
Sebenarnya Gibran sedih melihat sahabatnya di penjara, tapi saat melihat luka yang ada pada tubuh Karren membuat rasa iba di dalam diri Gibran mendadak hilang.
Gibran sangat mencintai Karren, mungkin dia akan gila jika hal buruk terjadi kepada Karren.
“Karren, bangun... Kamu ga mau menatap saya? Kata kamu, saya tampan. Seharusnya sekarang kamu menatap saya seperti biasanya, bukannya malah memejamkan mata seperti ini.” Ucap Gibran sambil menggenggam tangan Karren dengan lembut.
“Jangan pernah meninggalkan saya, biarkan saya menjadikan kamu milik saya secara sah dalam ikatan pernikahan. Saya ingin membangun rumah tangga dengan kamu seperti yang biasa kamu katakan saat menggoda saya.” Girban terus berbicara dengan Karren yang sama sekali tidak merespon ucapannya.
“Maafkan saya karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik, saya tidak menyangka sahabat saya bisa melakukan hal itu kepada kamu.”
“Saya tahu kalau dia menyukai saya tapi saya tidak mengira dia akan melakukan hal nekat seperti itu hanya untuk mendapatkan saya.”
Gibran terus berbicara sambil menatap wajah perempuan cantik di hadapannya, Gibran membelai rambut panjang Karren dengan lembut.
“Saya tidak pernah mencintai dia karena saya hanya menganggap dia sebagai sahabat saya saja, cuma kamu perempuan yang bisa membuat saya jatuh cinta Karren. Saya tidak mengira kalau saya akan jatuh pada perempuan yang jauh dari tipe saya seperti kamu.”
“Teman-teman saya menjuluki saya jomblo sejak lahir, dan kamu sudah berhasil membuat saya melepaskan predikat itu karena kamu adalah cinta pertama saya. Bangunlah Karren, saya butuh kamu untuk menemani saya melengkapi ibadah saya.”
Gibran mencium punggung tangan Karren dengan lembut, lalu beralih menciun kening Karren dengan singkat, bahkan Gibran tersenyum saat menyadari keberaniannya sendiri untuk mencium Karren.
“Saya akan menunggu kamu sampaikamu bangun, tapi tidurnya jangan lama-lama ya.. Kita masih harus mempersiapkan pernikahan kita.” Ucap Gibran menutup pembicaraannya.
Gibran segera beranjak dari kursinya dan berniat untuk menunggu di luar. Malam ini dan malam-malam selanjutnya Gibran memutuskan untuk tidur di rumah sakit sampai Karren kembali ke rumah.
Gibran akan terus menemani Karren berjuang untuk sembuh, tidak akan Gibran membiarkan Karren menyerah.
Di luar, suasana menjadi semakin mencekam dan menegangkan saat Kalandra dan Khansa tiba dengan wajah yang gusar.
“Papi, mami?” ucap Key dan Bernard secara bersamaan berdiri dari tempat duduknya.
Kalandra dan Khansa tiba di rumah sakit bersamaan dengan Ken dan Andini. Wajah Kalandra sudah tidak bisa di prediksi karena amarahnya tidak bisa terbendung lagi.
Sedangkan Khansa menangis di rangkul oleh Andini yang mencoba menenangkan mertuanya.
“Opa, oma..” panggil Darren saat melihat kakek dan neneknya datang.
__ADS_1
Sedangkan Kevin yang belum mengenal keluarga Karren dan Darren hanya bisa diam di tempatnya.
“Di mana cucuku!?” teriak Kalandra.
“Pi, papi jangan teriak ini rumah sakit ga enak sama yang lain.” Ucap Key mencoba menenangkan papinya karena selama ini Key mampu meredakan amarah sang papi.
“Ga bisa kalo ga teriak, ini cucuku! Ada orang yang dengan beraninya melukai cucuku!” ucap Kalandra.
“Papi tenanglah.” Ucap Ken yang di angguki oleh Key.
“Tenang kalian bilang?! Bagaimana bisa aku tenang di saat seperti ini! Kamu juga Key, bagaimana bisa kamu tenang di saat putrimu terluka!” ucap Kalandra.
“Pi, Key juga khawatir, Key marah, tapi dengan papi berteriak seperti ini emang bisa buat Karren bangun? Engga kan?” balas Key dengan berani.
Jujur saja, hanya anak-anak Kalandra yang bisa membalas ucapan Kalandra, bahkan Belinda, Bernard dan Andini selaku menantunya sama sekali tidak bernai membantah perintah Kalandra.
Mendengar ucapan putrinya membuat Kalandra terdiam, lalu Khansa menggenggam tangan suaminya.
“Benar kata anak-anak, Karren tidak akan bangun walaupun kamu berteriak seperti itu mas.” Ucap Khansa.
“Kita sudah menyerahkan dia ke kantor polisi pi.” Balas Bernard.
“Apa? Kalian membawanya ke kantor polisi begitu saja?”
“Aku sudah menamparnya dengan kencang sampai bibirnya sobek pi, tenanglah dia sudah cukup babak belur.” Ucap Key.
“Ga bisa! Aku belum puas jika dia masih sehat untuk masuk ke dalam penjara!” ucap Kalandra yang langsung pergi tanpa menemui cucunya.
Kalandra tidak akan menampakkan dirinya kepada cucunya jika belum berhasil membuat orang yang sudah melakukan hal keji kepada cucunya masuk ke dalam penjara dengan keadaan menyeret kakinya.
Yap, Kalandra tidak akan puas jika Sarah masih bisa berjalan masuk ke dalam penjara, Kalandra mau kaki Sarah di hancurkan agar dia harus menyeret kakinya masuk ke dalam penjara.
Khansa yang melihat suaminya sudah emosi seperti itu akhirnya berlari menyusul, kalau di biarkan bisa-bisa Kalandra akan melakukan hal yang di luar kendali.
Key, Ken, Bernard dan Andini hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap Kalandra, mereka ber empat sudah tidak aneh melihat Kalandra seperti orang kesetanan saat ada orang yang melukai keluarganya.
__ADS_1
Sedangkan Kevin masih berada di tempatnya berdiri, dia menela salvilanya karena dia baru tau kalau kakek Karren dan Darren sangan menyeramkan.
“Kakek lo mau ngapain Ren?” bisik Kevin yang masih melihat punggung Kalandra berjalan menuju lift.
“Yah semoga saja kakekku tidak sampai membuat kaki bu Sarah lumpuh.” Balas Darren dengan santainya.
Glek!! Seketika Kevin mematung, dia tidak tau selama ini dia bersahabat dengan orang yang keluarganya sangat menyeramkan.
“Wah gila, untung gue ga jadi sama Karren.” Ucap Kevin.
“Hah? kenapa begitu?” tanya Darren heran, karena pasalnya Kevin sudah berhari-hari galau karena Karren akan menikah dengan laki-laki lain.
“Bisa-bisa di gantung gue kalo buat Karren nangis.” Jawab Kevin.
“Lah, lo berarti udah niat nangisin Karren dong.”
“Ya engga gitu juga, tapi kan lo tau kalo Karren lagi sensitif dikit-dikit nangis.”
“Iya sih, tapi kakek gue ga sampe segitunya kok santai aja.”
“Tapi tetep aja ogah ah gue, besok besok gue sungkem dulu sama lo sama Karren, takut gue.”
Darren tertawa mendengar si buaya buntung itu ciut saat melihat kakeknya yang sedang mengamuk.
“Dasar lo buaya buntung!” ucap Darren mengejek Kevin.
“Yee, elo siluma buaya!” balas Kevin tidak mau kalah.
Akhirnya keduanya saling adu mulut saling mengatai masing-masing sebagai buaya padahal keduanya sama-sama buaya.
“Heh kalian berdua ini masih sempet aja debat lagi di rumah sakit!” tegas Ken yang membuat Darren dan Kevin menutup mulut mereka rapat-rapat.
“Papi ga akan sampai kelewat batas kan Ken?” tanya Key kepada saudara kembarnya itu.
“Kita berdoa aja kalo papi ga akan melakukan hal di luar batas.” Balas Ken.
__ADS_1
Key hanya bisa menghela nafas kasar, dia takut papinya mengotori tangannya hanya untuk melukai orang seperti Sarah.