
Sarah melihat Key dan Yulia yang sudah masuk ke dalam rumah, di dalam pikirannya dia terus mengagumi Key yang sangat cantik dan terlihat muda, pantas saja Karren secantik itu, maminya saja cantik. Begitulah kiranya apa yang ada di pikiran Sarah.
Namun Sarah segera menghapus kekagumannya dan segera menoleh ke arah Gibran dan Karren.
“Bu Sarah.” Sapa Karren dengan sopan.
Namun bukannya membalas sapaan Karren, Sarah lebih memilih berdiri di hadapan Gibran dengan senyum manisnya.
Karren yang awalnya bersikap sopan langsung menatap tajam ke arah Sarah, jangan mentang-mentang Sarah adalah dosennya lalu dia bisa seenaknya pikir Karren.
“Hai Gibran, kebetulan sekali karena kamu adalah sepupu dari calon kakak iparku.” Ucap Sarah.
Gibran hanya tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.
“Oh iya, kenapa kamu dan Karren memakai baju samaan?” Tanya Sarah.
Seketika Karren memiliki ide gila dan segera merangkul lengan Gibran tiba-tiba membuat Sarah dan juga Gibran terkejut.
“Iya nih bu, aku juga kaget ternyata mas Gibran kebetulan ngeliat aku udah pake baju navy di kamarku jadi dia ikutan deh.” Ucap Karren dengan mesranya.
“Kamar? Maksudnya? Bagaimana bisa Gibran melihatmu di kamarmu?” Tanya Sarah dengan wajah yang penasaran.
“Kan kami tetanggaan, rumah kami berhadapan jadi kamarku dan kamar Karren berhadapan langsung dan kami bisa saling melihat satu sama lain.” Jelas Gibran dengan cuek.
“Apa!? Jadi kalian berdua seringkali melihat satu sama lain di dalam kamar?” Tanya Sarah.
“Iya, mas Gibran juga seringkali membantuku menerangkan tugas yang tidak aku mengerti, iya kan mas?” Tanya Karren.
Mendengar Karren memanggil ‘mas’ kepada Gibran dengan mesranya sejak tadi, membuat Sarah semakin kesal.
“Karren! Gibran ini dosen kamu jadi yang sopan!” ketus Sarah.
“Tapi mas Gibran ga pernah keberatan sama panggilan itu kok selama tidak di lingkungan kampus.” Ucap Karren.
“Itu karena Gibran ga bisa nolak dan orangnya ga enakan! Sebenarnya dia juga ga nyaman kamu panggil seperti itu! Kamu kan bukan istrinya, ngapain panggil dia mas!?” ucap Sarah.
“Mas Gibran ini calon suamiku, jadi sebaiknya ibu yang pergi jauh-jauh dari mas Gibran.” Balas Karren tidak mau kalah.
“Apa? Calon suami? Hahaha, jangan menghayal Karren!” ucap Sarah yang tiba-tiba tertawa.
__ADS_1
“Apa aku sedang mengkhayal? Apa yang aku ucapkan itu benar adanya." ucap Karren yang mulai kesal.
"Kamu sama sekali bukan selera Gibran, dia menyukai wanita yang solehah dan tertutup, tidak seperti kamu yang sukanya mengumbar aurat dan juga murahan karena mau di pegang sana sini!" ucap Sarah.
Kali ini ucapan Sarah sudah sangat keterlaluan, Karren sebenarnya masih bisa menahan emosinya, hanya saja tidak dengan Gibran, menurutnya Sarah sudah kelewat batas.
"Cukup Sarah! Kamu tidak perlu menghina Karren seperti itu! Bukankah percuma jika menutup aurat tapi ucapannya merendahkan wanita lain? Kamu juga wanita Sarah, bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu sesama wanita!" tegas Gibran.
Untuk pertama kalinya Sarah mendengar Gibran berbicara dengannya dengan nada tegas, tentu saja Sarah terkejut karena hal itu.
Sedangkan Karren juga terkejut tapi bukan karena nada bicara Gibran, melainkan karena Gibran membelanya, dan hal itu membuat Karren bahagia hingga matanya berair.
"Gibran, tapi aku..." Sarah ingin melakukan pembelaan namun Gibran langsung mengangkat tangannya menandakan kalau dia tidak ingin Sarah berbicara lagi.
Gibran segera menarik tangan Karren dan masuk ke dalam untuk menghormati tuan rumah karena mereka juga sudah ada di sana.
Tapi Gibran berniat untuk segera pulang saat acaranya sudah selesai.
Kali ini Gibran benar-benar kesal kepada Sarah, rasanya percuma Sarah memakai kerudung menutupi auratnya tetapi masih saja menghina sesama wanita.
Bahkan dengan lantangnya Sarah mengatakan Karren wanita murahan.
"Gibran kesal ma tadi.." baru saja Gibran mau mengatakan yang sebenarnya, tapi Karren langsung mencegahnya.
Karren menggelengkan kepalanya sedikit sehingga tidak ada yang menyadarinya selain Gibran.
"Kenapa?" tanya Yulia kembali.
"Ga apa-apa tante, tadi Karren masih benerin make up makanya lama terus mas Gibran kesel hehe." jawab Karren berbohong.
Yulia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sedangkan Gibran begitu takjub dengan Karren, bagaimana tidak? Karren sengaja berbohong untuk menutupi hinaan Sarah kepadanya tadi.
"Bagaimana bisa yang selalu mengumbar aurat malah lebih menghargai sesama." batin Gibran di dalam hatinya.
Acara pun di mulai, Gibran dan Karren melihat semua acara demi acara dengan tenang, sedangkan seseorang yang saat ini duduk di pojokan melihat ke arah Karren dan Gibran dengan tatapan tidak suka.
“Ma, karena acaranya sudah selesai Gibran sama Karren pulang dulu ya? Mama sama tante Key ga apa-apa kan ikut rombongan lain?” Tanya Gibran.
“Loh kamu sama Karren ga makan dulu aja? Udah siang loh nanti sakit perut kalo telat makan.” Ucap Yulia.
__ADS_1
“Ga apa-apa ma nanti aku ajak Karren makan siang di luar.” Balas Gibran.
“Sudahlah mbak, biarkan saja mereka bersama, anggap saja sedang berada di fase pendekatan.” Balas Key yang di balas anggukan oleh Yulia.
Gibran dan Karren segera berdiri dari tempat duduk mereka setelah mendapatkan ijin dari Yulia dan Key.
Sedangkan Sarah yang melihat Karren dan Gibran sudah berdiri dan berjalan keluar rumah segera menyusul mereka.
“Gibran tunggu! Maaf karena ucapanku tadi sudah membuatmu marah, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menghina siapapun.” Ucap Sarah.
“Untuk apa kamu meminta maaf kepadaku? Yang seharusnya kamu berikan ucapan maaf adalah Karren, karena dia yang tadi kamu hina, sedangkan aku hanya mengingatkanmu sebagai seorang teman.” Tegas Gibran.
Jlebb!! Rasanya sakit sekali saat Gibran mengatakan kalau mereka hanyalah sebatas teman saja.
“Gibran…”
“Sudahlah Sarah aku mohon jangan bicara apapun lagi.” Ucap Gibran.
“Tapi Gibran, kamu mau ke mana bersama Karren?” Tanya Karren.
“Aku ingin pulang, aku lelah dan kebetulan Karren juga lelah, permisi.” Ucap Gibran yang langsung membukakan pintu untuk Karren.
Setelah itu Gibran ikut masuk ke dalam mobil dan dengan segera Gibran menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sedangkan Sarah hanya mematung di tempatnya, dia melihat mobil Gibran yang perlahan mulai menjauh, dia mengepalkan kedua tangannya menahan kesal dengan apa yang terjadi.
Sarah kesal karena Gibran membentaknya di hadapan Karren, mahasiswi yang sangat tidak dia sukai.
“Aku tidak akan membiarkan Karren mendapatkan Gibran kalau aku tidak bisa mendapatkannya.” Gumam Sarah dengan penuh keyakinan.
Sedangkan di dalam mobil, Karren terus memandangi wajah tampan Gibran yang semakin terlihat tampan saat sedang focus menyetir.
“Terimakasih mas…” ucap Karren tiba-tiba membuat Gibran menoleh ke arah Karren sekilas.
“Terimakasih untuk apa?” Tanya Gibran heran.
“Karena kamu sudah membelaku tadi, aku seneng banget loh ternyata kamu perhatian banget sama perasaan aku.” Ucap Karren.
“Aku hanya tidak suka kalau temanku mengatakan hal yang tidak pantas kepada sesama wanita.” Jelas Gibran.
__ADS_1
Ucapan Gibran membuat Karren yang awalnya melayang seketika hancur berkeping-keping seperti di hancurkan.