DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 21 (NASEHAT MAMI KHANSA)


__ADS_3

“Karena mas kan calon mantu papi dan mami.” Jawab Karren dengan santainya.


Blush! Seketika wajah Gibran memerah, dia tidak percaya dengan jawaban yang di berikan oleh Karren, jantung Gibran seketika berdetak sangat kencang hingga membuatnya tidak bisa fokus menyetir.


“Kamu udah ga marah?” tanya Gibran berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


“Kamu maunya aku masih marah nih?” bukannya menjawab, Karren malah balik bertanya kepada Gibran.


“Engga, kalo bisa ga usah marah sama sekali.” Jawab Gibran.


“Ya tergantung sih, kalo kayak kemarin lagi ya aku marah lah.” Balas Karren.


Gibran hanya menggelengkan kepala tanpa berniat membalas ucapan Karren, sedangkan Karren kembali fokus ke ponselnya saat tidak ada tanggapan dari Gibran.


Kedua mata Gibran rasanya ingin sekali menoleh dan melihat penampilan Karren, hanya saja dia tidak bisa karena gengsi, jadi Gibran sesekali mencuri-curi pandang kepada Karren dan hal itu di sadari oleh Karren.


“Kalo mau lihat ya lihat aja mas, ga usah curi-curi pandang begitu lah, sakit nanti matanya.” Sindir Karren.


Mendengar sindiran dari Karren membuat Gibran jadi salah tingkah, namun dia hanya bisa menelan salvilanya karena sudah terlanjut malu.


“Saya cuma mau memastikan kalau pakaian kamu hari ini tidak terbuka.” Ucap Gibran.


“Tenang aja, pakaian aku tertutup kok, aku tau kalau kamu tidak mau tubuhku di nikmati laki-laki lain kan?” ucap Karren dengan santainya.


Mendengar hal itu membuat Gibran refleks menginjak rem hingga membuat tubuh Karren hampir membentur dashboard mobil.


“Mas! Kenapa ngerem mendadak sih? Kalo aku kejedot gimana tadi?” protes Karren.


“Sorry, kamu ga apa-apa?” tanya Gibran.


“Hampir kenapa-kenapa tau!” jawab Karren.


“Lagian kamu jangan bilang macem-macem deh, saya lagi nyetir bisa kecelakaan kalo kamu terus bicara yang tidak-tidak!” tegas Gibran.

__ADS_1


“Iya iya maaf deh.” Balas Karren.


Akhirnya Gibran kembali menginjak pedal gas mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju kampus.


***


Sedangkan di sisi lain, Bernard dan Key sedang duduk dengan kedua tangan berada di pahanya, keduanya gugup karena mami Khansa melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau mereka membiarkan putri mereka berangkat ke kampus bersama seorang laki-laki asing.


Bahkan Bernard yang tadinya mau berangkat bekerja sampai tidak jadi karena kedatangan mami mertuanya.


Key juga ikut tegang saat itu, dia sangat tau kalau sudah marah maminya bisa sangat menyeramkan, Key berusaha untuk memulai pembicaraan tapi dia juga tidak tau harus mengatakan apa.


“Om beruang yang suruh Key buat jodohin Karren sama Gibran mi.” ucap Key yang tiba-tiba menyalahkan suaminya yang sedang duduk pasrah di sebelahnya.


“What!?” ucap Bernard yang terkejut dengan tuduhan istrinya secara tiba-tiba.


Key hanya menoleh sambil memasang wajah memelas seperti memohon ampun karena sudah menjadikannya kambing hitam.


“Dasar istri tidak setia suami! Bisa-bisanya dia menjadikanku kambing hitam padahal dia yang bersemangat untuk menjodohkan Karren dengan Gibran.” Batin Bernard namun tidak bisa mengungkapkannya.


Khansa tau betul kalau Key pasti menyalahkan suaminya kalau di lihat dari ekspresi keduanya, jadi Khansa tidak mau langsung menyalahkan menantunya itu.


“Gibran laki-laki yang baik mi, dia sopan dan rajin sholat.” Ucap Bernard.


“Tau dari mana kalau dia baik dan rajin sholat? Apa kalian selalu memantaunya? Setidak ada kerjaan itukah kalian untuk memantaunya?” tanya Khansa.


“Mami, percayalah, Gibran itu sangat dewasa, dia selalu menjaga tatapannya kepada Karren terutama saat Karren memakai pakaian yang terbuka.” Ucap Key.


“Se baik-baiknya seorang laki-laki, se alim-alimnya laki-laki, dia juga memiliki nafsu yang mungkin saja tidak bisa mereka kontrol, mami setuju sama keputusan papi untuk tinggal bersama Kalanda di Belanda karena mami ingin menjaga cucu-cucu mami dari pergaulan bebas di sana.”


“Tapi kenapa malah pergaulan cucu-cucu mami di sini yang kacau?” ucap Khansa.


Mendengar ucapan Khansa membuat Bernard dan Key diam, mereka tau betul alasan lain maminya mau tinggal di negara orang karena ingin menjaga cucu-cucunya dari pergaulan yang tidak-tidak, apa lagi Kalandra memiliki dua putri yang harus di jaga dengan ketat, sedangkan di Indonesia Khansa hanya memiliki satu cucu perempuan yang dia yakini bisa di jaga dengan baik oleh orang tuanya.

__ADS_1


Khansa memang lebih protective dengan cucu prempuan mereka, tapi bukan berarti dia tidak memantau cucu laki-lakinya, selama di Belanda Khansa seringkali membuat cucu laki-lakinya gagal pergi dengan teman-temannya setiap malam.


“Mi, maafkan kami, kami tidak pernah berfikir kalau Gibran akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada Karren, kami hanya ingin Karren mendapatkan laki-laki yang baik.” Ucap Bernard.


“Kamu ini laki-laki Bernard, apa kamu mau dengan wanita yang justru malah di dorong-dorong ke arahmu oleh orang tuanya?” tanya Khansa.


“Bagaimana kalau laki-laki itu malah berfikir kalau ada cacat pada diri Karren sampai kalian berdua terang-terangan menjodohkan mereka!” lanjutnya.


Bernard dan Key terkejut dengan ucapan maminya, mereka berdua tidak pernah berfikiran sampai ke sana, yang mereka pikiran hanya ingin menjodohkan Karren dengan laki-laki baik seperti Gibran.


“Maaf mi, kami tidak tau akan hal itu.” Ucap Key dan Bernard sambil menundukkan kepalanya.


“Sudahlah, kali ini tidak masalah karena memang sudah terlanjur, namun lain kali jangan pernah menyuruh putri kalian yang menyusul laki-laki itu, kalau memang laki-laki itu baik dan  tertarik dengan Karren, maka laki-laki itu sendiri yang akan datang ke sini dan meminta ijin kepada kalian untuk membawa putri kalian.” Tegas Khansa.


“Baik mi...” jawab Bernard dan Key secara bersamaan.


Key menyuruh Khansa untuk sarapan lebih dulu, lalu menyuruhnya istirahat, namun Khansa sama sekali tidak ingin istirahat karena dia tidak merasa lelah.


“Mi, Bernard berangkat kerja dulu ya.” Pamit Bernard kepada sang mami mertua.


“Iya hati-hati.” Jawab Khansa.


Dengan segera Bernard mencium punggung tangan mertuanya sebelum akhirnya berangkat ke perusahaannya.


“Bagaimana Darren dan Karren selama ini? Apa yang mereka lakukan?” tanya Khansa kepada Key.


“Mereka baik-baik saja kok mi, mereka sangat dekat dan kemana-mana selalu bareng, hari ini saja Karren tidak ke kampus sama Darren karena Darren menjemput pacar barunya dulu.” Jelas Key.


“Anak itu, sudah berapa banyak wanita yang dia kencani! Semoga saja kejadian Ken tidak terjadi kepadanya!” keluh khansa sambil menghela nafas panjang.


“Mami kok bilangnya gitu? Darren memang seringkali gonta ganti wanita, tapi tidak mungkin dia melakukan hal di luar batas.” Ucap Key membela keponakannya.


Padahal Key tidak tau kalau di luar sana Darren seringkali check in dengan para kekasihnya.

__ADS_1


Walaupun Darren sudah di wanti-wanti agar tidak melakukan hal yang tidak senonoh yang akan mengakibatkan kekasihnya hamil, namun Darren tidak perduli dan tidak mendengarkannya.


Dia terus melakukannya dan dengan santainya dia bicara kalau kekasihnya tidak akan hamil karena dia selalu memakai pengaman saat melakukannya.


__ADS_2