DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAN 30 (MARAH LAGI?)


__ADS_3

“Itu cowok yang kata Silvia nyuekin lo?” tanya Clara.


"Iya, gimana menurut lo? Gue maju apa mundur nih?" tanya Karren meminta pendapat Clara.


"Maju terus lah gila lo! Baru kali ini lo nemu cowok yang bener, biasanya kan modelan Kevin semua. Ga usah dengerin Silvia!" sahut Clara dengan semangat.


Silvia memutar bola matanya karena kesal mendengar ucapan Clara.


"Lo ga tau sih, tuh cowok udah punya cewek! Ceweknya dosen di kampus kita pula, cewek baik-baik lagi ga kayak kita yang selalu pake baju mini!" sahut Silvia.


"Serius Ren?" tanya Clara meminta penjelasan dari Karren.


"Haaahhh,, gue juga ga tau kejelasan hubungan mereka, tapi gue yakin Gibran punya rasa sama gue!" balas Karren.


Tiba-tiba saja Karren tersenyum saat mengingat semua perhatian yang Gibran lakukan terhadapnya.


"Kenapa lo bisa seyakin itu Ren?" tanya Clara.


"Ini buktinya, dia ga bolehin gue minum malam ini dan bawain gue air mineral." ucap Karren sambil menunjukkan botol yang dia bawa kepada teman-temannya.


Mendengar ucapan Karren membuat Clara, Silvia, dan Dina tertawa.


"Kok kalian pada ketawa sih?" tanya Karren kesal karena teman-temannya menertawakannya.


"Ya lo ada-ada aja Ren, dulu waktu SD gue juga di bawain air mineral sama nyokap gue biar ga jajan sembarangan." ucap Dina.


"Gue juga sering di kasih temen cowok gue air mineral, terus istimewanya di mana?" sahut Clara.


Ketiga temannya masih saja menertawakan Karren, sedangkan Karren mengendus kesal dengan perumpamaan yang di berikan teman temannya itu.


"Kalian ini bukannya ngedukung gue malah ngeledekin gue!" ketus Karren.


Sesuai dengan janjinya pada Gibran, Karren sama sekali tidak minum malam itu, dia hanya meminum air mineral yang di berikan Gibran kepadanya.


Bahkan Karren di ejek habis-habisan oleh Darren dan Kevin.


Namun Karren sama sekali tidak memperdulikan ejekan kedua laki-laki itu dan memutuskan untuk mengobrol dengan Dina.


Di sisi lain, Gibran menghampiri teman-temannya yang ada di pojok ruangan seperti biasa.


Semuanya terkejut saat melihat kehadiran Gibran di bar itu, karena hal itu adalah hal yang sangat luar biasa.


"Lo ke sini beneran Gib?" ucap Anto tidak percaya.


"Wah gila sih, gue kira omongan Arga yang bilang lo bakal dateng ke sini cuma bokis! Ternyata lo beneran dateng gara-gara cewek?" sambung Alif.

__ADS_1


"Gue bosen di rumah makanya ke sini, bukan gara-gara cewek." bohong Gibran.


"Hahaha, cewek lo tuh dari tadi di deketin cowok-cowok." sahut Arga sambil menertawakan tingkah lucu Gibran.


"Lo harus hati-hati Gib, cewek spek bidadari gitu harus di jaga baik-baik, kalo engga bisa di culik hidung belang!" ucap Anto dengan serius.


"Iya lo juga termasuk kan? Hahaha.." sahut Alif.


"Ga ngaca lo lif? Perlu gue beliin?" balas Arga.


"Diamlah! Kalian berdua itu sama, sama-sama hidung belang!" ucap Gibran yang di balas tawa oleh ketiga sahabatnya.


"Lagian lo sih Gib, punya tampang melebihi SNI harusnya di manfaatkan untuk memikat wanita seksi." ucap Alif.


"Kalo lo mau, gue buka menu baru nih di bar gue." sahut Arga.


"Apaan Ga?" tanya Anto.


"Open BO, si Gibran gue lelang pasti dapet banyak, hahahaha..." jawab Arga.


"Sialan lo Ga!" ucap Gibran kesal lalu meninju lengan Gibran.


Keempat sahabat itu memang sudah saling mengenal dan berteman sejak duduk di bangku SMP, bahkan SMA pun mereka satu sekolah dan selalu berada di kelas yang sama juga.


Keempatnya selalu bersama seperti empat serangkai, banyak sekali wanita yang mengagumi mereka semua karena tampang mereka tampan dan berasal dari keluarga yang high class pastinya, membuat mereka semakin sempurna.


Gibran segera berpamitan kepada teman-temannya untuk pulang lebih dulu. Tidak lupa Gibran menghampiri Karren dan mengajaknya pulang bersama.


"Ehem!" deheman seseorang membuat Karren yang sedang asik mengobrol langsung menoleh ke arah suara tersebut yang ternyata berasal dari Gibran yang sudah berdiri di sebelah Karren.


"Mas?" ucap Karren.


"Ayo kita pulang." ajak Gibran.


Karren melirik ke arah jam tangannya lebih dulu barulah dia mengangguk mengiyakan ajakan Gibran.


"Gue balik dulu ya." pamit Karren kepada teman temannya.


"Loh baru jam berapa ini beb!" sahut Kevin yang langsung dapat tatapan tajam dari Gibran.


Melihat hal itu membuat Kevin segera menelan salvilanya dan langsung berdehem.


"Yaudah hati-hati beb pulangnya." ucap Kevin sambil melambaikan tangannya.


Tanpa di sangka, Gibran menggenggam tangan Karren dengan lembut saat mereka melewati dance floor dan melewati beberapa orang yang sedang menari.

__ADS_1


Setibanya di parkiran, barulah Gibran melepaskan tangan Karren dan menyuruh Karren masuk ke dalam mobil, sedangkan Gibran juga segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Setelah duduk, Gibran tidak langsung melakukan mobilnya, dia malah mengambil sesuatu dari kursi belakang dan memberikannya kepada Karren.


"Selimut?" tanya Karren.


"Pakai itu, saya sengaja membawa itu untuk menutupi tubuh kamu." ucap Gibran.


Ya, Gibran memang sengaja membawa selimut berukuran kecil dan tipis untuk menutupi tubuh Karren, dan sepertinya selimut itu akan terus berada di mobil Gibran.


Sedangkan Karren yang sudah mengerti sifat Gibran hanya bisa pasrah menuruti semu ucapannya.


Karren menutupi tubuhnya dari dada hingga kakinya sesuai permintaan Gibran.


"Kenapa sih kamu selalu ngasih sesuatu buat nutupin tubuh aku mas?" tanya Karren.


"Karena saya tidak suka melihat kamu memakai pakaian terbuka." jawab Gibran dengan jujur.


Mendengar jawaban dari Gibran membuat Karren menganggukkan kepalanya.


"Jadi itu yang ngebuat kamu lebih milih Bu Sarah?" ucap Karren.


"Maksudnya?" tanya Gibran dengan kening yang berkerut.


"Kamu kan kemarin lebih pilih makan siang bareng bu Sarah dari pada aku." jawab Karren.


"Saya kan udah bilang kalo saya ada rapat Karren." balas Gibran.


"Bilangnya ada rapat tapi makan siang berduaan di kantin sampe bikin gosip di kalangan mahasiswa." sindir Karren.


"Itu rapatnya udah selesai, saya juga ga tau kalo ternyata rapatnya hanya sebentar." balas Gibran.


Karren tidak merespon, dia hanya menganggukkan kepalanya dan kembali fokus melihat jalanan yang sepi karena sudah malam.


"Kamu marah?" tanya Gibran.


"Hmm.." Karren hanya bergumam membuat Gibran menghela nafas panjang.


"Kalo kamu marah saya minta maaf, saya akan ganti rencana makan siang itu, kamu tentukan saja di mana kita akan makan siang." ucap Gibran.


Mendengar hal itu membuat Karren senang, dia langsung menoleh ke arah Gibran dengan senyumnya.


"Oke!" seru Karren dengan semangat.


Melihat suara Karren yang kembali bersemangat membuat Gibran tersenyum.

__ADS_1


Sesampainya di komplek perumahan mereka, Gibran menghentikan mobilnya di depan rumah Karren dan ikut turun untuk memastikan Karren masuk ke dalam rumah.


Setelah itu, barulah Gibran memarkirkan mobilnya di depan rumahnya dan masuk ke dalam rumah.


__ADS_2