DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 64 (HANYA TEMAN)


__ADS_3

Di sisi lain, Sarah yang masih fokus dengan ponsel milik Yulia sudah sangat kesal karena matanya sudah panas dan pegal melihat layar ponsel tapi komen yang dia cari tidak juga di temukan.


Sesekali Sarah meregangkan lehernya karena rasanya pegal jika terus menunduk tanpa meregangkan lehernya. Di dalam hatinya, Sarah terus menggerutu karena kesal dengan Yulia yang menyuruhnya mencari ucqapan ulang tahun dari temannya.


Sudah ada ribuan komentar yang dia baca tanpa di lewati sama sekali, rasanya kesal sekali dan ingin melempar ponsel yang saat ini dia pegang.


Sedangkan Yulia yang mulai merasa kasihan kepada Sarah segera menghampiri Sarah dan duduk di sebelahnya.


“Gimana Sarah? Udah ketemu?” tanya Yulia.


“Belum tante.” Jawab Sarah.


“Sini deh biar tante aja yang lanjut nyari, kamu pasti capek.” Ucap Yulia yang sudah kasihan dengan Sarah yang terlihat sangat pegal lehernya.


“Sarah sudah mau selesai kok tante.” Balas Sarah.


“Sudah tidak apa-apa, kamu makan dulu gih sana, biar tante yang lanjutin cari.” Ucap Yulia yang akhirnya di balas anggukan oleh Sarah.


Dengan segera Yulia meregangkan otot tangan dan juga lehernya setelah memberikan ponsel Yulia kembali, awalnya Sarah memang ingin makan tapi tiba-tiba saja dia ingat kalau awalnya dia ingin menghampiri Gibran.


Dengan segera Sarah berjalan menuju tempat di mana Gibran berada dan dia melewati Karren yang sedang berdiri menatapnya.


Sarah menatap ke arah Karren dengan tatapan tajam, sedangkan Karren menundukkan kepala sedikit untuk menyapa, walaupun dia memiliki rasa tidak suka tapi tetap saja dia harus menghormati Sarah sebagai dosennya.


Sarah hanya diam melengos dan segera melewati Karren begitu saja.


“Wah gila sih, kalo bukan dosen udah gue labrak tuh orang.” Gumam Karren dengan kesal.


“Hahaha, ketemu saingan yang tepat lo Ren.” Ucap Darren yang saat ini sudah selesai dengan makanannya.


“Lo udah selesai makan? Sumpah lo orang kaya yang paling malu-maluin tau ga sih? Lo bisa beli semua makanan tapi lo serakus ini.” Ucap Karren kesal.


“Lo belom makan kan Ren? Gila sih ini enak banget Ren, ada makanan yang ga gue tau juga namanya apa.” Ucap Darren.


“Makanan apaan?”


“Ini nih, yang di bungkus daun ini, ini tuh ya nasi terus dalemnya tuh ada ayamnya gitu enak deh.” Ucap Darren sambil memberikan makanan itu kepada sepupunya.


“Hahaha, itu namanya lemper oon! Lo ga pernah makan ini?” tanya Karren.


Karren tidak terlalu kaget jika Darren tidak pernah memakan makanan tradisional, karena Darren lebih sering pergi ke restoran mewah di bandingkan warung warung kecil yang menjual makanan tradisional.

__ADS_1


Karren menggelengkan kepalanya lalu mengajak Darren untuk pulang karena dia ingin menghindari Gibran. Karren sangat malu karena sudah salah paham dengan Gibran tadi.


“Ayo balik, ntar gue minta aunty Andin buat beliin lo kue itu yang banyak!” ucap Karren.


“Bener ya? Oke ayo kita pulang.” Balas Darren.


Karren mengangguk lalu mengajak Darren untuk berpamitan kepada kedua orang tua mereka dan juga Yulia.


“Pap, mam, aku pulang duluan sama Darren ya.” Pamit Karren.


“Loh ga nunggu acaranya selesai aja Ren?” tanya Bernard.


“Engga deh pap, aku udah capek tadi habis kuliah sampe sore juga.” Balas Karren.


“Mami pikir ucapan para tetangga hanya gosip belaka deh, tadi mami tanya bu Yulia katanya Gibran belum memiliki calon istri, kamu masih punya kesempatan sayang.” Sahut Key berbisik kepada putrinya.


“Aku udah tau kalo masalah itu.” Balas Karren sambil mengedipkan sebelah matanya.


Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, barulah Karren menghampiri Yulia.


“Hai sayang, kamu udah makan hidangannya?” tanya Yulia saat mendapati Karren berjalan ke arahnya.


“Ga apa-apa tante malah seneng kalo habis, berarti toko kue pilihan tante emang terbaik.” Ucap Yulia.


Karren tersenyum menanggapi ucapan Yulia.


“Oh iya tante, Karren sama Darren pamit pulang dulu ya.” Pamit Karren.


“Loh udah mau pulang? Ga nunggu acaranya selesai aja?” tanya Yulia yang terlihat sedih.


“Maaf tante, Karren udah lelah banget masih harus ngerjain tugasnya pak Gibran juga.” Balas Karren.


“Huh! Gibran itu emang selalu menyiksa mahasiswanya ya, nanti biar tante yang kasih pelajaran.” Ucap Yulia.


Karren terkekeh lalu mengangguk menyetujui ucapan Yulia yang akan memberi Gibran pelajaran.


“Kalo gitu Karren pulang dulu ya tante, sekali lagi selamat ulang tahun.” Ucap Karren dengan tulus.


“Terimakasih sayang, terimakasih sudah datang dan juga terimakasih hadiahnya.” Balas Yulia.


“Bentar tante panggil Gibran dulu biar dia anter kamu ke rumah.” Ucap Yulia sambil mencari keberadaan Gibran.

__ADS_1


“Engga perlu tante, Karren kan di anter Darren, ga apa-apa kok.” Ucap Karren.


“Beneran ga perlu di anter Gibran?” tanya Yulia yang di balas anggukan oleh Karren.


Yulia hanya bisa pasrah mendengar ucapan Karren, dia tidak bisa berkutik lagi dan membiarkan Karren pulang bersama Darren.


Sedangkan di tempat lain, Sarah yang melihat Gibran sedang duduk di bangku segera menghampirinya.


“Kamu sendirian aja? Kenapa ga masuk ke dalam?” tanya Sarah yang saat ini sudah duduk di sebelah Gibran.


“Hem, saya ingin menghirup udara saja.” Balas Gibran dengan cuek, dia bahkan hanya menoleh sekilas ke arah Sarah lalu kembali memalngkan wajahnya.


“Maaf ya aku ga nemenin kamu, soalnya tadi mama kamu minta bantuan ke aku.” Ucap Sarah.


“Ah begitu...” balas Gibran yang tidak terlalu perduli dengan hal itu.


“Dari tadi kamu sendirian aja?” tanya Sarah.


“Tadi aku sama Karren di sini, dia sudah kembali ke dalam apa kamu tidak melihatnya?” tanya Gibran.


“Ehm, lihat kok tadi dia ada di dalam, apa aja yang kalian bicarakan?” tanya Sarah kepo.


Dia menyesal karena membantu Yulia akhirnya dia memberi kesempatan bagi Gibran dan Karren untuk mengobrol berdua.


“Apa saya harus mengatakan apa yang kami bicarakan kepada kamu Sarah?” tanya Gibran dengan nada sedikit ketus.


“T-tidak juga sih.” Balas Sarah kikuk.


“Oh iya, tadi banyak ibu-ibu yang tanya apakah aku calon istri kamu, aku sampe bingung sendiri harus jawab apa.” Ucap Sarah sedikit malu-malu namun Gibran tau kalau di dalam hatinya Sarah pasti senang mendapat pertanyaan seperti itu.


“Kenapa harus bingung? Bilang saja yang sebenarnya kepada mereka seperti apa hubungan kita.” Ucap Gibran.


“Emangnya bagi kamu, hubungan kita ini seperti apa?” tanya Sarah yang sengaja memancing Gibran karena ingin mengetahui jawaban apa yang akan Gibran berikan.


“Kita? Kita hanya sebatas teman tidak lebih, mereka akan menimbulkan gosip-gosip baru jika kamu hanya diam saja tanpa menjelaskan.” Balas Gibran.


Deg! Rasanya sakit sekali mendengar jawaban seperti itu dari Gibran, dia tau kalau mereka hanya berteman, tapi setelah semua perhatian yang dia berikan kepada Gibran, Gibran masih menganggapnya sebagai teman saja, tidak lebih.


“Kalo gitu saya permisi ke dalam dulu.” Pamit Gibran yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Sarah yang belum sempat mengatakan apa-apa.


Sarah hanya bisa menghela nafas sambil menatap punggung Gibran yang mulai menjauh, tangannya mengepal dengan keras menahan rasa kesalnya.

__ADS_1


__ADS_2