DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 90 (PERUBAHAN)


__ADS_3

Di sebuah ruang tunggu pemotretan, Dina menatap jengah pada dua orang yang ada di depannya, ini sudah hampir satu jam namun mereka masih saja diam tanpa berniat untuk memulai obrolan.


Mungkin hari ini adalah hari canggung terlama mereka, karena selama ini mereka tidak pernah terjadi suasana seperti ini.


Kedua orang itu biasanya selalu menciptakan obrolan yang seru dan candaan-candaan lucu.


“Hellow!! Guys come on, lo berdua habis ini ada pemotretan loh, lupain dulu lah masalah kalian, bersikap biasa aja kayak sebelumnya biar chemistry nya dapet.” Ucap Dina.


“Pemotretan kalian berdua bisa selesai malam kalau keadaan canggung kayak gini.” Lanjutnya.


Dina benar-benar sudah pusing memikirkan cara agar Karren dan Kevin bisa kembali akur seperti sebelumnya.


“Kevin yang dari tadi diam aja tuh!” ucap Karren dengan wajah yang di tekuk karena dari tadi Kevin hanya mengabaikannya.


“Kenapa jadi gue? Lo berdua kalo mau ngobrol ya ngobrol aja, gue sibuk.” Ucap Kevin tanpa menatap ke arah Karren ataupun Dina.


Padahal yang sejak tadi Kevin lakukan hanyalah bermain game online di ponselnya, tapi dia bilang sedang sibuk.


“Vin lo kenapa sih, jangan kayak gini dong...” rengek Karren dengan putus asa.


Karren sangat benci dengan keadaan saat ini, perubahan pada Kevin membuatnya sedih sekaligus merasa bersalah.


“Apa sih Ren, jangan ajak gue ngobrol nanti konsentrasi gue pecah, gue lagi main game nih!” ucap Kevin dengan tegas.


Sebenarnya Kevin bermain game karena ingin menghindari obrolan dengan Karren dan membunuh rasa canggung yang terjadi di antara mereka.


Karren memanyunkan bibirnya, dia kesal dengan respon yang di berikan oleh Kevin. Mata Karren melirik Dina, bibirnya seperti bertanya apa yang harus dia lakukan hanya saja tanpa mengeluarkan suara.


Dina hanya bisa menghela nafas panjang lalu menaikkan kedua bahunya karena dia juga bingung mau melakukan apa, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah pertemanan mereka Kevin marah seperti ini.


“Oke deh terserahkalian berdua mau diam-diaman atau gimana, yang penting nanti waktu pemotretan kalian berdua harus bersikap profesional di depan kamera.” Ucap Dina setelah lama berpikir.


Karren menatap tidak suka ke arah Dina, bukannya membantu Karren berbaikan dengan Kevin, Dina malah menyerah begitu saja.

__ADS_1


Dina hanya tersenyum sebentar lalu memutuskan untuk beranjak dari sofa meninggalkan Karren dan Kevin agar memiliki ruang untuk mengobrol berdua. Dina berharap setelah dia keluar kedua orang itu akan mulai berbicara.


Setelah melihat tubuh Dina sudah menghilang dari balik pintu, Karren berusaha untuk mendekati Kevin, dia mengambil duduk tepat di samping Kevin.


Kevin melirik ke arah Karren dengan tatapan tidak suka, lalu kembali menatap layar ponselnya sambil menggeser tubuhnya sedikit agar tidak terlalu dekat dengan Karren.


Karren memang sengaja menempelkan lengannya ke lengan Kevin sambil matanya mencoba untuk ikut melihat ke layar ponsel Kevin.


“Jangan gini Karren.” Ucap Kevin.


“Kenapa? gue pengen kita kayak dulu Vin, please, jangan jauhin gue kayak gini. Gue merasa kehilangan sahabat gue yang dulu.” Ucap Karren dengan memelas.


“Semuanya udah berbeda Karren, lo udah punya orang, interaksi kita ga bisa sedekat dulu karena itu juga ga baik.” Ucap Kevin.


“Apa lagi lo mau nikah, biarin gue menjauh sebentar, gue cuma mau sembuhin hati gue dulu sebelum balik kumpul bareng kalian kayak sebelum-sebelumnya.” Lanjutnya.


Kevin masih tidak ingin menatap Karren, dia mengucapkan semua kalimatnya dengan mata yang masih setia ke layar ponselnya.


Karren terdiam mendengar ucapan Kevin, perasaan bersalahnya semakin besar kepada Kevin, Karren hanya bisa menundukkan kepalanya.


Tanpa dia bisa cegah, otaknya sudah kembali mengingat kenangannya bersama Kevin, saat-saat di mana mereka sudah menjadi mantan tetapi masih dekat dengan embel-embel sahabat.


Saling menyayangi dan memberi perhatian tanpa berniat ingin memiliki satu sama lain, dan kepercayaan mereka akan takdir mereka yang akan berakhir bersama.


Kepercayaan itu yang membuat Kevin membiarkan Karren menjalin hubungan dengan laki-laki lain, karena dia yakin kalau Karren akan kembali padanya begitu juga dengan Karren.


Karren sebelumnya tidak terlalu niat untuk mencari calon suami karena saat sudah waktunya untuk menikah tapi dia belummemiliki calon suami, maka dia akan memilih Kevin yang selalu siap menjadi suaminya.


Ya, pikiran keduanya memang se-mudah itu, semuanya berjalan lancar sebelum kedatangan Gibran Mahardika, sang dosen killer.


“Sorry.” Ucap Karren dengan lirih.


Mata Karren sudah bercaka-kaca, dia bisa merasakan sakit yang Kevin rasakan hanya dengan melihat wajah sendu laki-laki itu.

__ADS_1


“it’s okay, gue cuma manusia yang ga akan bisa memaksakan takdir tuhan.” Balas Kevin.


Karren sangat sedih mendengar semuanya, namun rasa sedihnya berubah menjadi kesal seketika saat menyadari pintu ruangannya terbuka.


Karren langsung memberikan tatapan tajam ke arah pintu ruangannya, lalu terkejut saat dia melihat Dina dan... Gibran?


Karren mengerutkan keningnya saat melihat laki-laki yang sudah menjadi tunangannya itu ada di sana, apa yang di lakukan laki-laki itu di ruangannya? Bukankah seharsnya Gibran sedang bekerja?


Kevin menoleh ke arah pintu, lalu dia manghela nafas panjang saat melihat siapa yang datang, Kevin segera mengambil tasnya dan beranjak dari tempat duduknya.


“Lo mau kemana? Bentar lagi kita ada pemotretan.” Ucap Karren saat melihat Kevin sudah berdiri.


“Gue pindah ke ruangan lain aja.” Jawab Kevin lalu pergi dari ruangannya.


Karren frustasi, rasanya dia ingin menjerit, masalahnya dan Kevin belum selesai tapi Dina sudah masuk ke dalam ruangannya bahkan bersama dengan Gibran, entah dari mana Dina menemukan laki-laki itu.


“Gue touch up lo dulu sini.” Ucap Clara yang memang bertugas untuk me-make up Karren dan Kevin.


Clara mulai memoles make up di wajah Karren, sedangkan Karren memperhatikan Gibran yang hanya diam saja menatapnya tajam sepertinya ada sesuatu yang telah mengusiknya.


“Kenapa kamu ke sini? Bukannya kamu lagi ada pekerjaan?” tanya Karren sambil melirik ke arah Gibran yang sedang duduk memperhatikannya.


“Kamu ga suka saya ke sini?” tanya Gibran. Pertanyaan Gibran terdengar sewot membuat Karren mendengus kesal.


“Bukannya gitu mas, kamu kan ada pekerjaan kok malah nonton aku pemotretan?” ucap Karren mencoba untuk sabar agar tidak berdebat.


“Pekerjaan saya sudah selesai.” Balas Gibran berbohong.


Karena kenyataannya pekerjaannya masih banyak, hanya saja dia rela mengesampingkan pekerjaannya agar bisa melihat Karren pemotretan.


Gibran merasa tidak nyaman saat Karren mengatakan dia akan melakukan pemotretan bersama dengan Kevin yang tidak lain adalah mantannya.


Otaknya tidak bisa di pakai untuk memikirkan pekerjaannya karena dia terus saja membayangkan Karren yang akan melakukan pose mesra dengan Kevin dan itu tidak bisa dia biarkan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2