
“Karren? Kamu sudah sadar?” tanya Gibran menatap Karren dengan tatapan tidak percaya.
Mata Gibran berkaca-kaca mengingat doa-doanya selama ini sudah di kabulkan dan dia bisa melihat calon istrinya membuka kedua matanya dan kembali sadar. Sedangkan Karren mengedipkan mata sambil tersenyum untuk memberitahu dia sudah baik-baik saja.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, terimakasih karena sudah berjuang untuk membuka mata.” Ucap Gibran yang terus menciumi tangan Karren.
Gibran sangat bersyukur karena tuhan menjawab semua doa-doanya selama ini. Karren terharu melihat wajah bahagia yang di pancarkan oleh Gibran, air matanya menetes di ujung matanya.
Baru kali ini Gibran terlihat sangat mencintainya, biasanya laki-laki itu terlalu gengsi untuk menunjukkan sikap manisnya di depan Karren.
“Tunggu sebentar, saya akan panggilkan dokter.” Ucap Gibran yang langsung menekan tombol yang ada di sana untuk memanggil dokter.
Apa yang di lakukan Gibran berhasil membuat Bernard yang sedang tidur di sofa terbangun. Hari ini memang Gibran berjaga bersama dengan Bernard dan Darren, sedangkan para wanita mereka minta untuk tidur di rumah.
Karena tidak mendapatkan tempat untuk tidur di dalam ruangan, akhirnya Darren memutuskan untuk tidur di kursi tunggu yang ada di luar ruangan Karren.
Bernard menguap sambil meregangkan otot tubuhnya, rasanya tubuhnya sakit semua karena tidur di sofa yang tidak terlalu luas, apa lagi tidak ada Key yang menemaninya dan tidak bisa dia peluk.
“Gibran jangan suka mainin tombol nanti rusak.” Ucap Bernard lalu mengubah posisi tidurnya karena dia berniat untuk kembali tidur.
Melihat apa yang di lakukan papinya membuat Karren kesal, bukannya cemas papinya malah tidur dengan lelap seperti itu.
“Karren sudah bangun om.” Ucap Gibran memberi tahu.
Mendengar ucapan Gibran, mata Bernard yang baru saja terpejam sekarang terbuka lebar, tanpa menunggu nyawanya terkumpul lebih dulu Bernard langsung bangun dan melangkah cepat menghampiri tempat tidur Karren.
“Karren sayang, yaampun anak papi kamu sudah sadar? Tapi untung saja kamu sadar, kalau tidak papi berencana untuk membuat anak lagi.” Ucap Bernard yang langsung mencium kening putri kesayangannya itu.
Karren melotot mendengar ucapan papinya, sedangkan Gibran yang paling normal di antara mereka malah bingung dengan reaksi keduanya, dia hanya memilih untuk diam dan melihat keduanya dengan tatapan bingung.
Tidak lama kemudian, dokter datang dengqan suster untuk memeriksa keadaan Karren, sedangkan Gibran dan Bernard menunggu di luar ruangan.
__ADS_1
Kedua laki-laki itu sangat lega mengetahui kalau Karren sekarang sudah bangun dari tidur panjangnya. Rasa sesak yang beberapa hari ini memenuhi hati mereka sekarang telah terangkat, mereka bahagia dan sangat bersyukur.
Wajah sendu mereka sekarang berganti dengan wajah bahagia, baik Bernard maupun Gibran tidak bisa menghilangkan senyum bahagia mereka sampai mereka sudah berada di luar ruangan.
Berbeda dengan keduanya, Darren malah masih tertidur pulas. Nyamuk-nyamuk yang sejak tadi menjadikannya menu utama makan malam mungkin sekarang sudah tidak bisa bergerak karena sudah obesitas.
Darren pasrah tubuhnya di gigit nyamuk, hitung-hitung sedekah memberi makan salah satu makhluk ciptaan Allah.
Bernard hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keponakannya, otak jahilnya mulai bekerja, dia segera memotret Darren yang sedang tidur lalu mengeditnya, tak lupa Bernard memberikan emoticon dan juga kata-kata lucu lalu dia mengirimnya ke wa grup keluarga besar mereka.
Bernard :
Lihatlah, anak siapa ini yang bilangnya mau berjaga malah tidur pulas menjadi santapan nyamuk (emoticon ketawa)
Semua orang yang ada di grup satu per satu mulai membaca pesan dari Bernard, dan beberapa pesan mulai berdatangan.
Ken :
Melihat balasan dari iparnya membuat Bernard tertawa, Gibran yang mendengar tawa ceria Bernard hanya bisa tersenyum karena akhirnya Bernard bisa tertawa lepas sekarang.
Kalandra :
Kamu kok malah kurang kerjaan fotoin ponakan kamu, bukannya jagain Karren dengan benar!
Melihat mertuanya yang memarahinya membuat wajah Bernard berubah menjadi tegang dan hal itu tak luput dari perhatian Gibran yang saat ini sedang bingung dengan ekspresi wajah calon mertuanya.
Namun Gibran tidak ingin terlalu kepo, dia juga belum menjadi keluarga mereka jadi Gibran belum di masukkan ke dalam grup keluarga mereka.
Akhirnya Bernard mengumumkan kepada keluarga mereka kalau Karren sudah sadar, semua orang merasa sangat senang, bahkan Kalandra dan Ken mengatakan kalau mereka akan datang ke rumah sakit secepatnya membawa Khansa, Andini dan juga Key.
Tidak lama kemudian dokter yang memeriksa keadaan Karren keluar dari ruangannya membuat Gibran dan Bernard langsung menghampiri dokter tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan putri saya dok? Apa dia sudah membaik?” tanya Bernard dengan cepat.
“Alhamdulillah keadaannya memang sudah membaik, tapi biarkan dia beristirahat lebih dulu karena tubuhnya masih lemas.” Ucap dokter tersebut.
“Baru juga bangun dok, masa iya di suruh tidur lagi.” Protes Bernard.
Rasanya dia tidak rela kalau putrinya yang baru saja bangun malah di suruh tidur lagi, padahal dia sudah sangat merindukan ocehan putrinya.
“Tentu saja dia harus beristirahat karena dia sedang sakit.” Balas dokter itu.
Sang dokter tidak aneh dengan sikap keluarga Kalandra, bahkan menantunya saja bisa ketularan sikap konyol dan kekanakan Kalandra, mungkin sebentar lagi cucu menantunya lah yang akan ketularan sifat keluarga ini.
“Kalau begitu terimakasih banyak dok.” Ucap Gibran.
“Sama-sama, saya permisi dulu.” Dokter tersebut langsung pergi setelah berpamitan kepada Gibran dan Bernard.
Setelah dokter pergi, Bernard kembali masuk ke dalam ruangan untuk melanjutkan tidurnya, sedangkan Gibran yang merasa tanggung karena sebentar lagi sudah masuk adzan subuh pun memilih untuk ke kantin rumah sakit membeli kopi.
“Kamu ga lanjut tidur Gibran? Tadi kamu cuma tidur sebentar loh.” Ucap Bernard.
“Engga om, saya mau beli kopi aja, om mau titip?” tanya Gibran.
“Engga deh, saya mau lanjut tidur aja.” Balas Bernard yang di balas anggukan oleh Gibran.
Malam ini dia tidur hanya sebentar, tapi itu tidak masalah sama sekali karena orang yang membangunkannya adalah Karren.
Mengingat elusan lembut yang berasal dari tangan Karren membuat jantung Gibran kembali berdetak kencang.
Gibran tersenyum samar tanpa ada orang yang mengetahuinya. Gibran segera memesan kopi lalu duduk di bangku kantin, mungkin karena malam hari jadi hanya ada beberapa orang saja yang ada di kantin itu.
Sambil menikmati kopinya, Gibran mengirim pesan pada mamanya untuk memberitahu kalau Karren sudah sadar. Yulia pasti sangat senang mendengar kabar bahagia itu karena sejak kemarin-kemarin Yulia terus saja meneror Gibran dengan pesan yang berisi pertanyaan tentang kondisi terbaru Karren.
__ADS_1
Karren sudah berhasil mengambil hati mamanya sekaligus mengambil hati anaknya juga.