
"Kalau kamu ingin yang lebih dari kecupan, seharusnya kamu mintanya tadi saat kita masih ada di rumah." Bisik Gibran membuat pipi Karren memerah.
Karren sadar, sebagai perempuan dia memang terlalu agresif tapi dia juga tidak bisa membiarkan dosen killer nya itu pergi tanpa memberikan ciuman seperti biasanya.
Dia merasa ada yang kurang jika tidak mendapat ciuman dari Gibran, dan Karren sangat bersyukur meskipun Gibran sedang marah tapi laki-laki itu mau membalas ciumannya jika tidak, entah akan pindah ke planet mana Karren setelah ini.
"Lipstik kamu berantakan, rapikan dulu sebelum keluar." ucap Gibran memberitahu.
Karren segera mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya, ternyata benar kata Gibran, lipstiknya sedikit berantakan.
Karren segera merapikannya dengan cepat dan memoles ulang lipstik yang sempat hilang beberapa saat lalu.
"Jangan memikirkan hal lain saat kuliah, fokus aja pada materi yang diberikan." Gibran bersuara lagi setelah Karren selesai merapikan lipstiknya.
Karren hanya mengangguk patuh meskipun dia sedikit tidak yakin kalau dia bisa konsentrasi dengan materinya disaat otaknya sedang memikirkan masalah rumah tangganya.
Tanpa Karren duga, Gibran menarik tubuhnya dan memberikan kecupan singkat di dahinya sekali lagi.
"Semenyebalkan apapun kamu, aku tetap mencintai kamu." ucap Gibran lembut membuat Karren semakin terbuai dengan perlakuan manisnya.
Gibran langsung keluar dari mobil setelah mengucapkan itu, Karren pun ikut keluar meskipun dalam keadaan masih bengong karena apa yang baru saja Gibran lakukan kepadanya.
"Dia sebenarnya marah nggak sih sama gue?"
Karren benar-benar bingung dengan sikap Gibran kepadanya, padahal sejak tadi pagi Gibran bersikap dingin kepadanya tapi tiba-tiba saja dia langsung menjadi hangat tadi.
Karren berniat untuk menceritakan tentang masalah rumah tangganya ini kepada mami nya nanti setelah pulang dari kampus.
***
"Jadi gitu ceritanya mam."
__ADS_1
Karren dan Key sekarang sedang berada di kamar Karren yang ada di rumah orang tuanya, Karren baru saja menceritakan masalah rumah tangganya pada mami nya.
Dia berharap mami nya bisa memberikan solusi karena sampai saat ini dia belum menemukan solusi untuk masalahnya itu, dia juga tidak berniat mengalah karena ini menyangkut mimpinya.
Karren memilih curhat pada mami nya dari pada curhat pada teman-temannya karena mami nya lebih berpengalaman, di samping itu dia juga tidak ingin teman-temannya tahu kalau dia dan Gibran sedang ada masalah sekarang.
Key mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, otaknya sedang merangkai jawaban sebijak mungkin meskipun dia yakin kata-kata seperti itu tidak cocok keluar dari mulutnya.
Jika Bernard mendengarnya, dia pasti akan tertawa mendengar ucapan bijak dari mulut Key.
Namun, Key rela menjelma menjadi Keyla Teguh demi masa depan rumah tangga anaknya.
"Menurut mami, aku harus gimana? "tanya Karren setelah melihat maminya hanya diam saja.
"Menurut mami, kamu harus nurut sama suami kamu." Key tersenyum manis layaknya ibu peri yang sedang memberi nasihat padahal dia sendiri sering melawan Bernard.
"Tapi, jadi model cover majalah itu mimpi Aku sejak lama mam. Itu bisa jadi jembatan karirku di dunia modeling. "Karren menyuarakan isi hatinya berharap mendapat pembelaan dari mami nya.
"Kalau kamu pilih jembatan menuju dunia modeling ada batasnya, umur lima puluh tahun aja paling udah nggak laku, tapi kalau kamu pilih surga kamu bakal tak terbatas di sana kamu di sana bisa jadi apapun termasuk model, partner nya juga pasti ganteng-ganteng melebihi Kevin."
Key berbicara dengan menunjukkan skill marketingnya, sesekali matanya melirik pintu memastikan Bernard tidak mendengar kata-kata supernya, bisa-bisa dia di tertawakan tujuh hari tujuh malam kalau sampai Bernard mendengarnya.
Karren mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan kata-kata yang diucapkan oleh mami nya.
"Kok jadi bawa-bawa surga sih mam?" tanya Karren kepada sang mami.
"Karena setelah kamu menikah, kunci menuju surga kamu bukan mami lagi tapi suami kamu."
"Kalau kamu nurut sama suami kamu, otomatis surga akan menjadi destinasi kamu setelah meninggal."
Karren termenung, ucapan maminya memang benar tapi dia masih sangat tidak rela jika harus melepas mimpinya begitu saja.
__ADS_1
"Kamu termasuk perempuan yang beruntung bisa mendapatkan laki-laki seperti Gibran, dia tidak banyak menuntut kamu, keluarganya juga sangat menerima kamu meskipun mereka tahu kelakuan kamu seperti apa sebelum menikah."
"Sampai saat ini Gibran juga tidak pernah memaksa kamu berhijab kan? Padahal dia pengen banget punya istri berhijab, tapi dia pengen kamu berhijab karena hati kamu yang menginginkannya bukan karena dia."
"Kalau mami jadi Gibran, mami juga nggak akan kasih izin buat aku pergi ke luar kota sama laki-laki lain meskipun itu untuk pekerjaan."
"Apalagi pemotretannya berdua, pasti posisinya juga romantis, wajar aja kalau Gibran marah waktu kamu menentang keputusannya." lanjut Key.
"Tapi kok mami ngebiarin papi meeting di luar kota, sekretaris nya papi kan juga cewek?" tanya Karren menuntut.
Key jadi salah tingkah, dia tidak menyangka karena akan membalikkan pertanyaannya itu padanya.
Apalagi dia belum membuat persiapan jawaban apa-apa jika ditanya seperti itu.
"Ah itu... papi kamu udah biasa kayak gitu, kalau nggak kayak gitu kita nggak makan, dia kan kerja ke luar kota, kamu juga nggak bisa belanja kalau papi kamu nggak meeting keluar kota, udah biarin aja mumpung masih kuat badannya keluar kota terus." Jawab Key asal.
"Iya juga sih." Jawab Karren sambil mengangguk setuju.
"Nah kalau kamu kan seorang istri, cari nafkah itu bukan kewajiban kamu, jadi meskipun kamu nggak kerja jadi model juga nggak apa-apa , lagian banyak bisnis nganggur yang bisa kamu ambil alih." ucap Key.
"Ada klinik kecantikan punya mami, ada cafe, ada hotel punya papi kamu, punya opa dan oma kamu juga banyak, kamu tinggal pilih aja mau urus yang mana." Lanjut Key.
Karren cemberut, bisnis orang tuanya dan keluarga nya memang banyak tapi dia tidak berniat mengurus salah satunya karena cita-citanya memang menjadi model.
"Tapi mam, pasti sayang banget kalau aku tolak tawaran dari majalah itu, kesempatan nggak datang dua kali kan? belum tentu aku dapat kesempatan kayak gitu lagi." Karren memperkuat argumennya.
"Percaya sama mami, rezeki nggak akan kemana tuhan akan kasih kamu yang lebih baik kalau kamu mengikuti jalannya, andai sekarang kamu menolak majalah V0GUE demi menurut sama suami kamu, bisa aja tuhan kasih kamu masuk majalah ELLE, who knows?" Key terus meyakinkan anaknya dengan kata-kata bijaknya, tidak sia-sia dia menonton Islam itu indah setiap pagi.
Karren terdiam, antara heran dengan maminya yang tiba-tiba bisa bijak dan memikirkan setiap perkataan maminya.
Entah maminya habis makan apa, yang pasti ucapannya dari tadi memang semuanya benar. Apa ini efek LDR dengan papinya selama tiga hari?
__ADS_1