DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 79 (INTROGASI)


__ADS_3

Saat ini Sarah sudah berada di depan pintu ruangan Gibran, walaupun sudah melihat Karren keluar dari ruangan Gibran, namun tidak ada sedikit pun keinginan Sarah untuk berbalik dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri Gibran.


Dengan berani Sarah mengetuk pintu ruangan Gibran, namun kali ini Sarah tidak langsung masuk begitu saja dan membuat Gibran marah padanya lagi.


Tidak lama setelah ketukan pintu, Gibran membuka pintu ruangannya.


“Apa lagi sih Karren?” tanya Gibran dengan senyumnya.


Gibran membuka pintu ruangannya dengan wajah yang tersenyum cerah, baru kali ini pertama kalinya Sarah melihat senyum Gibran yang begitu indah.


Tapi sayangnya senyum itu bukan di tujukan untuknya karena sesaat setelah Gibran tau siapa yang ada di hadapannya senyum itu langsung hilang seketika, matanya langsung menatap Sarah dengan tatapan dingin seperti biasanya.


“Sarah? Ada apa?” tanya Gibran dengan wajah dinginnya.


“Aku mau bertanya sesuatu apa aku boleh masuk ke dalam?” tanya Sarah.


Gibran sempat berpikir sejenak lalu akhirnya dia mengangguk dan mempersilahkan Sarah untuk masuk ke dalam ruangannya.


“Duduklah.” Ucap Gibran mempersilahkan Sarah untuk duduk.


“Gibran, aku tadi melihat tante Yulia, ada apa tante Yulia sampai ke sini?” tanya Sarah.


“Aku juga ga tau kenapa mama ada di sini, dia tadi hanya menyapaku lalu pergi.” Jawab Gibran.


Karena Gibran sendiri juga tidak tau kalau alasan mamanya ke kampus karena ingin memberinya makan.


“Ah begitu ya, tadi juga aku melihat Karren keluar dari ruangamu.” Ucap Sarah.


“Iya tadi memang Karren ada di sini, bisakah kita tidak membicarakan hal ini? Aku ada kelas sebentar lagi.” Ucap Gibran.


“Baiklah kalau begitu, aku keluar dulu.” Ucap Sarah berpamitan kepada Gibran dan langsung keluar dari ruangan Gibran.


Di dalam kelasnya, Karren baru saja masuk ke dalam kelas tepat lima menit sebelumkelas di mulai, dia langsung duduk di sebelah Silvia karena sahabatnya itu selalu menyisakan tempat untuknya.


“Lo ke mana aja sih Ren? Gue kira lo ga masuk, si Darren juga di tanyain ga tau lo kemana.” Ucap Silvia.

__ADS_1


“Kesel banget gue!” ucap Karren.


“Hah? kesel kenapa? pagi-pagi udah kesel, kayaknya hidup lo banyak bebannya deh.” Sahut Silvia.


“Gue kayaknya sebentar lagi bakal di usir dari rumah deh.” Ucap Karren dengan tatapan kosong.


“What!? Di usir? Why? Lo ngelakuin kesalahan?” tanya Silvia.


“Masih untung kalo cuma di usir Sil, bisa jadi ada kemungkinan gue di gantung hidup-hidup.” Balas Karren yang membuat Silvia semakin tidak pahan dan penasarah.


“Sebenernya kenapa sih Ren? Coba cerita deh.”


Akhirnya Karren menceritakan semuanya hingga terjadi kesalah pahaman antara Gibran dan dirinya.


“Hahahaha, jadi bentar lagi dosen killer bakal jadi dosen cinta ya Ren..” ucap Silvia sambil tertawa puas.


“Apaan sih lo seneng banget kayaknya, lo tau sendiri kan gue ini belum wisuda.” Ucap Karren.


“Bener kata pak Gibran, wisuda bukan salah satu syarat menikah Karren, lo bisa menikah saat ini juga dan itu ga masalah kan Ren?” ucap Silvia.


“Tapi gue takut, gue takut ga bisa jadi istri yang baik.” Balas Karren.


“Gue cuma kasian sama Kevin aja ntar, kalo dia tau lo sama pak Gibran mau nikah pasti dia sedih banget.” Ucap Silvia sambil matanya melihat ke arah Kevin yang sedang bercanda bersama Darren dan teman-temannya yang lain.


Karren ikut menoleh ke arah Kevin, dia hanya bisa menghela nafas panjang, benar kata Silvia, Kevin adalah orang yang paling merasa kecewa nantinya.


“Sudahlah aku tidak mau memikirkan hal ini dulu.” Ucap Karren yang membuat Silvia mengangguk lalu dia mengelus punggung sahabatnya untuk memberi semangat.


Mereka pun fokus mengikuti mata kuliah.


Hari semakin sore, jam mata kuliah Karren pun selesai dan dia memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya.


Karren memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah, jantungnya berdetak dengan kencang, Karren ragu untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri.


Kesalah pahaman yang terjadi antara dia dan Gibran membuat Karren takut di marahi orang tuanya.

__ADS_1


Karren memang bukanlah perempuan yang polos, dia memang sering keluar malam, tapi orang tuanya sangat melarang pergaulan bebas.


Rasanya memalukan saat memikirkan mereka melakukan hal yang tidak-tidak di ruangan dosen, apa lagi bersama dengan Gibran yang terkenal sebagai laki-laki baik, bisa-bisa orang tuanya berpikiran kalau Karren lah yang sengaja menggoda Gibran.


Karren keluar dari mobilnya, pintu rumahnya terbuka lebar menandakan kalau kedua orang tuanya sedang berada di rumah.


Dan benar saja, saat itu Karren melihat Bernard dan Key sedang duduk santai di ruang tamu sambil menonton televisi, mereka yang awalnya menonton sambil berbicang-bincang langsung terdiam saat melihat Karren masuk ke dalam rumah.


Karren menelan salvilanya, orang tuanya sekarang sedang menatapnya dengan tatapan menyelidik membuat Karren ingin sekali berbalik badan dan kabur dari rumah.


Lebih baik dia menginap di apartment Silvia saja kalau begini, dia takut kalau orang tuanya akan mengintrogasinya.


“Karren, jangan berpikiran untuk kabur!” tegas Key membuat Karren yang sudah mengambil ancang-ancang mematung seketika.


“Duduk!” tegas Key dengan tatapan tajamnya.


Karren menundukkan kepalanya sambil berjalan ke arah sofa, dia duduk sedikit lebih jauh dari orang tuanya untuk mengantisipasi jika orang tuanya ingin melemparnya dengan barang-barang yang ada di sekitar mereka.


“Tadi mamanya Gibran ke sini, dia bilang kamu dan Gibran melakukan hal yang tidak-tidak di dalam ruangan Gibran.” Ucap Key.


“Engga mam, ini semua...”


“Mama ga percaya kamu sama Gibran bisa-bisanya melakukan hal itu sebelum menikah, di ruang Gibran pula!” ucap Key memotong pembelaan Karren.


“Tau tuh, gimana sih Gibran, dia kan pasti banyak duitnya tapi masa lakuin kayak gitu di ruang dosen? Ga modal deh, padahal kan ada banyak hotel di sekitar kampus kamu.” Sahut Bernard membuat Karren dan Key melotot tidak percaya atas ucapan Bernard.


“Om beruang! Bisa-bisanya masih ngeledekin anaknya!” tegur Key dengan mata melotot.


Bernard tersenyum memamerkan gigi putihnya seperti orang yang tidak memiliki dosa. Sedangkan Key hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya.


“Ga usah dengerin papi kamu bilang apa, pokoknya kamu harus siap-siap karena besok keluarga Gibran akan datang ke sini untukmelamar kamu.” Ucap Key yang membuat Karren terkejut.


“Apa!!?” teriak Karren yang membuat Key dan Bernard terkejut karena teriakan putrinya.


“Yaampun Karren jangan teriak-teriak gitu.” Ucap Key memperingati Karren.

__ADS_1


“Mam ini serius? Keluarga mas Gibran akan datang ke sini? Besok?” tanya Karren.


“Iya, kenapa? kalian berdua harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kalian mau tidak mau, siap tidak siap.” Ucap Key membuat Gibran semakin frustasi.


__ADS_2