa Kevin dengan sopan.
__ADS_1
Gibran dan Sarah hanya mengangguk saja, sedangkan Karren sama sekali tidak menyapa mereka, bahkan melihat ke arah mereka saja tidak.
Sedangkan Gibran masih setia ke arah Karren yang saat ini hanya menundukkan kepalanya seperti tidak ingin menatapnya.
“Permisi pak, bu.. Ayo beb.” Ajak Kevin yang tangannya masih setia berada di bahu Karren.
Nyali Kevin saat itu terbilang cukup besar karena masih merangkul Karren walaupun sudah di berikan tatapan tajam oleh Gibran.
Dada Karren terasa sesak, jantungnya berdegup tidak karuan menahan rasa cemburunya saat melihat Gibran bersama dengan Sarah.
Ini adalah kedua kalinya Gibran lebih memilih Sarah di bandingkan dirinya, rasanya benar-benar sesak. Karren kira sikap Gibran selama ini menunjukkan kalau laki-laki itu tertarik padanya, namun ternyata itu hanya rasa percaya dirinya saja yang terlalu besar.
Jika Gibran sudah terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan Sarah, bukankah itu bisa di bilang kalau sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya?
“Anak-anak ada di kantin, kita ke kantin dulu ya beb.” Ajak Kevin setelah membaca pesan dari Darren.
Karren hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah Kevin, pikirannya tidak fokus karena masih memikirkan tentang Gibran dan Sarah.
Baru saja Karren senang bukan main saat Gibran mau menemaninya menonton dan makan siang, tapi sekarang hanya ada sikap dingin yang di berikan Gibran kepadanya.
Saat ini Karren dan Kevin sudah berjalan menghampiri meja Darren dan Silvia yang sudah ada di sana lebih dulu.
“Dih kok lo nyalahin gue? Karren begini gara-gara lo ninggalin dia makanya jadi bad mood gitu.” Ucap Kevin membela dirinya.
Sebenarnya Kevin tau alasan kenapa Karren seperti ini, tapi Kevin malas mau mengatakannya karena dia juga tidak suka kalau Karren cemburu kepada laki-laki lain.
Kevin dengan lembut menarik kursi di sebelahnya dan mempersilahkan Karren untuk duduk.
“Lo mau apa Ren? Tas? Sepatu? Jam? Baju? Bilang sama gue.” Ucap Darren kepada sepupunya itu.
“Wih gila,, lo mau beliin semua itu buat Karren?” tanya Silvia tidak percaya.
“Iya dong, dia kan sepupu gue yang paling menyebalkan, coba sebutin Ren lo mau apa, biar nanti gue minta sama uncle Bernard.” Ucap Darren yang di balas tawa oleh Kevin.
Sedangkan Silvia hanya memutar bola matanya kesal, dia pikir Darren akan benar-benar membelikan sesuatu untuk Karren.
Karren meninju lengan Darren perlahan, sedangkan Darren tertawa puas karena berhasil mengerjai Karren dan Silvia.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba saja tawa Darren berhenti dan memeluk tubuh sepupunya itu sambil sesekali mengacak-acak rambutnya, Darren sengaja bercanda agar mood sepupunya kembali.
Darren adalah sepupu terbaik yang selama ini selalu ada di samping Karren dalam keadaan apapun, walaupun menyebalkan tapi Darren sangat menyayangi Karren.
Karren pun membalas pelukan dari sepupunya itu, dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Darren dan Karren menahan air matanya yang sejak tadi ingin keluar, Karren merasa dia tidak pantas untuk menangisi orang yang bahkan bukan siapa-siapanya.
Darren juga tidak pernah bertanya apa-apa kepada Karren, dia hanya mencoba untuk menghibur sepupunya agar moodnya jauh lebih baik lagi.
Setelah tenang, Karren segera melepaskan pelukannya dari sepupunya dan langsung meminum minuman kaleng milik Darren sampai habis, padahal minuman itu adalah minuman kesukaan Darren dan rasa itu hanya tersisa satu-satunya.
Tapi Darren berusaha untuk sabar karena saat ini Karren sedang galau, kalau tidak Darren akan meminta ganti dua kali lipat.
“Gue tadi lihat pak Gibran sama bu Sarah, mereka kayaknya berangkat bareng.” Curhat Karren tiba-tiba.
“What? Jangan bilang lo galau karena mereka berangkat bareng?” tanya Darren dengan tatapan tidak bersahabat.
“Gue kesel aja, dia tadi nggak mau berangkat bareng gue tapi malah berangkat sama bu Sarah.”
“Gue udah sering bilang sama lo Ren,
mereka itu pasti ada sesuatu, lo masih aja mau ngejar pak Gibran.” Ucap Silvia.
“Lagian gue lebih setuju kalo lo sama Kevin dari pada saam pak Gibran, kalian berdua sama-sama bar-bar dan menyebalkan.” Ucap Darren dengan santainya.
Mendengar ucapan Darren membuat Kevin tersenyum senang karena mendapat dukungan dari Darren.
“Lagian mau deket sama siapa aja lo pasti ujung-ujungnya sama gue beb.” Ucap Kevin.
“Iya deh, kayaknya emang jodoh gue tuh elo Vin.” Balas Karren.
Kevin langsung merentangkan kedua tangannya yang langsung di sambut pelukan oleh Karren, lalu tiba-tiba saja Darren ikut memeluk tubuh Kevin dan Karren, yang akhirnya mereka bertiga berpelukan seperti teletubies.
Sedangkan Silvia yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Kalian bertiga sama-sama gila, gue doang yang paling waras emang!” ucap Silvia.
“Ga usah gitu lo, lupa ya semalam dapet zonk? Hahaha.” Ejek Karren.
__ADS_1
“Lo kok bisa tau? Pasti Kevin ya? Sialan lo Vin buka aib!” ucap Silvia kesal dengan Kevin.
Sedangkan Kevin hanya bisa menjulurkan lidahnya mengejek dan terkekeh melihat wajah kesal Silvia.