DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 80 (KELUARGA BESAR)


__ADS_3

Setelah kejadian kesalah pahaman yang di lakukan Gibran dan Karren, Key segera menghubungi semua keluarganya tidak terkecuali. Dia memberitahu semua orang kalau seseorang akan melamar Karren dan mereka akan bertunangan.


Tentu saja semuanya tidak ingin melewatkan hal itu, ini adalah kali kedua cucu keluarga Kalandra akan membangun sebuah hubungan, Alya sudah menikah selama satu tahun walaupun belum di berikan momongan.


Kenan dan keluarganya segera terbang ke Indonesia menggunakan jet pribadi keluarga mereka.


“Mam, emang harus semuanya datang ke sini?” tanya Karren.


“Kenapa emangnya? Mereka semua harus tau kalau tidak mami yang akan di marahi karena ada acara penting tapi ga bilang-bilang.” Balas Key.


“Tapi Karren malu mam, masa iya kita tunangan karena salah paham.” Ucap Karren.


“Emangnya kenapa? namanya keluarga ya harus tau dong alasannya walaupun memalukan.”


“Mam, kejadian itu benar-benar hanya salah paham saja, aku akan menyuruh mas Gibran untuk menjelaskan semuanya sama mami.” Ucap Karren.


“Mami tidak ingin penjelasan Karren, pokoknya kalian berdua harus segera melangsungkan pernikahan.” Tegas Key.


Awalnya Karren ingin membalas ucapan maminya, namun dengan jelas Key mengangkat tangannya memberi kode agar Karren tidak berbicara lagi.


“Jangan bicara lagi, lebih baik kamu ke atas mami sudah menyiapkan kebaya untuk kamu pakai besok, kita semua memakai kebaya senada.” Ucap Key.


Karren tau ucapan maminya tidak bisa di bantah, dia juga melihat di rumah Gibran sudah ada banyak saudaranya yang datang, itu membuat Karren semakin gugup dan takut.


 Akhirnya Gibran masuk ke dalam kamarnya, dia tertuju pada kebaya berwarna peach tergantung di dalam walk in closetnya.


Karren menghela nafas panjang, lalu dia memutuskan untuk berbaring di tempat tidurnya sambil melihat feed instagram miliknya, ada banyak video dirinya dan teman-temannya yang sedang bersenang-senang bersama.


Entah setelah ini apa dia bisa bersenang-senang seperti itu lagi atau tidak, sudah bisa di pastikan kalau Gibran pasti membatasi ruang bermainnya setelah menikah nanti.


***

__ADS_1


Hari ini adalah hari di mana keluarga Gibran akan datang untuk melamarnya, bahkan semua keluarga besar Karren ikut datang ke Indonesia karena maminya sudah memberitahu semua orang dan mereka semua tertarik untuk datang karena ini adalah pertama kalinya cucu dari keluarga Kalandra bertunangan setelah Alya anak dari Kenan.


Hanya Elsa, Ryan dan putra kembarnya saja yang tidak bisa datang karena beberapa alasan.


Kaki Karren sejak tadi tidak bisa diam, dia mondar mandir ke sana kemari membuat para sepupunya yang ada di dalam kamarnya.


Di dalam sana sudah ada Alya, Aciel, Azzura yang tidak lain adalah anak-anak Kenan, dan juga Darren. Mereka ber-empat kebingungan melihat tingkah Karren yang mondar-mandir ke sana ke mari.


Perasaan Karren saat ini sedang campur aduk, dia merasa gugup, panik, takut, senang dan juga mulas.


Perutnya sudah mulai bergejolak semenjak maminya mengatakan kalau keluarga Gibran akan segera datang. Kejadian di mana tangan Gibran mencoba untuk mengancingkan kemeja Karren akan mengubah masa muda Karren.


Karren yang masih suka bersenang-senang akan memiliki tanggung jawab yang besar setelah ini.


“Lo bisa ga sih jangan mondar-mandir gitu Ren? Gue pusing lihatnya.” Seru Aciel yang lebih tua beberapa bulan dari Karren dan Darren.


Walaupun Karren dan anak-anak Kenan jarang sekali bertemu, mereka tetap sangat dekat sama seperti Karren dan Darren, karena mereka semua sering berhubungan lewat telfon dan membuat grup keluarga khusus mereka tanpa orang tua mereka.


Kukunya yang sudah di hias oleh Azzura dengan nail polish berwarna pink itu sekarang sedang dia gigit.


“Oh my God! Kak Karren, don’t bite your nail!” seru Azzura yang memang suka berbicara layaknya bule karena setelah lahir beberapa bulan dia langsung di bawa ke luar negeri.


“Ga usah sok bule deh lo!” ketus Karren namun dia tetap melepas gigitannya agar tidak merusak kuku yang sudah susah payah di hias oleh sepupunya.


Karren sangat takut menikah, hanya memikirkannya saja sudah membuatnya ketakutan. Karren takut kalau dia tidak bisa menjadi istri yang baik, dia masih sering egois, bagaimana bisa dia menjadi seorang istri yang harus memikirkan suaminya juga.


Kalau di beri pilihan, Karren lebih suka menjadi seorang anak dari pada seorang istri. Hidup berumah tangga bukanlah hal yang mudah, Karren sadar itu, itulah kenapa Karren merasa belum sangguk untuk menjadi seorang istri.


“Kenapa lo takut begitu sih Ren, kan enak bisa begituan tiap hari.” Ucap Darren yang otaknya memang tidak bisa di bersihkan lagi karena kotorannya sudah menempel menjadi kerak.


“Nikah ga cuma septar itu doang kampret lo!” ketua Karren.

__ADS_1


Seketika Karren teringat kalau kakak sepupunya sudah menjalani bahtera rumah tangga, bahkan dia menikah dengan laki-laki yang dia sukai dan menyukainya, tentu saja dia bahagia dan hal itu pasti akan membuat Karren sedikit lebih tenang.


“Kak Al?” panggil Karren yang membuat Alya yang sedang melamun langsung menoleh ke arah Karren.


“Hem? Ada apa Ren?” tanya Alya.


“Kakak kan sudah menikah, bagaimana hubungan rumah tangga kakak dan suami kakak?” tanya Karren yang membuat Alya terkejut.


“Hah? eh, hubungan kami baik-baik saja kok Ren, kami saling mencintai jadi kami bahagia.” Ucap Alya dengan senyum tipis di wajahnya.


“Awalnya aku kira rasa gugupku akan berkurang, tapi ternyata tetap saja kak.” Keluh Karren sambil menengus kesal.


“Dalam hubungan suami istri, salah satunya harus mengalah kalau sedang berdebat, walaupun kamu merasa benar tapi coba untuk mengalah lalu bicarakan saat kalian berdua sama-sama tidak dalam keadaan emosi.” Jelas Alya dengan tulus.


Tentu saja ucapan Alya sangat dewasa karena sejak kecil hidup Alya sudah menderita karena di paksa mencari uang dan hidup di panti asuhan yang tidak baik. Untung saja saat itu Kenan dan Belinda bertemu dengan Alya, kalau tidak mungkin saat ini tidak ada yang tau bagaimana keadaan Alya jika terus berada di panti itu.


Alya adalah panutan semua adik-adiknya, hatinya tulus dan sangat baik hati, sejak dulu Alya selalu mengalah pada adik-adiknya, dan semuanya mendoakan agar Alya mendapatkan kebahagiaannya.


Darren yang sejak tadi tengkurap di tempat tidur Karren terus menoleh ke arah Alya, lalu keningnya berkerut saat melihat sesuatu yang aneh di wajah kakaknya itu.


“Kak Al, apa kakak benar-benar bahagia dengan suami kakak? Kenapa dia tidak datang kemari sekarang?” tanya Darren.


“Dia sibuk Darren, padahal dia sangat ingin ikut tapi dia sibuk bekerja dan menitipkan salam untuk kalian semua.” Balas Alya.


Sedangkan Azzura hanya diam menatap kakaknya, dia tau kalau kakaknya tidak bahagia tapi Alya sangat baik dalam menutupi ketidak bahagiaannya itu.


“Sudahlah kenapa semuanya jadi kepo soal kakak sih, ayo semuanya bersiap.” Seru Alya yang di balas anggukan oleh semuanya.


***


Next author up novel tentang Alya ya, udah gatel banget sebenernya tapi ga mau sampe novel yang lain terbengkalai jadi di tahan dulu hehehe...

__ADS_1


__ADS_2