DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 93 (TIDAK ADA YANG LEBIH PENTING)


__ADS_3

Pertama-tama author mau minta maaf sama kakak-kakak semua karena sudah membuat semuanya nunggu author up huhuhu..


Ga tau emang lagi musim apa cuacanya emang ga enak, suami author sakit, author juga pusing, orderan kue juga membludak alhamdulillah jadi ga semper up huhuhu...


Author pasti usahain update, kalo ada waktu luang juga author bakal crazy up lagi kok tenang saja, di tunggu ya kakak... Saranghaee~~


***


Teriakan Karren yang kencang itu berhasil membuat seseorang yang kebetulan sedang lewat di depan toilet menghentikan langkahnya.


Orang itu tahu betul kalau suara teriakan itu adalah suara Karren karena dia sudah bersama Karren selama dua tahun ini.


Orang itu adalah Kevin, dia ingin sekali masuk ke dalam toilet, tapi ragu.


Sebenarnya dia sangat khawatir setelah mendengar teriakan Karren, tapi dia juga tidak mungkin asal masuk ke dalam toilet perempuan.


Kevin juga menduga kalau Karren teriak karena dia melihat kecoa, Karren memang takut serangga, Karren kan memang lebay.


Namun tiba-tiba saja suara tawa dari seseorang yang tidak Kevin kenal terdengar hingga membuat Kevin mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.


“Meskipun sekarang kamu masih bisa bernafas, tapi saya yakin kalau sebentar lagi kamu akan mati! Ga akan ada orang yang menemukan kamu sampai besok karena saya akan mengunci toilet ini.”


Kevin yang berada di luar terkejut mendengar suara itu, rasa panik dan khawatir mulai menguasai dirinya, sebisa mungkin dia tetap berusaha untuk tenang dan tidak tergesa-gesa.


Karena ada yang harus dia lakukan terlebih dahulu sebelum menyelamatkan Karren.


Kevin membuka pintu dengan sangat pelan sampai tidak menimbulkan suara. Dia berjalan mengendap-endap seperti maling dan bersembunyi di balik dinding dengan membawa ponselnya yang sedang dalam mode rekam video.


Kevin melihat ke arah layar ponselnya dan terkejut saat melihat yang melukai Karren adalah Sarah.


Sungguh Kevin tidak menyangka Sarah bisa berbuat seperti itu, meskipun Kevin tidak rela Karren menikah dengan Gibran, tapi Kevin sama sekali tidak pernah berpikiran untuk melukai Gibran.


Bagaimana bisa melukainya, di saat Gibran melotot saja sudah membuat Kevin menjadi ciut apa lagi melukainya.


“Ini akibatnya kalau kamu berusaha untuk merebut Gibran dari saya, sebentar lagi Gibran akan menjadi milik saya dan kamu? Kamu akan kembali ke pangkuan tuhan hahaha.” Ucap Sarah sambil tertawa.


Sarah berdiri di depan tubuh Karren yang terbaring lemas dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya.


Karena tidak tega melihat keadaan Karren yang bisa saja semakin memburuk jika tidak segera di tolong, Kevin pun menyudahi rekaman videonya.


Sebelum menghampiri Karren, dia menyempatkan untuk mengirim rekaman barang bukti itu kepada Gibran, Darren dan juga Bernard.

__ADS_1


Jika Sarah nanti memaksanya menghapus barang bukti itu, itu semua akan terlambat karena barang bukti sudah tersebar.


“Pinter banget emang gue, emak gue pasti bangga nih sama gue.” Gumam Kevin memuji dirinya sendiri.


Dari tiga nomor yang Kevin kirimi video, hanya Gibran saja yang langsung membukanya, tentu saja dia langsung membukanya karena dia penasaran dengan video yang di kirim oleh saingannya itu.


Kevin memutar bola matanya jengah saat melihat Gibran mengetik tapi tidak selesai-selesai. Karena malas menunggu balas Gibran, Kevin pun mengirimkan lokasinya saat ini kepada Gibran tanpa di minta.


Setelah pesan terkirim, Kevin memasukkan ponselnya lalu menghampiri Karren dengan pura-pura terkejut.


“Astaghfirullah! Bu Sarah! Bagaimana bisa ibu melakukan hal seperti ini!” teriak Kevin tanpa takut.


Kevin merasa dia tidak perlu takut karena bukti kejahatan Sarah sudah berada dalam genggamannya.


“K-Kevin..” ucap Sarah yang terlihat ketakutan.


Sarah refleks mundur dengan wajah yang pucat, dia ketakutan karena ada seseorang yang mnjadi saksi kejahatannya.


“Karena kamu sudah melihat semuanya, maka saya akan menghabisi kamu juga!” ucah Sarah yang siap mencekik Kevin.


Tapi usahanya gagal karena Kevin yang tadinya berjongkok untuk melihat keadaan Karren langsung berdiri dan menahan tangannya.


Kevin memutar tangan Sarah untuk mengunci pergerakannya sehingga Sarah merintih kesakitan dan tidak bisa bergerak.


“Bukankah itu ucapan bodoh? Ibu tau kalau saya tidak akan pernah melepaskan ibu, kenapa itu menghabiskan tenaga dengan berteriak meminta di lepaskan?” ucap Kevin.


“Sebaiknya kita ngobrol dulu aja sebelum ada seseorang yang menjemput ibu.” Lanjut Kevin berbicara di dekat telinga Sarah.


“Siapa?” tanya Sarah dengan panik.


“Ibu maunya siapa? Polisi? Apa orang yang membuat ibu melakukan hal seperti ini?” tanya Kevin yang membuat Sarah semakin ketakutan.


“Lepaskan saya!” teriak Sarah kembali.


“Ibu udah punya planning buat di kerjain selama di penjara?” tanya Kevin.


“P-penjara?” ucap Sarah yang saat ini sudah berkeringat dingin mendengar ucapan Kevin.


“Iyalah bu, tempatnya penjahat kan emang di penjara.” Balas Kevin.


“Kevin, jangan macam-macam dengan saya!” teriak Sarah sambil berusaha untuk melepaskan diri.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Gibran datang bersama denga para dosen, dia terkejut melihat keadaan Karren yang masih bersimbah darah di kepalanya.


“Kevin, kamu kenapa malah peluk Sarah? Harusnya kamu menolong Karren.” Teriak Gibran dengan kesal lalu berlari menghampiri Karren.


Kevin melongo tidak percaya, dia reflek menoleh ke arah Sarah begitu juga dengan Sarah dan akhirnya mereka bertatapan beberapa detik lalu bergidik ngeri.


Sarah segera di amankan oleh para dosen laki-laki, sedangkan para dosen wanita mulai mengerubungi Karren.


“Karren, bangun Karren!” ucap Gibran sambil menepuk-nepuk pipi Karren dengan pelan.


Melihat tidak ada reaksi yang di tunjukkan oleh Karren membuat Gibran semakin ketakutan.


Perempuan yang dia cintai, yang biasanya banyak tingkah itu sekarang sedang tergulai lemah tak berdaya.


“Langsung di bawa ke rumah sakit aja pak Gibran.” Ucap salah satu dosen wanita yang ada di sana.


Gibran baru tersadar dari kebodohannya yang membuang-buang waktu hanya untuk membangunkan Karren.


Dia segera mengangkat tubuh Karren dan membawanya ke rumah sakit, Kevin pun mrngikuti Gibran dari belakang karena dia juga mengkhawatirkan keadaan Karren.


Di tempat lain, Bernard yang baru selesai membuat bahan untuk rapatnya nanti segera melihat ponselnya yang tadi sempat berbunyi tapi tidak di pedulikan karena merasa tidak penting.


Dan benar saja, saat melihat notifikasi layar ponselnya Bernard langsung menghela nafas kesal saat membaca ada pesan dari ‘Bocah Tengik’ ya, nama itulah yang di tulis Bernard untuk Kevin.


Namun matanya melotot saat melihat isi pesan yang di kirim oleh Kevin, laki-laki yang di katakan bocah tengik itu mengirim video putri kesayangannya sedang di aniaya sampai tidak berdaya.


Rahang Bernard mengeras, tangannya mengepal sempurna dan amarahnya membara melihat penampakan itu.


“Beraninya dia menyentuh putriku!” ucap Bernard yang langsung beranjak dari tempat duduknya hanya dengan membawa ponsel di tangannya.


“Tuan, anda mau kemana?” tanya Jonathan yang masih setia mendampingi Bernard sampai saat ini.


“Jo, putriku dia...” Bernard tidak mampu menjelaskan kepada Jonathan, Bernard hanya memberikan poselnya kepada asisten pribadinya itu.


“Silahkan pergi tuan, aku akan mengantar anda.” Balas Jonathan.


“Tapi tuan, sebentar lagi rapatnya akan di mulai.” Ucap seorang wanita yang tidak lain adalah sekretaris Bernard.


Mendengar ucapan sekretarisnya membuat Bernard berbalik melihat wanita itu dengan tatapan tajam membuat wanita yang di tatap merinding seketika.


“Apa kamu pikir rapat lebih penting dari putriku?!” ketus Bernard yang langsung berlari meninggalkan Jonathan dan sekretarisnya itu.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak bisa membaca situasi? Tidak ada yang lebih penting bagi tuan Bernard jika menyangkut keluarganya, camkan itu!” tegas Jonathan yang langsung berlari mengikuti atasannya.


Melihat dan mendengar apa yang baru saja terjadi membuat sekretaris itu mematung di tempatnya, rasanya bulu kuduknya berdiri karena tatapan tajam kedua orang itu.


__ADS_2