DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 103 (HARI PERNIKAHAN)


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh Gibran dan juga Karren. Ya, hari ini adalah hari pernikahan Karren dan Gibran.


Mereka berdua melangsungkan akad nikah di masjid yang paling besar di kota itu. Akad nikah di hadiri keluarga besar dan kerabat dekat dari kedua mempelai. Mereka semua menyaksikan saat-saat Gibran mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan penuh dengan keyakinan.


Tidak ada keraguan dari suara Gibran, sedangkan di sampingnya, Karren hanya bisa menunduk karena gugup. Meskipun sebelumnya sempat tegang tapi Gibran berhasil mengucapkan akad dengan lancar.


Karren meneteskan air matanya saat suara ‘SAH’ menggema di penjuru ruangan, sekarang dia sudah menjadi istri orang. Ketakutan yang sempat memenuhi pikirannya akan dunia rumah tangga perlahan menghilang karena Gibran selalu meyankinkannya jika mereka akan melewatinya bersama-sama.


Apa pun yang akan terjadi nantinya, Gibran tidak akan meninggalkan Karren. Begitulah janji Gibran saat H-seminggu pernikahan, di mana keraguan Karren kembali lagi bahkan sampai dia menjauhi Gibran seolah setan-setan bekerja sama untuk membuat Karren lari dari pernikahannya.


Bayang-bayang tentang dunianya yang bebas terus berputar di otak Karren hari itu, dia tidak bisa sebebas dulu setelah menikah nanti, itu juga yang membuat keraguan dalam hati Karren semakin besar.


Dia memang sudah memutuskan untuk tidak ke bar lagi, tapi Karren tetap ingin nongkrong bersama teman-temannya. Dia masih ingin liburan bersama teman-temannya tanpa perlu memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


Benar kata orang, calon pengantin pasti akan di uji sebelum hari pernikahan, untung saja Gibran sabar menghadapi sikap Karren yang masih labil itu. Mereka bisa melewati semuanya dan menghilangkan keraguan Karren untuk menikah.


Penghulu mmbacakan doa akad nikah lalu di lanjut dengan menandatangani buku nikah. Acara selanjutnya penyerahan mahar yang berupa seperangkat alat shalat dan juga uang tunai, setelah itu Gibran dan Karren saling bertukan cincin pernikahan. Setelah cincin terpasang Gibran mencium kening Karren.


Pipi Karren memerah saat Gibran mencium keningnya padahal Gibran juga pernah melakukannya saat Karren sakit, tapi entah kenapa rasaya berbeda. Jantung Karren berdebar tidak menentu saat Gibran menciumnya di hadapan banyak orang.


Penghulu menyampaikan khutbah nikah untuk pengantin, acara akad nikah di akhiri dengan foto bersama antara mempelai pengantin da keluarga beserta kerabat dekat.


Pertama-tama, mereka berfoto dengan para orang tua, lalu di susul dengan kakek nenek dan para kerabat juga tidak ingin ketinggalan, mereka semua berbaris rapi di samping pengantin.


Setelah selesai melaksanakan akad nikah, semua orang segera berangkat menuju hotel bintang lima milik keluarga Kalandra untuk melangsungkan resepsi pernikahan.


Semua orang bersiap di kamar masing-masing yang sudah di sediakan, sebelum acara di mulai mereka melakukan touch up ulang pada wajah mereka dan juga mengganti pakaian mereka untuk resepsi.


***


Sepasang pengantin memasuki ballroom dengan berjalan beriringan. Lengan mereka saling bertaut mesra, senyum mereka tercetak indah di bibir keduanya.


Sang pengantin pria yang biasanya berwajah datar sekarang tersenyum meskipun terlihat kaku dan terpaksa. Tidak masalah, setidaknya dia punya niat untuk menebar senyum di hari bahagianya.


Jangan sampai dia tetap menampilkan wajahnya yang datar, karena itu pasti akan membuat para tamu undangan heran, mereka akan berpikir kalau sepasang pengantin itu menikah karena terpaksa.

__ADS_1


Apa lagi perbedaan raut wajah keduanya sangat berbeda jauh, si penganting pria berwajah datar, sedangkan si pengantin wanita berwajah semringah. Itu bisa saja di artikan jika si pengantin pria menikah karena orang tuanya punya hutang pada orang tua pengantin wanita.


Kedatangan Karren dan Gibran di sambut meriah oleh para tamu undangan, mereka berlomba-lomba merekam saat keduanya berjalan di atas red carpet.


Karren terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun rancangan Anne, begitu juga dengan Gibran yang terlihat sangat tampan malam ini. Keduanya terlihat sangat serasi seolah mereka memang di ciptakan untuk menjadi pasangan.


Alih-alih duduk di tempat yang sudah di sediakan, Karren dan Gibran lebih memilih untuk berbaur dengan para tamu dan mengobrol dengan mereka.


Para dosen terlihat datang dan juga beberapa mahasiswa yang Karren kenal dekat, teman-teman Karren dan Gibran di luar kampus pun banyak yang datang.


Ada banyak selebgram terkenal yang datang atas undangan Karren, banyak pebisnis sukses juga datang memenuhi undangan dari Bernard dan Kalandra tentunya.


Setelah menghampiri para dosen dan menyalami mereka. Gibran dan Karren beralih menghampiri teman-teman mereka. Mereka berjalan menuju tempat di mana Anto, Arga dan Alif.


Trio A yang sedang mengobrol itu langsung menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat, senyum geli langsung tercetak di bibir ketiganya, jika sudah seperti itu pasti mereka sedang memikirkan pikiran kotor.


“Selamat ya bro, gue ga nyangka lo bakal sold out duluan.” Ucap Arga sambil memeluk tubuh Gibran dengan singkat.


“Lo selama ini pacaran main-main doang sih.” Sahut Gibran.


“Kalau gue aja udah bisa dapetin dia seutuhnya sebelum menikah, kenapa gue harus repot-repot nikahin dia?” bisik Arga di telinga Gibran lalu tertawa.


Keliaran pacar Arga memang lebih parah di bandingkan dengan Karren, Arga lebih mempercayakan pada mamanya karena mamanya selalu memilihkan perempuan baik-baik untuknya, bukan perempuan asal comot yang biasa Arga pacari.


Tatapa Arga beralih pada Karren yang berdiri di sebelh Gibran. Arga akui Karren memang sangat cantik dan sialnya Gibran malah yang mendapatkannya, padahal Arga yng melihat Karren lebih dulu.


“Selamat ya, sekarang lo udah jadi nyonya Mahardika.” Canda Arga sambil mengulurkan tangannya.


“Terimakasih.” Ucap Karren sambil membalas uluran tangan Arga dan tersenyum.


“Gue bakal kehilangan langganan tetap setelah ini.” Ucap Arga sambil tertawa di ikuti oleh Karren yang juga tertawa.


“Gue pasti ke sana kalo si dosen killer itu ngijinin.” Balas Karren.


Gibran yang sedang mengobrol dengan Anto dan Alif langsung menoleh saat Karren memanggilnya dosen killer.

__ADS_1


“Tidak! Saya tidak akan ijinkan kamu menginjakkan kaki di tempat jahanam itu lagi.”sahut Gibran dengan tegas.


“Kampret lo Gibran! Bar gue di katain tempat jahanam mulu!” ucap Arga tidak terima.


Sekarang giliran Anto dan Alif yang menyalami Karren setelah mengucapkan selamat kepada Gibran.


“Selamat ya Ren, gue doain semoga baby Gibran cepat muncul.” Ucap Anto sambil menyalami Karren.


Mendengar ucapan sahabatnya membuat Alif segera mengeplak kepala Anto.


“Bahasanya di ganti kek jangan baby Gibran, yang ada di pikiran gue malah wajah si Gibran lagi pake pampers.” Ucap Alif.


Karren tertawa melihat perdebatan kedua teman Gibran itu, dia masih tidak percaya kalau Gibran berada di tengah-tengah mereka.


“Ayo kita pergi aja Ren, jangan ladenin jomblo berantem, nanti kamu pusing.” Ucap Gibran sambil menggandeng tangan Karren membuat Alif dan Anto yang sedang saling menggeplak langsung berhenti dan mereka menoleh ke arah Gibran.


“Mentang-mentang udah nikah sombong sekarang! Gue heran deh, padahal usaha gue lebih banyak buat dapetin cewek, tapi kenapa malah Gibran duluan yang dapet cewek ya, mana spek bidadari gini.” Ucap Alif.


“Lo kurang doa!” sahut Gibran lalu segera menarik Karren pergi dari sana.


Mereka sekarang menghampiri teman-teman Karren, di sana ada Darren, Kevin, Clara, Silvia dan Dina. Bahkan di sana juga ada Trisna yang terus mengikuti Kevin.


Mereka semua mengucapkan selamat untuk Karren dan Gibran, Kevin yang awalnya sempat galau pun sekarang sudah bisa menerima takdirnya.


“Lo dateng sama Trisna Vin?” tanya Karren sambil menatap ke arah Karren dan Trisna secara bergantian.


“Terpaksa ini, ga ada gandengan soalnya.” Jawab Kevin dengan malas.


Karren tertawa, dia bersyukur karena Trisna bisa mengobati rasa sakit hati Kevin walaupun menurut Kevin wanita itu sangat menyebalkan.


“Terimakasih karena sudah datang Trisna.” Ucap Karren.


“Sama-sama kak, aku seneng kok bisa nemenin kak Kevin kondangan.” Balas Trisna.


“Bentar lagi Kevin sama Trisna nyusul Ren.” Sahut Darren.

__ADS_1


“Aamiin..” ucap Trisna dengan bahagia.


“Amit-amit!” seru Kevin tidak terima.


__ADS_2