
“Apa Aku di suruh kemari untuk melihat drama rumah tangga kalian?” tanya Darren dengan polosnya.
Suara Darren yang berat dan manly itu tentu saja terdengar dari dalam ruangan Gibran dan hal itu membuat Karren kembali bersemangat dan membuka pintu ruangan Gibran lebih lebar.
“Darren!” seru Karren.
“Ren, lo ngapain sih di sini? Lo mau jadi pelakor?” tanya Darren.
“What?! Pelakor? Gila ya lu!” ketus Karren.
“Nah untung saudaranya masih waras, bawa pergi deh sepupu kamu bikin gosip di kampus aja deh!” ketus Sarah.
“Stop Sarah! Silahkan pergi dari sini karena masih ada urusan yang harus saya lakukan.” Tegas Gibran.
Mendengar ucapan Gibran membuat Sarah terkejut dan merasa kesal, sedangkan Karren tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi kekalahan dari wajah Sarah.
“Kamu juga sebaiknya pergi dan keringkan pakaianmu, biar aku di sini sambil menunggu Darren mengambil pakaianku.” Ucap Gibran.
Darren yang belum di berikan tugas apapun hanya bisa diam mendengar percakapan Karren dan Gibran.
“Jadi apa tugasku di sini?” tanya Darren yang mulai kesal karena kelamaan berdiri di depan pintu.
“Masuklah dulu Darren.” Ucap Gibran.
“No! langsung aja kasih kunci mobil kamu dan suruh Darren mengambil pakaian agar kamu tidak masuk angin.” Sahut Karren.
Akhirnya Gibran segera mengambil kunci mobilnya dan memberikannya kepada Darren.
Tidak perlu menjelaskan lagi mobil Gibran yang mana karena Darren sudah hapal tipe dan bahkan plat nomer mobil Gibran karena dia sering melihatnya saat bermain ke rumah Karren.
“Karren, silahkan keluar dari ruangan saya, saya tidak ingin semua orang salah paham dengan hubungan kita.” Ucap Gibran kepada Karren.
“Tidak mau mas, aku mau tunggu bajuku kering di sini aja, aku malu keluar pake kemeja kebesaran gini bukan style aku banget tau.” Ucap Karren.
“Lebih baik begitu biar lekuk tubuhmu tertutupi.” Balas Gibran.
“Cih! Dasar tidak tau mode!” ketus Karren sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Aku lepas aja deh ya mas, kan cuma ada kita berdua aja di sini.” Ucap Karren yang membuat kedua mata Gibran melotot di buatnya.
__ADS_1
“Jangan aneh-aneh Karren!” tegas Gibran.
“Kenapa mas? Kalo ga di buka nanti ga bisa kering dong.” Balas Karren.
“Kalo mau cepat kering buka di kamar mandi bukan di ruangan saya!” tegas Gibran.
“Lagian mas Gibran lebay banget sih, aku kan cuma buka kemeja punya mas aja, aku juga masih pake baju di dalemnya kok.” Ucap Karren.
“Jangan membuka kemejaku, kamu bukalah bajumu yang basah agar tidak masuk angin, untuk hari ini pakailah kemejaku dan tahan walaupun kamu merasa tidak nyaman.” Ucap Gibran.
Karren mengangguk mengerti, namun dia masih menatap ke arah Gibran dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
“Ehem..” Karren berdehem membuat Gibran menoleh ke arahnya.
“Ada apa lagi Karen?” tanya Gibran yang tau kalau Karren ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
“Mas Gibran bisa ga keluar dulu? Aku mau ganti baju.” Ucap Karren.
Ya memang ucapan Karren tidak sopan, Karren pun menyadari hal itu, tapi bagaimanapun juga dia harus menyuruh Gibran keluar agar dia bisa mengganti pakaiannya dengan nyaman.
Sedangkan Gibran tidak percaya karena Karren menyuruhnya untuk keluar dari ruangannya sendiri, padahal tadi Gibran sudah menyuruh Karren untuk mengganti pakaiannya di toilet.
“Toiletnya auh loh mas, aku udah risih banget jadi aku mau ganti baju di sini aja, ga apa-apa kan mas kalo mas Gibran keluar dulu?” ucap Karren sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
Gibran menghela nafas panjang, lalu akhirnya dia mengangguk dan keluar dari ruangannya dengan berkaos dalam saja.
Betapa terkejutnya Gibran saat melihat sudah ada beberapa dosen senior yang ada di depan ruangannya dengan tatapan menyelidik.
“Pak Gibran, ada apa ini? Kenapa saya dengar dari yang lain kalau anda membawa mahasiswi ke dalam ruanganmu?” tanya dosen senior tersebut.
“Maaf pak, tadi memang ada insiden kecil pak, kebetulan Karren adalah tetangga saya jadi saya hanya membantunya.” Jelas Gibran.
“Lalu ke mana pakaian anda pak? Kenapa hanya memakai kaos dalam saja?” tanya dosen tersebut.
“Pakaian saya saya berikan kepada Karren karena pakaiannya basah, saya juga sedang menunggu mahasiswa saya yang sedang mengambilkan pakaian saya.” Jelas Gibran.
Dan untuk kedua kalinya, Darren muncul di saat yang sangat tepat, Darren berjalan ke ruangan Gibran dengan pakaian yang ada di tangannya.
“Nah itu dia.” Ucap Gibran saat melihat Darren yang sudah datang.
__ADS_1
“Kenapa bapak di luar dengan pakaian seperti itu?” tanya Darren sambil menahan tawanya.
“Karren sedang mengganti pakaian jadi saya terpaksa harus keluar.” Jawab Gibran.
Darren benar-benar tidak menyangka kalau saudaranya akan membuat Gibran keluar dari ruangannya, dan Darren semakin tidak percaya saat Gibran menuruti ucapan Karren.
“Ini pak baju yang ad di mobil, dan ini kunci mobilnya.” Ucap Darren sambil memberikan kunci dan pakaian kepada Gibran.
Para dosen yang awalnya berkumpul akhirnya membubarkan diri karena semua yang di jelaskan kepada Gibran memang masuk akal dan tidak ada kejanggalan.
Setelah semua orang pergi akhirnya Gibran segera mengetuk pintu ruangannya lebih dulu untuk memastikan apakah Karren sudah selesai mengganti pakaian atau belum.
Saat Karren selesai mengganti pakaiannya, barulah Gibran berani untuk masuk ke dalam ruangannya dan memakai kemeja yang baru di ambilkan oleh Darren.
Dan betapa terkejutnya Gibran saat melihat penampilan Karren yang berdiri di hadapannya, kedua matanya melotot saat melihat penampilan Karren dari atas sampai ke bawah.
Saat itu Karren hanya memakai kemeja Gibran saja, tanpa memakai celana panjangnya lagi, dan setelah meneliti lebih lanjut, wajah Gibran seketika berubah menjadi merah padam.
Gibran kira Karren hanya akan membuka pakaiannya saja, namun ternyata Karren juga membuka pakaian dalamnya membuat mata Gibran hampir keluar karena dia bisa dengan jelas melihat tonjolan yang ada di balik pakaian itu.
“Karren...” panggil Gibran namun dengan mata yang tidak tertuju kepada Karren.
“Iya mas?” sahut Karren namun kedua tangannya masih fokus melipat pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
“Kenapa kamu juga membuka pakaian dalammu?” tanya Gibran yang membuat Karren langsung menoleh ke arah Gibran.
Sebenarnya Gibran tidak enak hati untuk berbicara seperti itu, tapi kalau tidak di bicarakan pasti Karren akan keluar dengan pakaian seperti itu.
“Dalamanku ikut basah jadi aku juga melepasnya, soalnya ga nyaman di pakai.” Ucap Karren.
Karren yang awalnya mau melanjutkan aktifitasnya memasukkan pakaiannya langsung kembali menoleh ke arah Gibran.
“Tapi kenapa kamu tau kalau aku tidak pakai pakaian dalam?” tanya Karren dengan tatapan menyelidik.
Mendengar hal itu membuat Gibran frustasi, dia benar-benar tidak menyangka kalau Karren bisa-bisanya dengan santai mengatakan hal itu.
“Apa kamu tidak sadar kalau kemejaku tidak setebal itu, tentu saja aku bisa melihat kalau kamu tidak memakai pakaian dalam!” ucap Gibran.
Karren segera menoleh ke bawah melihat penampilannya sendiri, dan benar saja tubuhnya memang bisa di lihat sangat jelas dari luar membuat Karren terkejut.
__ADS_1
Wajah Karren seketika memerah karena mengingat kalau Gibran sudah melihat seluruh tubuhnya walaupun dari balik kemeja, ingin rasanya Karren pergi dari bumi ini agar tidak bertemu dengan Gibran saat itu.