
“Gue kan udah bilang sama lo Ren, kalo pak Gibran sama bu Sarah tuh ada sesuatu, sekarang udah kebukti kan? Lo liat sendiri kan, dia lebih milih bu Sarah dari pada lo.” Sahut Silvia.
Ucapan Silvia berhasil mengganggu pikiran Karren, meskipun sudah berusaha untuk membantah, tapi yang di katakan Silvia memang benar. Kenyataan Gibran lebih memilih Sarah di bandingkan dirinya membuat kepercayaan Karren menurun.
Karren beranjak dari tempat duduknya, dia kesal dengan semua ucapan teman-temannya tentang Gibran, dan lebih kesal lagi dengan pemandangan yang harus dia lihat.
“Mau ke mana beb?” tanya Kevin saat melihat Karren beranjak dari tempat duduknya.
“Ke toilet.” Jawab Karren singkat.
“Mau gue anter?” tanya Silvia.
“Ga perlu, gue bentar doang kok.” Balas Karren.
Karren segera berjalan keluar kantin, namun karena melamun Karren tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang berlari di hadapannya dan akhirnya...
Brugg!! Tabrakan tidak terhindar, seorang mahasiswa laki-laki tidak sengaja menabrak Karren dan mengakibatkan minuman yang dia bawa tumpah mengenai kemeja Karren yang berwarna putih.
“S-sorry gue ga sengaja Ren.” Ucap laki-laki itu dengan perasaan bersalah.
Karren tersenyum seperti biasanya, dia tetap memberikan senyum terbaiknya walaupun hatinya sedang panas.
Benar-benar hari yang sangat sial! Begitulah yang ada di pikiran Karren.
“Tidak apa-apa kok nanti juga kering sendiri.” Balas Karren.
Laki-laki yang menabrak Karren merasa bersalah, dia melangkahan kakinya mendekati Karren untuk menuupi pakaiannya yang menerawang karena basah.
Kejadian tadi tentu saja tidak luput dari penglihatan Gibran, karena sejak Karren beranjak dari kursinya, Gibran terus menatap ke arah Karren dan akhirnya Gibran memutuskan untuk menghampiri keramaian tersebut.
“Gibran kamu mau ke mana?” tanya Sarah saat Gibran sudah berdiri.
Namun Gibran tidak menggubris ucapan Sarah, dia terus berjalan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, seketika Gibran melepaskan satu per satu kancing kemejanya membuat seluruh mahasiswa yang melihatnya berseru kagum.
Setelah mendekati Karren, Gibran segera melepaskan kemejanya dan memakaikannya kepada Karren dan membuat Karren terkejut.
“Mas?” ucap Karren.
“Pakai saja!” tegas Gibran.
Namun saat ini perhatian Karren tertuju ke arah tubuh Gibran yang hanya memakai kaos dalam dan memperlihatkan otot-otot di tubuh Gibran.
Karren melotot, dia menatap ke arah Gibran dengan tatapan tajam, lalu Karren melihat ke arah para wanita yang sedang memandangi tubuh Gibran dengan tatapan kagum.
__ADS_1
“Maksudnya apa lepas baju segala? Kamu mau pamerin badan kamu ke cewek-cewek?!” ketus Karren dengan kesal membuat Gibran terkejut.
“Kenapa kamu jadi marah sama saya? Harusnya saya yang marah, kamu ga sadar tubuh kamu jadi tontonan banyak laki-laki di sini hah?!” balas Gibran.
Mendengar ucapan Gibran membuat Karren melihat ke arah kemejanya yang ternyata menerawang, Karren pikir kemejanya tidak akan menerawang karena bahannya tebal, tapi ternyata dia salah.
“Udah cepetan pake kemejanya, kamu mau lebih lama lagi jadi bahan tontonan?” ucap Gibran.
Dengan segera Karren memakai kemeja Gibran dan mengancingnya hingga tubuhnya tertutup sempurna dengan kemeja yang kebesaran di tubuhnya itu.
“Terus kamu gimana?” tanya Karren.
“Ga usah mikirin saya, yang penting tubuh kamu ga jadi bahan tontonan laki-laki!” tegas Gibran.
“Tapi sekarang kamu yang jadi bahan tontonan cewek-cewek! Aku ga suka!” ketus Karren.
“Ada pakaian lebih di ruangan saya, nanti saya pakai.” Ucap Gibran.
Sepertinya memang hari ini adalah hari kesialan bagi Karren, sedangkan bagi para wanita lain hari ini adalah hari keberuntungan mereka karena bisa melihat tubuh Gibran yang sexy.
Gibran membawa Karren ke ruangannya, keduanya tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang sedang menatap ke arah mereka berdua.
Para dosen yang ada di sana juga melihat ke arah mereka dengan tatapan terkejut.
Bahkan tidak ada yang bertanya tentang hal itu sangking terkejutnya mereka.
"Duduklah dulu di sini." Ucap Gibran sambil mendudukkan Karren di sofa yang ada di ruangannya.
Karren mulai membuka satu per satu kancing kemeja milik Gibran membuat sang pemilik kemeja terkejut melihatnya.
"Apa yang kamu lakukan Karren?" tanya Gibran.
"Aku mau buka kemeja kamu mas, aku ga suka kamu di liatin cewek-cewek gitu!" balas Karren.
"Kancing lagi kemejaku! Aku masih punya baju cadangan di sini." ucap Gibran.
"Mana buktinya? Aku ga liat ada baju di sini tuh." sahut Karren sambil melihat ke sekeliling ruangan Gibran.
Gibran pun melihat ke arah gantungan yang biasanya dia menjadi tempat dia menggantung pakaiannya, namun benar-benar tidak ada pakaian di sana.
"Ah sepertinya saya lupa meninggalkan pakaian saya di mobil." ucap Gibran.
"Kamu tunggu di sini ya, saya mau ambil pakaian dulu di mobil." pamit Gibran,
__ADS_1
Namun dengan cepat Karren menahan tangan Gibran.
"Ada apa?" tanya Gibran yang sudah menoleh ke arah Karren.
"Jangan pergi! Aku akan meminta Kevin mengambil pakaianmu, aku tidak ingin kamu menjadi pusat perhatian lagi." ucap Karren.
"Aku ga mau meminta bantuan laki-laki itu!" tegas Gibran.
"Kenapa?"
"Ya, pokoknya aku ga mau!"
"Baiklah kalau begitu aku minta tolong Darren, diam di sini!" tegas Karren.
Akhirnya Gibran diam seribu bahasa, dia tidak berbicara apa-apa lagi dan duduk di kursinya.
Karren segera menghubungi saudara sepupunya itu dan menyuruhnya untuk datang ke ruangan Gibran.
Beberapa menit kemudian akhirnya seseorang mengetuk pintu ruangan Gibran, dengan segera Karren berdiri dan membukakan pintu ruangan Gibran, namun yang dia lihat bukanlah sepupunya melainkan Sarah.
"Bu Sarah? Kenapa ibu di sini?" tanya Karren dengan tidak bersahabat.
"Bukannya seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu ada di dalam ruangan Gibran? Sedang apa kamu satu ruangan dengan dosenmu?" tanya Sarah dengan ketus.
"Apaan sih bu, ibu juga ada di sana kan tadi? Jadi pasti ibu tau apa yang terjadi sampe aku ada di ruangan mas Gibran." balas Karren.
"Mas? Dia dosen kamu bukan suami kamu yang bisa di panggil mas seenaknya!" Sarah mulai emosi saat mendengar panggilan Karren kepada Gibran.
"Kenapa? Dia emang calon suami aku kok!" balas Karren.
Gibran yang awalnya hanya diam dan menyimak akhirnya ikut bicara saat keadaan semakin memanas.
Gibran menarik Karren agar dia bisa mengintip di ambang pintu dan berbicara dengan Sarah.
"Sarah, jangan dengarkan apa yang dia bicarakan." ucap Gibran.
"Kamu kenapa masih belum pake baju? Apa yang kalian lakukan di dalam sana?" tanya Sarah.
"Sarah, kami tidak melakukan apa-apa, pakaianku ada di mobil dan Karren akan menyuruh Darren untuk mengambilnya." ucap Gibran.
Dan tepat sekali, Darren tepat berada di belakang Sarah.
"Apa aku di suruh kemari untuk melihat drama rumah tangga kalian?" tanya Darren dengan polosnya.
__ADS_1