
Mata Karren memperhatikan sekitar, kantin tampak sangat ramai seperti biasanya. Banyak yang sekedar makan, nongkrong atau mengerjakan tugas.
Untuk mahasiswa seperti Karren, alih-alih mengerjakan tugas di tempat ramai, dia lebih suka mengerjakan di tempat sepi. Konsentrasinya bisa pecah jika mendengar suara berisik.
Ada perbedaan mencolok yang Karren rasakan setelah menikah, sudah tidak ada lagi yang berani menggodanya, para penggemarnya yang ada di kampus hanya melempar senyum tipis dan menyapa sewajarnya saja.
Apa lagi kalau mereka melihat ada Gibran di dekat Karren, mereka malah lebih terkesan seperti tidak mengenal Karren saja dari pada mencari masalah dengan si dosen killer.
Sifat Gibran yang terlalu posesif memang tidak berkurang sedikit pun meski Karren sudah menjadi miliknya. Pekerjaannya hanya melotot saja setiap melihat Karren berinteraksi dengan laki-laki lain.
Awalnya memang Karren merasa tidak nyaman, tapi lama-lama dia mulai terbiasa dengan sifat Gibran yang satu itu.
Karren berjalan menuju meja yang di sana sudah ada teman-temannya, dia melihat Silvia sedang merengek kepada Darren.
“Ayolah Ren.. Lo cuma harus berdiri di samping gue aja, lo ga akan di tanya apa-apa sama bokap gue.” Rengek Silvia.
Karren menatap jengah pada Darren yang sedang makan mie dengan santai, sedangkan di sebelahnya Silvia terus menggoyang-goyangkan tubuh Darren dengan merengek.
Dia sedang merayu Darren agar mau menemaninya ke ulang tahun sang papa.
“Engga, nanti kalo lo tiba-tiba hamil, bisa-bisa gie yang di suruh tanggung jawab sama bokap lo!” ketus Darren dengan santainya seolah-olah kata-katanya tidak akan menyinggung siapapun.
Silvia melotot kesal, tangannya melayang ke kepala Darren dan mengeplaknya dengan keras.
“Maksud lo apa ngomong kayak gitu?!” ketus Silvia.
Sedangkan Darren hanya mengedikkan bahu lalu memasukkan mie ke dalam mulutnya. Dia sangat menikmati mie nya sampai mengabaikan rengekan wanita yang ada di sebelahnya, sudah sejak tadi Silvia merengek seperti itu jadi telinga Darren pun sudah kebal.
Melihat Darren yang mengabaikannya danlebih fokus pada mienya membuat Silvia kesal. Denga cepat dia merebut piring Darren lalu menjauhkannya dari laki-laki itu.
“Balikin Sil!” ucap Darren tegas dengan tatapan tajam. Darren sangat tidak suka jika makannya di sela seperti ini.
“Engga! Lo harus setuju dulu kalo lo mau nemenin gue ke ulang tahun bokap, baru gue mau balikin mie lo!” tegas Silvia.
__ADS_1
“Yaampun Sil! Kenapa ga ngajak cowok lo aja sih.” Ucap Darren.
“Cowok gue mau gue putusin besok, seangkan bokap gue ulang tahunnya lusa.” Jawab Silvia.
“Ya kalo gitu jangan lo putusin dulu cowok lo! Kalo ngga, ulang tahun bokap lo di majuin aja.” Ucap Darren.
“Ya ga bisa lah Ren! Beg0 banget sih lo, lahirnya kan tanggal empat, masa rayain ulang tahunnya tanggal tiga? Bukannya rayain ulang tahun, yang ada malah rayain hari kontraksi.” Ucap Silvia kesal.
Karren yang dari tadi hanya mendengarkan lama-lama pusing juga dan akhirnya mulai ikut menyahut.
“Ribet banget sih lo berdua!” sahut Karren dengan malas.
“Karren, bantuin gue bujuk Darren dong biar dia mau.” Rengek Silvia memohon kepada Karren.
Dia tidak akan sampai seperti ini jika tidak mengingat hanya Darren dan Kevin saja laki-laki yang dekat dengannya dalam waktu yang lama, karena kenalan Silvia yang lain hanya dekat dengannya dalam waktu singkat saja, Silvia akan memutuskan kontak dengan mereka jika dia sudah bosan.
“Bantuin aja sih Ren, lo kan seneng ke tempat yang banyak makanan gratisnya.” Ucap Karren ikut membantu merayu Darren.
“Kayak yang mau aja si Anin jadi cewek lo!” ketus Karren sambil menggelengkan kepalanya.
“Nggak, ga bakal Ren, bokap gue ga pernah ke mana-mana dia keluar rumah cuma ke kantor aja, apa lagi ke bar, jadi lo tenang aja. Gue jamin lo ga akan ketemu bokap gue lagi setelah ini.” Ucap Silvia meyakinkan.
“ya udah deh gue mau, siniin mie gue! Habis ini bayarin mie gue juga ya, gue mau tambah lagi nih.” Ucap Darren.
Silvia mengendus kesal, tapi dia tetap mengiyakan permintaan Darren. Dia menyodorkan kembali mienya ke hadapan Darren dan berniat memesankannya lagi untuk Darren.
Namun belum sempat dia pergi dari mejanya, Kevin datang dengan napas tersengal-sengal, keringat membasahi pelipisnya, rambutnya juga sudah lepek tidak secetar tadi pagi.
“Habis dari mana lo?” tanya Karren saat Kevin sudah duduk di kursinya yang ada di sebelahnya.
Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Karren, dia langsung menyambar minuman Darren dan meminumnya tanpa permisi membuat Darren merengek pada Silvia untuk di belikan minuman juga.
“Sil sekalian minumnya juga ya.” Ucap Darren dengan santainya.
__ADS_1
“Lo nyebelin bangtet Ren sumpah! Belum bantuin gue udah minta bayaran!” ketus Silvia tidak terima.
“Gue lagi bokek Sil, semalem kalah taruhan bola sama bokap.” Balas Darren yang membuat Silvia menggelengkan kepala.
“Yaampun!” silvia benar-benar tidak habis pikir kalau anak dan bapak sama saja bobroknya.
Karren tidak memperdulikan Silvia dan Darren yang masih berdebat, dia lebih memilih fokus kepada Kevin yang belum menjawab pertanyaannya.
“Gue habis di kejar T-rex, gila! Larinya cepet banget gue sampe ngos-ngosan ini.” Ucap Kevin setelah berhasil mengatur napasnya.
“T-rex? Lo kira di sini jurassic park ada T-rex?” ucap Karren sambil mengerutkan keningnya.
“Maksudnya si Trisna beb... eh, Ren maksudnya.” Ucap Kevin meralat penggilannya kepada Karren.
Karren terkekeh mendengar ucapan Kevin.
“Lo kelihatannya makin dekat saja sama dia.” Ucap Karren.
“Gimana ga deket, dia aja ngintilin gue mulu. Kalau aja ini tadi gue ga ngumpet dari dia, pasti dia bakal ikut ke sini.” Ucap Kevin.
Karren tertawa melihat raut wajah Kevin yang kesal, dia bersyukur hubungannya dengan Kevin mulai membaik, Kevin juga sudah bisa menerima kalau Karren sudah menjadi milik orang lain sekarang.
“Oh iya Ren, kata Dina kemarin ada tawaran dari V0GUE Magazine buat kita, mereka minta kita buat jadi model cover majalah mereka buat edisi musim panas.” Ucap Kevin.
Mendengar nama majalah yang di sebut Kevin membuat mata Karren berbinar, dia tidak percaya kalau akan mendapat tawaran dari majalah terkenal.
“V0GUE Magazine?” ucap Karren yang masih tidak percaya.
“Iya gue tau itu salah satu mimpi lo buat jadi model mereka, tapi ini temanya couple, lo yakin pak Gibran bakal kasih ijin?” tanya Kevin.
Seketika tubuh Karren lunglai mendengar pertanyaan Kevin, dia menghempaskan punggungnya di kursi, harapannya yang tadi bersinar terang tiba-tiba saja meredup setelah ingat jika Gibran sudah tidak mengijinkannya untuk foto couple lagi.
Padahal ini adalah salah satu mimpi Karren, dia sudah lama berharap foto dirinya bisa masuk ke V0GUE Magazine.
__ADS_1