
“Biar Clara aja yang obatin gue!” ketus Kevin saat Trisna masih berusaha untuk mengobatinya.
“Iya sini biar gue aja yang ngobatin Kevin.” Ucap Clara yang tidak tega melihat wajah Kevin yang sudah frustasi seperti itu.
Lagipula sebelum Trisna datang, Clara memang berniat untuk mengobati Kevin, namun semuanya berubah saat Trisna datang di antara mereka.
“Nggak usah kak biar aku aja!” tegas Trisna.
Trisna memang sangat berani, padahal Clara memiliki raut wajah yang garang, dan terlihat seperti pemeran antagonis, namun hal itu tidak membuat Trisna takut.
Clara hanya melihat Kevin sambil mengangkat kedua bahunya, dia juga baru pertama kali berhadapan dengan perempuan yang tak kenal takut seperti Trisna.
Karren akhirnya maju, dia ingin mengobati Kevin karena pertama dia kasihan dengan Kevin yang sangat ingin menjauh dari Trisna, yang kedua dia juga merasa bersalah karena Kevin seperti itu karena dirinya juga.
“Sini biar gue aja yang obatin Kevin Na.” ucap Karren.
“Kak Karren mending pulang aja sama pak Gibran, nanti kalo kakak deket-deket sama kak Kevin lagi pak Gibran bakalan mukul kak Kevin lagi.” Ucap Trisna dengan nada kesal.
Yah, wajar saja jika Trisna kesal karena orang yang dia sukai di hajar sampai babak belur seperti itu.
Karren hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia jadi bingung sendiri harus berbuat apa untuk membantu Kevin. Trisna seperti bodyguard yang tidak akan membiarkan orang lain menyentuh Kevin selain dirinya.
“Udahlah lo nurut aja biar dia yang obatin lo biar cepet beres.” Sahut Darren.
“Tuh kan bener kata kak Darren kak.” Sahut Trisna yang senang karena merasa ada yang membela.
“Btw temen lo Anindita kemana?” tanya Darren.
“Anin? Dia mah ga akan mau ke tempat kayak gini kak, dia polos banget.” Ucap Trisna.
“Ga kayak lo enteng banget masuk ke tempat kayak begini!” sahut Kevin.
“Kak, aku kan begini juga demi kakak.” Ucap Trisna dengan wajah cemberutnya.
Trisna sudah mulai mendekatkan tangannya ke wajah Kevin, namun Kevin segera menepis tangan Trisna.
“Gue ga mau di obatin sama lo! Ren, lo aja deh yang obatin gue.” Ucap Kevin kepada Darren.
Jika Trisna tidak mengijinkan Clara dan Karren untuk mengobati Kevin karena mereka perempuan, pasti dia akan mengijinkan kalau Darren yang mengobatinya.
“Dih ogah!” ucap Darren sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
Karren yang awalnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat Kevin dan sepupunya saling bersautan, tiba-tiba saja terkejut saat seseorang menarik tangannya dengan lembut.
Karren menoleh dan melihat Gibran yang sedang menggenggam tangannya.
“Ayo pulang.” Ajak Gibran.
“Aku pulang sama Darren aja nanti.” Balas Karren.
“Karren...” tegas Gibran yang tidak ingin di bantah.
“Haah, baiklah aku pulang sama kamu.” Ucap Karren pasrah, dia tau kalau Gibran tidak ingin di bantah saat ini.
Gibran ingin menarik tangan Karren, lalu tiba-tiba di tahan oleh Karren dan membuat Gibran menoleh ke arah Karren.
“Ada apa Karren?” tanya Gibran.
“Kamu ga mau minta maaf dulu sama Kevin mas?” tanya Karren.
Mendengar hal itu membuat tatapan mata Gibran tertuju kepada Kevin yang terlihat kesakitan saat di obati oleh Trisna. Namun Gibran sama sekali tidak berkutik, seperti tidak ada niatan untuk meminta maaf.
“Mas,, kalo mau aku pulang sama kamu kamu harus minta maaf.” Ucap Karren dengan tegas.
Gibran langsung menghela nafas panjang mendengar ucapan Karren lalu dia berjalan menghampiri Kevin.
Mendengar kata-kata Gibran tadi membuat semua orang yang ada di sekitar Kevin melongo, mereka terkejut Gibran meminta maaf kepada mahasiswanya dan mereka juga terkejut karena sepertinya Gibran sama sekali tidak merasa bersalah sudah memukul Kevin.
“Ren, lo ga balik sama gue?” tanya Darren.
“Engga Ren, gue sama mas Gibran aja, duluan ya guys bye..” pamit Karren sambil melambaikan tangannya.
Darren menganggukkan kepala mengerti, dia membiarkan Karren pulang bersama Gibran, toh Gibran tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada sepupunya.
Gibran langsung menarik tangan Karren pergi setelah Karren pamit kepada teman-temannya, kali ini terasa sekali kalau tarikan Gibran sangat lembut tidak seperti tadi saat dia emosi.
Gibran menghampiri teman-temannya sebentar untuk berpamitan, tangannya masih setia menggenggam tangan Karren.
“Thanks udah ngasih tau gue kalo Karren ada di sini, gue juga minta maaf udah bikin keributan di bar lo.” Ucap Gibran kepada Agra temannya.
Karren tidak percaya ternyata Gibran bisa berbicara bahasa gaul juga bersama teman-temannya, dia kira Gibran tetap berbicara seperti robot dengan teman-temannya.
“Lo ga mau minta maaf udah bilang bar gue ini tempat jahanam?” ucap Agra yang ternyata masih tidak terima jika bar miliknya di katakan tempat jahanam.
__ADS_1
“Engga, kan emang kenyataan bar lo ini tempat jahanam.” Balas Gibran.
“Sialan lo, cepetan bawa balik deh cowoknya mbak, bisa-bisa gue tabok mulutnya tuh kalo dia ngomong lagi.” Ucap Agra kepada Karren.
Karren menahan tawanya lalu dia menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Agra.
Ternyata bukan dirinya saja yang menganggap Gibran menyebalkan, teman-temannya juga menganggap Gibran menyebalkan.
“Namanya siapa mbak?” tanya Anto dengan nada genit membuat Gibran melotot ke arah temannya itu.
“Aku Karren.” Ucap Karren sambil mengulurkan tangannya yang langsung di balas oleh Anto dan Alif.
“Kalau saya Anto, dia Alif.” Balas Anto.
Karren hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, dia tidak menyangka kalau Gibran memiliki teman-teman yang lucu juga.
“Gue balik dulu.” Pamit Gibran kepada teman-temannya.
Gibran tidak ingin kalau Karren terkontaminasi otak tidak jelas teman-temannya.
Seperti biasa, Gibran menyediakan selimut kecil untuk menutupi bagian atas kaki Karren yang terbuka sesaat setelah Karren sudah berada di dalam mobil.
“Aku kayaknya harus pindah tempat nongkrong deh, kalo di sini kamu punya banyak mata-mata bikin kesel aja.” Ucap Karren dengan wajah cemberut.
Gibran terkekeh mendengar ucapan Karren, dia tidak percaya kalau Karren akan berpikiran untuk pindah ke bar lain.
“Saya juga ga akan ke sini kalo kamu ga macem-macem.” Ucap Gibran.
“Tapi ga perlu main tonjok anak orang juga kan mas.” Balas Karren.
“Salah sendiri dia mau mencium kamu, kamu juga bukannya menghindar malah memejamkan mata!” ketus Gibran.
“Aku kan jomblo, jadi bebas dong.” Ucap Karren.
“Tapi sekarang kamu calon kekasih saya! Jadi tolong jaga tubuh kamu buat saya.” Tegas Gibran.
“Cih, yakin banget kalau aku bakal terima kamu?” ejek Karren.
“Saya yakin kalau aku bakal terima aku, karena kamu sendiri yang bilang kalau kamu suka sama saya, orang tua kamu juga udah mendukung hubungan kita kan.” Balas Gibran.
“Cih itukan dulu sebelum kamu menjauh dari aku, sekarang kamu ga tau kan aku masih suka sama kamu apa ngga.” Balas Karren.
__ADS_1
“Pokoknya aku yakin kamu masih menyukaiku.” Ucap Gibran.
Karren segera mengalihkan pandangannya, dia memilih menatap kaca meratapi nasibnya yang dulu sempat berbicara kalau dia menyukai Gibran.