
“Emangnya lo ga mau di nikahin sama gue?” tanya Kevin yang masih tertawa.
“Mau, tapi ga sekarang.” Balas Karren.
Mendengar ucapan Karren membuat Kevin seketika menghentikan tawanya, Kevin tidak pernah menyangka kalau Karren akan menanggapi ucapannya seperti itu.
“Tumben lo langsung mau, biasanya kan gue cuma di jadiin cadangan.” Ucap Kevin.
“Kan lo sendiri yang bilang, sama siapa aja gue deket sekarang, pasti akhirnya balik lagi sama lo.” Balas Karren.
“Good! Gue kan emang cerminan dari diri lo, sama-sama bobrok kita hahaha.” Balas Kevin.
Karren hanya menggelengkan kepala sambil memutar bola matanya.
“Ya, ya, ya, udah buruan gendong gue!” ucap Karren.
Kevin segera menggendong Karren, sedangkan Karren mengalungkan tangannya di leher Kevin.
Kevin dengan mudah mengangkat tubuh Karren, karena memang Karren tidak terlalu berat, di tambah Kevin juga sering nge gym membuatnya kuat dan kekar.
Kevin menurunkan Karren di sofa depan tv, di sana tidak ada tanda-tanda Darren yang kata Kevin sedang bermain ps.
“Mana Darren?” tanya Karren.
“Ga tau deh, mungkin dia pulang.” Balas Kevin yang di balas anggukan kepala oleh Karren.
“So, di mana tempat rotinya tuan putri?” tanya Kevin yang masih berdiri bersiap untuk mengambilkan Karren roti.
“Coba cari di atas meja makan, biasanya mami taruh roti di sana.” Ucap Karren.
Kevin mengangguk, dia segera berjalan menuju ruang makan untuk mencari roti.
Dan benar saja, ada roti yang tersedia di sana beserta selainya, Kevin memberikan selai coklat di 3 lembar roti karena Kevin tau kalau Karren sangat suka rasa coklat.
"Nih, selamat menikmati tuan putri.." ucap Kevin sambil memberikan roti kepada Karren.
Tidak lupa Kevin juga menyiapkan minuman untuknya dan untuk Karren.
__ADS_1
"Wih perhatian banget calon laki." puji Karren.
Kevin hanya memutar bola matanya jengah lalu duduk di sebelah Karren sambil ikut menonton kartun yang di setel Karren.
Mereka berdua sudah biasa saling menggoda satu sama lain, jadi mereka tidak pernah sampai baper saat di goda seperti itu.
Karren sudah menghabiskan empat potong roti yang di siapkan Kevin, saat ini perutnya sudah kenyang, lalu dia meminum susu yang tadi di berikan Kevin.
Karren sama sekali tidak berniat memakan nasi karena perutnya seperti menolak nasi yang masuk ke dalam tenggorokannya.
Sejak tadi Kevin lah yang menyuapi roti kepada Karren, hingga saat Kevin ingin menyuapinya lagi Karren memalingkan wajahnya.
"Udah kenyang.." ucap Karren.
Kevin hanya mengangguk dan terus memotong roti namun di suapkan ke dalam mulutnya sendiri.
Saat ini Karren sedang fokus dengan kartun yang ada di tv, kepalanya kembali pusing karena dia tidak meminum obat.
Tanpa aba-aba, Karren langsung menidurkan kepalanya di paha Kevin, membuat laki-laki yang sedang fokus menonton itu terkejut.
Biasanya jika sedang sakit Karren akan bermanja dengan orang tuanya, jika tidak ada orang tuanya dia akan bermanja dengan Darren.
Namun karena ketiga orang itu tidak ada, maka Kevin lah tempat Karren bermanja saat ini karena kepalanya benar-benar pusing.
Kevin yang awalnya terkejut mulai bersikap santai dan saat ini tangannya sudah berada di kepala Karren membelainya dengan lembut sambil matanya masih fokus ke tv.
Hal itu membuat Karren mulai mengantuk dan perlahan memejamkan kedua matanya, namun tiba-tiba saja ketukan pintu di depan membuat Karren kembali membuka kedua matanya.
“Bi Ina, tolong buka pintunya!” teriak Karren pada asisten rumah tangganya.
Karren malas sekali bangun hanya untuk membuka pintu, apa lagi saat ini posisinya sudah dalam posisi wenak.
“Siap non...” sahut bi Ina sambil berlari menuju pintu depan.
Bi Ina membuka pintu lalu tersenyum kepada orang yang ada di hadapannya, orang itu adalah Gibran.
“Den Gibran, ada apa ya?” tanya bi Ina.
__ADS_1
“Oh bi, ini saya mau memberikan oleh-oleh dari mama saya untuk tante Key.” Ucap Gibran sambil menunjukkan paper bag yang dia bawa.
Gibran memang di beri amanah untuk memberikan oleh-oleh kepada Key, kebetulan Yulia baru saja liburan ke Lombok karena memang Yulia sangat suka travelling.
Awalnya Gibran tidak mau menjalankan amanah yang di berikan oleh mamanya karena dia merasa tidak adil karena yang di berikan oleh-oleh hanyalah keluarga Key, sedangkan tetangga yang lainnya tidak.
Karena memang semenjak pertemuan waktu itu, Key dan Yulia semakin dekat, mereka sering mengirim pesan, sering komen dan like di sosial media.
Namun karena Yulia memakai jurus jitu untuk mengancam Gibran jadi putranya itu mau memberikan oleh-oleh yang di titipkan.
Jurus jitu yang di pakai Yulia untuk mengancam putranya tidak lain dan tidak bukan adalah menyuruh Gibran untuk membawa calon istri ke hadapannya.
“Waduh den, tuan Bernard sama nyonya Key lagi keluar, cuma ada non Karren aja di dalam.” Jawab bi Ina memberitahu.
Gibran terdiam beberapa saat memikirkan sesuatu, bisa saja dia menitipkan oleh-olehnya pada bi Ina, tapi dia ingin memastikan sesuatu.
Karren tadi tidak masuk kuliah, tanpa keterangan, seebenarnya Gibran marah karena apa yang di lakukan Karren terlihat seolah perempuan itu tidak takut dengan ancaman yang Gibran berikan jika Karren melanggar salah satu aturannya.
Tapi Gibran juga merasa khawatir dengan keadaan Karren, apa lagi saat mengingat Karren kemarin pulang dalam keadaan basah kuyup.
Gibran merasa bersalah, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain melihat Karren di bonceng Kevin di tengah derasnya hujan. Tanpa Karren ketahui saat itu Gibran melihatnya dari balkon kamarnya.
“Saya boleh masuk bi? Saya ingin memberikan oleh-oleh ini secara langsung kepada Karren.” Ucap Gibran.
“Oh boleh den, silahkan masuk.” Balas bi Ina yang mempersilahkan Gibran masuk ke dalam rumah.
Dengan ragu Gibran masuk ke dalam rumah, setelah menolak mengantar Karren pulang, sekarang dia malah mendatangi rumah perempuan itu meskipun dengan alasan yang cukup masuk akal.
“Non Karren ada di ruang tengah den.” Ucap bi Ina karena Gibran hanya diam saja setelah masuk ke dalam rumah.
Gibran mengangguk lalu berjalan mengikuti bi Ina ke luar tengah. Namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang membuat perasaannya tidak karuan.
Entah kenapa hati Gibran tiba-tiba saja terasa perih, seolah ada puluhan jarum yang melubangi hatinya.
Di depannya saat ini, Karren sedang tidur di paha Kevin sebagai bantalnya, kedua orang itu masih belum menyadari keberadaan Gibran.
Yang membuat Gibran bertanya-tanya saat ini, kenapa dia tidak melihat kendaraan Kevin di depan rumah Karren, apa laki-laki itu berjalan kaki sampai ke rumah Karren? Atau dia terbang?
__ADS_1