DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 109 (PINDAHAN)


__ADS_3

Sambil menunggu Karren membereskan baju-bajunya, Gibran berjalan mengelilingi kamar Karren untuk melihat foto-foto yang tergantung di dinding.


Karren sangat narsis, itu terbukti karena foto-foto di kamarnya cukup banyak padahal dia hanya butuh kaca saja jika ingin melihat wajahnya sendiri tanpa harus memenuhi dinding dengan fotonya.


Gibran berhenti di salah satu foto Karren bersama model-model professional di acara bergengsi di luar negeri.


“Kamu pernah ketemu sama model sekelas Gigi Hadid sama Kendall Jenner?” tanya Gibran saat melihat Karren berfoto dengan kedua model itu dan model yang lainnya juga.


“Pernah, dulu waktu ke acara launching make up mereka jadi brand ambassadornya.” Jawab Karren sambil menoleh sekilas lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya, kali ini dia sedang memasukkan alat make upnya ke dalam tas berukuran sedang.


Gibran hanya manggut-manggut, tapi di dalam hatinya dia terkagum-kagum karena dia ternyata menikah dengan orang yang bukan ecek-ecek, kumpulan Karren adalah orang sekelas Gigi Hadid dan Kendall Jenner.


Lalu pandangan Gibran bergeser pada foto Karren dan Darren dengan memakai baju putih abu-abu. Karren di foto itu dengan Karren yang sekarang tidak banyak berubah.


Perbedaan yang cukup mencolok mungkin hanya pada pipinya saja, karena pipi Karren yang sekarang terlihat lebih tirus daripada saat SMA, make up yang di pakai Karren pun masih natural tidak seperti sekarang.


Di sebelah foto Karren dan Darren, ada juga foto Karren dengan Kevin. Sepertinya itu saat acara ulang tahun Karren karena ada kue tart di depan mereka.


Di foto itu terlihat Kevin yang sedang merangkul bahu Karren, keduanya tertawa bahagia di depan kamera.


Ada foto Karren dengan Silvia, Dina dan Clara juga yang terpajang di dalam bingkai kecil. Karren memang memasang semua foto orang-orang terdekatnya, hanya foto Gibran saja yang tidak ada di sana membuat rasa cemburu di Gibran mulai timbul.


Gibran cemburu karena Karren memasang fotonya dengan sang mantan, sedangkan tidak ada foto dirinya sama sekali.


“Kamu ga punya foto saya?” tanya Gibran.


“Punya, kan wallpaper hp aku itu foto aku sama kamu sayang..” jawab Karren tanpa menoleh.


“Kenapa foto aku ga ada di sini?” tanya Gibran.

__ADS_1


Terdengar sekali dari suaranya jika Gibran sedang kesal, tangan Karren yang sedang memasukkan make up terhenti, dia menoleh karena tidak paham dengan maksud ucapan Gibran.


“Maksudnya?” tanya Karren dengan kening yang berkerut.


“Kenapa tidak ada foto saya yang tertempel di sini?” tanya Gibran dengan wajah kesal.


Mendengar ucapan Gibran membuat Karren tertawa tanoa bisa dia tahan, Gibran saat ini seperti anak remaja yang sedang merajuk dari pada seorang dosen dengan usia yang sudah matang.


Wajahnya yang sedang cemberut itu terlihat sangat menggemaskan. Entah bagaimana bisa wajah yang biasanya dingin itu terlihat menggemaskan di mata Karren.


Karren melangkahkan kakinya meninggalkan meja rias dan berjalan menuju tempat Gibran berada. Dia harus menenangkan suaminya itu dulu jika tidak ingin melihat wajah suaminya yang tertekuk.


Meskipun masih terlihat tampan, tapi Karren takut kalau terlalu lama cemberut nanti akan muncul keriput di wajah Gibran.


Karren memeluk tubuh Gibran dari belakang membuat tubuh Gibran menegang untuk beberapa detik.


“Itu semua foto-foto lama mas, aku udah lama ga pernah tambah foto lagi, lagian habis ini kan aku ga tinggal di kmar ini lagi, di kamar kita juga udah ada foto kita kan?” ucap Karren berusaha untuk membujuk Gibran.


Jangan berpikir kalau foto pre wedding mereka berdua akan mesra seperti pasangan pada umumnya, karena kenyataannya itu sama sekali tidak benar.


Konsep foto pre wedding keduanya lebih tepat di bilang seperti konsep foto untuk persahabatan dari pada untuk pernikahan.


Karren dan Gibran hanya berdiri bersebelahan dengan baju yang serasi saja, tidak ada peluk-pelukan dan cium-ciuman seperti kebanyakan orang. Pose paling mesra mereka hanyalah sebatas pegangan tangan saja.


Gibran sebenarnya tidak ingin ada hal seperti itu, tapi Karren dan para ibu memaksanya untuk melakukan hal itu. Alhasil dia terpaksa melakukannya dengan pose yang tidak bisa di bilang mesra.


Bahkan lebih mesra pose Karren dan Kevin saat menjadi cover majalah dari pada pose pre wedding mereka. Karena tidak puas dengan hasilnya, rencananya mereka akan foto lagi saat mereka bulan madu nanti.


“Hmm...” balas Gibran masih dengan memperhatikn foto-foto Karren.

__ADS_1


Dia tidak berniat menoleh pada wanita yang sedang memeluknya erat dari belakang, hal itu membuat Karren terkekeh geli mendengar jawaban Gibran yang terkesan cuek.


“Kamu cemburu ya?” goda Karren yang masih tersenyum.


“Tidak, saya hanya bertanya saja, di sini ada foto-foto orang-orang terdekat kamu tapi tidak ada foto saya.” Ucap Gibran membantah ucapan Karren karena dia tidak mau di bilang cemburu.


“Kamu kan baru datang di hidup aku mas, kita kenal belum ada setahun loh tapi kamu udah ngajak aku nikah aja.” Ucap karren.


Gibran membalikkan tubuhnya, dia menatap Karren dalam dengan tangan yang sudah memegang pipi Karren.


“Saya jatuh cinta untuk pertama kalinya sama kamu, sayangnya saya tidak ingin merasa patah hati untuk pertama kalinya, jadi saya segera menghalalkan kamu agar kemungkinan untuk patah hati itu tipis karena kamu sudah menjadi milik saya.” Jelas Gibran.


Karren terkekeh geli, dia tidak percaya kalau Gibran memiliki jawaban yang cerdas seperti itu.


“Kamu pinter banget ya jalan pikirannya, maunya rasain jatuh cinta tapimenghindari patah hati. Aku benar-benar takjub loh.” Balas Karren.


“Tentu saja saya pintar, kalau tidak saya tidak mungkin menjadi dosen di usia saya yang masih muda.” Balas Gibran.


“Iya sih, aku awalnya ga percaya loh kalo kamu dosen, di lihat dari tubuh kamu yang bagus aku sempet ngira kamu itu model.” Ucap Karren.


“Tapi setelah aku lihat foto-foto kamu yang kelihatan kaku kayak foto KTP, aku jadi percaya kalau kamu memang lebih cocok jadi dosen dari pada model.” Ucap Karren sambil tertawa meledek tanpa perduli kalau manusia yang ada di depannya sedang menatapnya dengan tajam.


“Kamu meledek saya?” tanya Gibran dengan nada yang mengintimidasi.


“Engga kok, aku ga ngeledek mas, aku hanya mengatakan fakta saja bahwa kamu emang kaku kayak robot.” Ejek Karren sambil menjulurkan lidahnya dan segera berlari menjauhi Gibran.


“Awas saja nanti akan saya balas kamu!” ucap Gibran.


“Engga takut wlee..” balas Karren sambil menjulurkan lidahnya sekali lagi lalu kembali memasuki kosmetiknya ke dalam tas kecil.

__ADS_1


Gibran hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri, dia merasa seperti remaja lagi sekarang. Berdekatan dengan Karren membuatnya merasa lebih muda dari umurnya karena kelakuan wanita itu yang terkadang kekanak-kanakan. Mau tidak mau Gibran pun harus mengimbanginya.


__ADS_2