
“Sabar pak Gibran, saya tahu Karren adalah perempuan yang kuat, dia tidak mudah menyerah apa lagi di saat masih banyak orang yang menyayanginya.” Ucap Berlin.
“Dia pernah berkata kepada saya,bahwa dia hanya akan menyerah saat dirinya sudah tidak di harapkan, jadi saya yakin kalau Karren akan kembali.” Lanjutnya.
Mendengar ucapan bu Berlin membuat Gibran mengingat ucapan Karren saat di dalam mobil menuju mall waktu itu, kata-katanya berbeda tapi maksudnya kurang lebih sama dengan yang di ucapkan bu Berlin tadi.
“Yaudah kalau begitu saya duluan ya pak.” Ucap bu Berlin yang membuyarkan lamunan Gibran.
“Eh, i-iya bu.” Balas Gibran.
Gibran segera berjalan menuju ke kelas untuk mengajar karena waktu terus berjalan, Gibran tidak bisa konsentrasi karena pikirannya masih berkelana memikirkan keadaan Karren, Gibran hanya memberikan sedikit penjelasan lalu memberikan mereka tugas untuk di kerjakan.
Selesai mengajar, Gibran kembali ke rumah sakit selesah mandi dan mengganti pakaiannya, di bangku tunggu di depan ruangan Karren sudah ada Darren, Kevin dan satu perempuan yang tidak Gibran kenali tapi dia merasa seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
“Kalian di sini?” tanya Gibran setelah duduk di sebelah Darren.
“Iya pak, kami langsung ke sini setelah pulang kuliah.” Jawab Darren.
Gibran mengangguk-anggukkan kepalanya lalu matanya tertuju kepada perempuan yang ada di sebelah Kevin.
“Dia siapa?” tanya Gibran.
“Dia pengikut saya pak.” Jawab Kevin sambil melirik ke arah perempuan di sebelahnya dengan perasaan kesal.
Sedangkan Gibran yang mendengar jawaban Kevin hanya bisa mengerutkan keningnya karena dia tidak mengerti maksud dari ucapan Gibran.
“Saya Trisna pak, calon pacarnya kak Kevin.” Sahut Trisna memperkenalkan diri dan berjabat tangan dengan Gibran.
“Pfftt..” tanpa sengaja Darren tertawa mendengar jawaban dari Trisna.
Sudah sejak tadi Darren menjadi penonton perdebatan keduanya, yah lumayan sebagai hiburan, sedangkan Kevin langsung melotot ke arah Trisna dan juga Darren secara bergantian.
“Heh, lo jangan buat berita palsu ya!” ketus Kevin sambil menatap tajam ke arah Trisna.
__ADS_1
“Baguslah, saya senang karena kamu sudah mendapatkan pengganti Karren.” Sahut Gibran.
“Hah? bukan pak, dia ini cuma orang gila yang terobsesi dengan saya.” Sahut Kevin tidak terima jika Trisna di sebut pengganti Karren.
“Udah ga usah bohong lah, kalian berdua cocok kok.” Balas Gibran.
Mendengar ucapan Gibran membuat Kevin refleks menoleh ke arahTrisna yang saat ini pipinya sudah memerah lalu seketika dia bergidik ngeri.
“Beneran pak? Kita cocok kan?” tanya Trisna memastikan dan di balas anggukan oleh Gibran.
“Tuh kan aku bilang juga apa, kita itu cocok kak, jadi kapan kak Kevin jadiin aku pacar kakak?” tanya Trisna kepada Kevin.
“Mau gue kurbanin lo hah? gue jadiin kambing guling lo kalo ngomong terus!” ketus Kevin yang membuat Trisna terdiam seketika.
Melihat keduanya terus berdebat hanya karena hal sepele membuat Gibran geleng-geleng kepala lalu mendekatkan mulutnya di telinga Darren.
“Apa mereka selalu seperti itu?” bisik Gibran.
“Yah, setiap ketemu pasti ada yang mau di debatin pak, kecuali kali mereka capek.” Balas Darren.
“Ga perlu pak, lumayan kan buat bahan tontonan.” Balas Darren sambil terkekeh.
Sedangkan Gibran hanya menghela nafas panjang dan akhirnya dengan pasrahnya dia mengikuti Darren menjadikan pertengkaran Kevin dan Trisna sebagai tontonan.
Seperti hari-hari biasanya, Darren dan Kevin akan menyempatkan untuk mampir ke rumah sakit, begitu juga dengan sahabat Karren yang lainnya seperti Silvia, Dina dan Clara.
Hari ini Gibran dan Key tetap menginap di rumah sakit seperti biasanya, dan hari ini Bernard juga ikut menginap di rumah sakit.
***
Hari-hari pun berlalu dan ini adalah hari ke tujuh Karren koma dan belum ada tanda-tanda dia akan bangun.
Entah dia sedang berlari maraton atau mengangkat besi di alam bawah sadarnya sampai keningnya terus mengeluarkan keringat yang membasahi kening Karren.
__ADS_1
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, Gibran tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya bersandar di tempat tidur pasien milik Karren.
Gibran baru saja selesai membaja doa untuk kesembuhan Karren, tadi juga Gibran melakukan sholat tahajud untuk meminta kesembuhan Karren.
Dan doanya seolah langsung di dengar oleh sang pencipta karena orang yang akhir-akhir ini menjadi prioritas dalam doanya sekarang sedang membuka kedua matanya secara perlahan.
Karren tersadar dari tidur panjangnya, dia masih merasa linglung, kedua matanya meneliti setiap sudut ruangan itu dan akhirnya dia menyadari jika dia sedang berada di rumah sakit setelah melihat infus yang terpasang di tangannya.
Karren menggerakkan kepalanya sedikit untuk mengubah posisi tidurnya, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit dan membuatnya mengerang pelan.
“arrgh..”
Rasanya kepada Karren seperti ingin terbelah, sungguh sakitnya melebihi saat Karren tersadar setelah mabuk.
Karren meraba kepalanya, dia merasa ada sesuatu yang melingkar di kepalanya dan itu adalah perban, perlahan ingatannya mulai kembali di saat dia dan Sarah sedang bertengkar sebelum kesadarannya hilang setelah Sarah membenturkan kepalanya ke dinding.
Lalu pandangan Karren beralih ke arah seseorang yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya, tanpa sadar bibir Karren membentuk sebuah senyuman.
Tanpa melihat wajahnya pun Karren sudah tau kalau orang yang sedang tertidur itu adalah calon suaminya, karena di lihat dari rambutnya, postur tubuhnya, dan parfumnya Karren sangat hafal dengan semua yang ada pada diri Gibran.
Karren menarik tangannya perlahan dari genggaman Gibran, dia melakukannya agar tidak membangunkan Gibran. Setelah tangannya lepas dari genggaman Gibran, Karren membelai rambut Gibran dengan lembut.
Dia sangat merindukan laki-laki itu, beberapa hari ini Karren memang berada di tempat lain yang tidak ada Gibrannya, jadi saat ini Karren sangat merindukan calon suaminya itu.
Ingin rasanya Karren memeluk tubuh Gibran, tapi sayang keadaannya saat ini membuat tubuhnya tidak bisa bergerak terlalu banyak.
Apalagi kepala Karren masih terasa sakit, jangankan di pakai untuk bangun, di pakai pindah posisi saja rasanya sangat menyakitkan.
Elusan tangan Karren membuat Gibran terbangun, awalnya Gibran tidak mengira kalau itu adalah Karren, Gibran pikir yang mengelus rambutnya adalah orang tua Karren yang berniat untuk membangunkannya.
Saat sudah menegakkan kepalanya, gibran terkejut melihat Karren sudah membuka matanya, di tambah tangan perempuan itu baru saja turun dari rambut Gibran menandakan kalau yang mengelus rambutnya tadi adalah Karren.
“Karren? Kamu sudah sadar?” tanya Gibran menatap Karren dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
Mata Gibran berkaca-kaca mengingat doa-doanya selama ini sudah di kabulkan dan dia bisa melihat calon istrinya membuka kedua matanya dan kembali sadar. Sedangkan Karren mengedipkan mata sambil tersenyum untuk memberitahu dia sudah baik-baik saja.