DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 99 (BOLEH MINTA PELUK?)


__ADS_3

Pulang  mengajar, Gibran langsung kerumah sakit. Tentu setelah membersihkan dirinya dan berganti baju lebih dulu.


Gibran berencana akan menginap lagi di rumah sakit untuk menemani Karren, apa lagi saat ini Karren sudah sadar, rasanya Gibran tidak ingin meninggalkannya lama-lama.


Gibran yang sudah tiba di rumah sakit segera bersalaman dengan Bernard, Ken dan Kalandra yang ada di depan ruangan Karren sedang duduk di kursi tunggu.


“Kamu sudah pulang Gibran?” ucap Kalandra saat calon cucu menantunya mencium punggung tangannya.


“Iya opa, opa sudah lama di sini?” tanya Gibran karena saat dia pulang untuk mengajar tadi Kalandra belum datang ke rumah sakit.


“Lumayan lah.” Balas Kalandra yang di balas anggukan oleh Gibran.


Gibran bisa mendengar di dalam ruangan Karren lebih ramai dari biasanya.


“Di dalam ada siapa aja om?” tanya Gibran kepada Bernard.


“Biasa, cewek-cewek lagi pada di dalam, kamu masuk aja ga apa-apa. Mereka juga udah lama kok di dalam.” Jawab Bernard.


“Kalau begitu saya masuk dulu om, om Ken, opa.” Pamit Gibran yang di balas anggukan oleh semuanya.


Gibran membuka pintu ruangan Karren dan melihat orang-orang yang tadinya sedang mengobrol langsung menoleh ke arah Gibran yang sedang membuka pintu.


Mengetahui dirinya menjadi pusat perhatian membuat Gibran jadi salah tingkah, dia merasa seperti sedang berjalan di red carpet sekarang.


Di dalam sana terlihat ada Key, Andini dan juga Khansa yang sedang mengobrol di sofa, ada Kevin dan Darren juga sedang duduk di pinggir tempat tidur pasien menemani Karren.


Tatapan Gibran seketika menajam saat melihat Kevin yang dengan santainya menyuapi Karren dengan gaya pesawat terbang, padahal dia sudah menyadari kehadiran Gibran di sana.


Gibran segera menghampirinya dan dengan cepat dia mengambil alih mangkuk berisi bubur dari tangan Kevin. Kevin terkejut dengan apa yang di lakukan Gibran tapi kemudian dia terkekeh.


Darren dan para wanita yang berada di sana pun terkekeh melihat tingkan Gibran yang menurut mereka sangat lucu dan terlalu posessif.


“Biar saya saja yang menyuapi Karren.” Ucap Gibran.


Kevin mengangguk, “Yang sabar kalau menyuapi Karren pak, menyuapinya membutuhkan kesabaran ekstra. Dia rewel dari tadi ga mau makan.” Jelas Kevin.


Gibran hanya mengangguk sedikit lalu menatap wajah Karren yang sedang menatapnya dengan tatapan kagum.


“Karena sudah ada Gibran, kita semua keluar dulu ya.” Pamit Key kepada Gibran.


“Iya tante, tante Andin, oma, terimakasih sudah menjaga Karren selama aku mengajar.” Ucap Gibran.

__ADS_1


“Kenapa kamu berterimakasih begitu, Karren adalah cucuku tentu saja aku menjaganya dengan baik tanpa kamu suruh.” Sahut Khansa.


Gibran hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu semua orang segera keluar dari ruangan Karren setelah berpamitan kepada Gibran dan Karren.


Setelah semua orang pergi, sekarang tinggallah Karren dan Gibran berdua di dalam ruangan itu, Karren tersenyum menatap Gibran dengan tatapan penuh kerinduan.


“Kenapa kamu melihat saya seperti itu?” tanya Gibran heran.


Gibran sedikit ngeri karena Karren hanya menatapnya sambil senyum cengengesan tanpa mengatakan sepatah katapun.


“Aku kangen sama kamu.” Ucap Karren dengan manja.


“Saya juga kangen sama kamu.” Balas Gibran sambil tersenyum senang mendengar Karren mengatakan hal itu.


“Makasih mas.” Ucap Karren dengan senyum manisnya.


Gibran mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan terimakasih dari Gibran, dia tidak mengerti kenapa Karren berterimakasih kepadanya.


“Kenapa kamu berterimakasih?” tanya Gibran.


“Terimakasih karena kamu sudah jagain aku selama ini, mami udah cerita semuanya sama aku kalau kamu selalu menginap di rumah sakit untuk menjagaku, sekali lagi terimakasih.” Ucap Karren dengan tulus.


Mendengar ucapan Gibran membuat Karren terkekeh.


“Aku pasti akan kembali lah mas, kalau aku ga kembali nanti ga ada yang godain kamu lagi dong, ga ada yang habisin uang papi dan mami juga ntar, ga ada yang nyusahin Darren sama Kevin juga, nanti hidup kalian semua terlalu damai kalau ga ada aku.” Ucap Karren bercanda.


Mendengar ucapan Karren membuat wajah Gibran menjadi jengah, sedangkan Karren tersenyum cengengesan. Tangannya sudah berjalan menuju tangan Gibran dan menggenggam tangan kekar itu.


Gibran terkejut dengan apa yang di lakukan Karren, tatapannya mengarah pada tangan Karren yang sedang menggenggam tangannya lalu tatapannya beralih pada Karren yang masih tersenyum ke arahnya.


“Mas...” panggil Karren dengan lembut.


“Iya? Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” tanya Gibran.


Karren menggelengkan kepalanya, dia ingin mengungkapkan apa yang dia inginkan tapi malu. Jadi dia hanya bisa menunduk dengan pipi memerah.


“Kenapa? bilang aja apa yang kamu inginkan.” Ucap Gibran yang tau kalau ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh Karren.


“Mmm,, aku boleh minta peluk? Aku kangen pengen meluk kamu.” Ucap Karren dengan malu-malu.


Gibran yang mendengar permintaan Karren langsung salah tingkah, dia ragu sekaligus bimbang, ingin menuruti permintaan Karren atau tidak.

__ADS_1


Karren cemberut, dia kecewa karena Gibran seperti enggan memeluknya. Karren membalikkan tubuhnya membelakangi Gibran sambil memejamkan matanya pura-pura tidur.


“Karren...” panggil Gibran.


Tangan Gibran menyentuh legan Karren berharap Karren mau membalikkan tubuhnya, dia merasa bersalah sekarang.


Karren diam, tidak berniat untuk menyahut, elusan tangan Gibran di rambutnya mulai dia rasakan.


“Panggilin Kevin aja, aku mau di peluk dia!” ketus Karren tanpa menoleh sama sekali kepada Gibran.


“Tidak! Saya yang akan memeluk kamu.” Sahut Gibran dengan cepat.


Gibran duduk di pinggir tempat tidur pasien, lalu dia menarik tubuh Karren pelan agar Karren terlentang, setelah itu Gibran membantu Karren untuk bangun dan langsung membawa Karren ke dalam pelukannya.


“Sudah?” tanya Gibran dengan lembut dan di balas gelengan kepala oleh Karren.


“Masih mau kayak gini dulu.” Rengek Karren.


Gibran mengangguk, dia membiarkan kepala Karren bersandar di dada bidangnya dengan kedua tangan melingkar di pinggang ramping Karren.


“Kamu kayaknya kurusan ya?” ucap Karren mendongak menatap Gibran.


Gibran mengangguk mengiyakan pertanyaan Karren lalu dia tersenyum malu.


“Saya tidak nafsu makan.’ Balas Gibran dengan jujur.


“Kok bisa? yang sakit kan aku, kok yang kurus malah kamu.” Balas Karren.


“Gimana saya mau nafsu makan kalau kamu saja ga mau bangun.” Jawab Gibran.


Mendengar ucapan Gibran membuat Karren tersenyum, lalu tangannya terulur menyentuh wajah Gibran yang tidak sesegar sebelum-sebelumnya, dia melihat ada lingkaran hitam di bawah mata laki-laki itu.


“Ini kenapa bawah mata kamu warnanya hitam? Kamu begadang?” tanya Karren.


“Saya tidak bisa tidur dengan nyenyak.” Balas Gibran, tubuhnya seketika merinding saat jari lentik Karren menyentuh wajahnya.


“Maaf ya aku udah buat kamu khawatir.” Ucap Karren merasa bersalah.


“Saya maafkan asal kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi, jangan membuat saya khawatir lagi. Apa kamu tau, saya seperti hidup tanpa jiwa saat melihat kamu terbaring lemah.”


“Saya merasa sesak, andai bisa saya ingin menggantikan kamu dari pada saya haris di hantui dengan rasa cemas setiap harinya.” Jelas Gibran.

__ADS_1


__ADS_2