DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 96 (MERINDUKAN)


__ADS_3

Sudah tiga hari Karren tidak sadarkan diri, perasaan yang sebelumnya sudah sedikit lega karena mengetahui kalau luka di kepala Karren tidak terlalu serius sekarang mulai panik kembali.


Dokter memang tidak tahu Karren akan tidak sadarkan diri sampai bebrapa hari, tapi melihat kondisi Karren yang begitu saja tanpa ada perubahan membuat semua orang menjadi ketakutan.


Mereka yang awalnya percaya jika Karren akan segera sadar dan sembuh sekarang mulai bimbang. Gibran menatap wajah Karren dengan lekat, wajah itu terlihat damai, tidak ada make up yang biasa menghiasi wajahnya, bibir merah meronanya sudah menjadi pucat dan kering.


Selama tiga hari ini Gibran selalu berada di sisi Karren, dia hanya pergi untuk mengajar dan pulang sebentar untuk mandi, lalu Gibran kembali ke rumah sakit membawa pekerjaannya demi bisa selalu berada di dekat Karren.


Keluarga Karren sudah menyuruh Gibran untuk pulang dan beristirahat di rumah, tapi Gibran tidak mau dan memilih untuk tetap menjaga Karren di rumah sakit.


Selama tiga hari ini Gibran tidak bisa tidur dengan lelap, wajahnya terlihat lelah, sudah terlihat lingkaran hitam di matanya karena terus-terusan begadang.


Keadaan ini akhirnya membuat Gibran stress dan dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik meskipun membawa pekerjaannya ke rumah sakit.


Otaknya hanya bisa memikirkan Karren saja, dadanya terasa sesak melihat Karren yang sedang berjuang antara hidup dan mati seperti ini.


Perasaan cemas tidak pernah hilang dari dirinya, rasa itu akan selalu mengikuti Gibran, bahkan saat dia sedang mengajar sekalipun.


Akhir-akhir ini Gibran selalu fast respons saat ada pesan atau panggilan yang masuk ke ponselnya, dia rela menjeda penjelasan materinya hanya untuk melihat ponselnya dan hal itu tidak pernah terjadi selama ini.


Mau ponselnya terus bergetar puluhan kali pun Gibran tidak akan mengangkatnya jika dia sedang mengajar, Gibran melakukan itu semua karena takut panggilan atau pesan yang muncul ke ponselnya bersangkutan dengan Karren.


Malam ini Gibran menjaga Karren bersama dengan Key dan Andini, tadi Khansa dan Kalandra juga datang untuk menjaga cucu mereka, tapi Key memaksa kedua orang tuanya itu untuk pulang dan beristirahat di rumah mengingat usia mereka yang tidak muda lagi.


Sepanjang malam Gibran terus melantunkan doa sambil menggenggam tangan Karren dengan harapan agar kekuatan doanya bisa membuat Karren sadar.


Pagi pun tiba, Gibran berniat untuk pulang ke rumah setelah melaksanakan sholat subuh di masjid yang ada di rumah sakit karena dia harus mengajar nanti, sebelum pulang Gibran menyempatkan untuk membelai rambut Karren dengan lembut dan berpamitan kepada wanita itu.

__ADS_1


“Saya pulang dulu ya, cepat sadar jangan melangkah terlalu jauh agar kamu tidak kesulitan untuk kembali. Saya mencintai kamu.” Bisik Gibran di telinga Karren.


Gibran tersenyum dengan tatapan sendu lalu mencium kening Gibran dengan lembut. Gibran menghampiri Key yang sedang duduk di sofa, dia berniat pamit pada calon mertuanya itu.


“Saya pulang dulu tante, nanti saya akan kembali setelah mengajar.” Pamit Gibran yang langsung mencium punggung tangan Key.


Key mengangguk sambil tersenyum, wajahnya juga terlihat lelah sama seperti Gibran. Namun dia tetap memaksakan senyum untuk menguatkan orang-orang yang ada di sekitarnya dan meyakinkan kalau sesuatu yang buruk tidak akan terjadi.


“Kalau kamu lelah, kamu istirahat dulu aja di rumah, ga perlu ke sini dulu.” Ucap Key.


“Engga tante, saya tidak capek nanti saya akan ke sini lagi.” Ucap Gibran.


“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya.” Balas Key yang tidak bisa memaksa Gibran untuk beristirahat di rumah.


Gibran menganggukkan kepalanya lalu segera pergi, Gibran tidak berpamitan kepada Andini karena dia sedang sholat bergantian dengan Key.


Setelah lama menatap kamar Karren dari balkon kamarnya, barulah Gibran segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap berangkat ke kampus.


Gibran tidak sempat makan, sudah tiga hari ini makannya tidak teratur, dia tidak nafsu makan. Porsi makannya pun sangat sedikit dan hanya makan sekali dalam sehari itupun kalau ingat.


Saat Karren bangun nanti pasti dia akan terkejut dengan perubahan pada tubuh Gibran yang hanya dalam kurun waktu tiga hari.


Gibran berjalan di koridor dengan wajah datar seperti biasa, meskipun dia sedih tapi dia tidak mau menunjukkannya. Dia tetap menampilkan image dingin yang selalu melekat pada dirinya.


Banyak yang masih membicarakan tentang kejadian di mana Sarah melakukan tindak kekerasan kepada Karren. Beritanya sudah menyebar luas, baik lewat sosial media, TV, bahkan mendia cetak.


Banyak orang yang menyayangkan sikap Sarah yang rela melakukan kekerasan karena Gibran lebih memilih Karren, bahkan Sarah yang selalu berpakaian tertutup langsung mengubah cara berpakaiannya.

__ADS_1


Perempuan itu berani melukai orang lain tanpa merasa iba sama sekali, sungguh tidak pernah di sangka oleh para dosen yang selama ini dekat dengannya.


“Pak Gibran.” Panggil seorang dosen senior.


Mendengar namanya di panggil membuat Gibran menghentikan langkahnya lalu menoleh ke asal suara.


“Iya bu Berlin?” balas Gibran.


“Bagaimana keadaan Karren?” tanyanya.


Berlin adalah salah satu dosen yang umurnya sudah berkepala lima, hal itulah yang membuat Karren sering memanggilnya nenek.


Berlin tidak keberatan dengan panggilan itu karena dia juga sudah menganggap Karren sebagai cucunya sendiri. Bahkan dia awalnya berniat untuk mengenalkan Karren dengan cucunya berharap mereka bisa dekat.


Sayangnya, itu semua harus dia urungkan saat mendengar gosip kalau Karren sedang dekat dengan dosen baru di kampusnya mereka.


Berlin sama sekali tidak kecewa apa lagi saat mengetahui sifat Gibran, dia mendukung Karren bersama dengan Gibran dan melupakan rencananya untuk mengenalkan Karren kepada cucunya.


Jika di mata dosen lain Karren termasuk mahasiswi seksi yang suka menggoda, tapi di mata Berlin Karren tidak begitu. Menurutnya Karren adalah orang yang supel dan manis.


Karren bisa membangun suasana yang asik, tidak jarang Karren membawakannya makanan dan memberikannya di saat jam kuliahnya, bukan bermaksud untuk mencari muka karena Berlin tau kalau Karren bukan tipe mahasiswi yang suka mencari muka. Karren hanya bersikap seperti itu kepada dosen yang dekat dengannya saja.


“Masih belum ada kemajuan bu, sama seperti kemarin.” Jawab Gibran dengan wajah sendu.


“Sabar pak Gibran, saya tahu Karren adalah perempuan yang kuat, dia tidak mudah menyerah apa lagi di saat masih banyak orang yang menyayanginya.” Ucap Berlin.


“Dia pernah berkata kepada saya,bahwa dia hanya akan menyerah saat dirinya sudah tidak di harapkan, jadi saya yakin kalau Karren akan kembali.” Lanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2