
Adzan subuh mulai berkumandang dari masjid rumah Gibran. telinga Karren yang sudah tidak di sumpal setan pun bisa mendengarnya.
Karren sudah mulai terbiasa bangun subuh dengan mengandalkan adzan sebagai alarmnya.
Jika sampai adzan berakhir Karren belum bangun, baru Gibran yang akan turun tangan.
Karren membuka matanya, pandangannya melihat pada benda yang berada di dalam pelukannya.
Bukan lagi tubuh Gibran yang memeluknya seperti biasa, melainkan guling yang entah sejak kapan berada di ranjang.
Padahal seingatnya, Gibran sudah menyingkirkan guling itu. Kata Gibran, Karren sudah tidak memerlukan guling lagi karena sudah ada dirinya yang bisa Karren peluk.
Dada Karren sesak mengingat pembicaraannya dengan Gibran kemarin malam sebelum tidur.
Apa itu juga yang membuat Gibran menggantikan tubuhnya dengan guling? Sepertinya Gibran sangat marah.
Namun Karren juga tidak berencana menolak kontraknya karena dia tidak ingin impiannya melayang begitu saja.
Karren menoleh setelah mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Bisa dipastikan jika Gibran sedang mandi sekarang laki-laki itu bahkan tidak mau menunggu Karren.
Biasanya Gibran menunggu Karren sampai bangun dulu baru dia mandi namun hari ini Gibran memilih langsung mandi tanpa mau memastikan dulu apakah Karren sudah bangun atau belum.
Karren merenung, di saat seperti ini penyesalan menikah muda mulai timbul.
Di saat yang lain bebas bersenang-senang dan mengejar mimpinya, Karren di sini sudah menjadi seorang istri yang bertanggung jawab mengurus rumah tangganya.
Karren tidak menyangka masa mudanya akan seperti ini karena ini jauh dari rencana hidupnya.
Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benda Karren untuk menikah muda tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Dia menikah, bahkan sebelum wisuda. Astaga! Memikirkan kuliah saja masih pusing sekarang dia harus memikirkan masalah rumah tangga juga.
Pintu kamar mandi terbuka, Gibran muncul hanya dengan handuk yang melingkari pinggangnya, Karren menahan dirinya sendiri agar tidak tergoda dengan penampakan menakjubkan yang ada di depannya.
Hubungannya dengan Gibran sedang tidak begitu baik sekarang, jangan sampai sifat agresifnya berkobar yang membuatnya berlari dan memeluk Gibran saat ini juga.
"Cepat mandi, keburu waktu subuhnya habis!" Perintah Gibran dingin tanpa menetap Karren.
__ADS_1
Karren hanya mengangguk, dia segera beranjak ke kamar mandi dia mandi dengan cepat karena Gibran sudah menunggunya.
Saat Karren keluar dari kamar mandi, Gibran sudah duduk di atas sajadah dengan memakai baju koko dan sarung. sebuah peci hitam juga terlihat menutupi kepalanya.
Terdengar alunan ayat suci Al-Qur'an keluar dari mulutnya, perasaan Karren yang tadinya kacau sekarang mulai tenang setelah mendengar Gibran membaca Al-Qur'an.
Karren segera memakai mukenanya dengan cepat agar tidak membuat Gibran menunggu lebih lama lagi.
"Sudah?" tanya Gibran setelah selesai membaca Al-Qur'an.
Gibran menoleh ke belakang untuk memastikan jika Karren sudah siap melaksanakan salat subuh.
Karen membalas pertanyaan Gibran dengan anggukan, Gibran manggut-manggut lalu mulai berdiri diikuti Karren, mereka melaksanakan salat subuh berjamaah.
setelah salat, mereka berdzikir dan berdoa. Karren mencium tangan Gibran seperti biasa setelah selesai berdoa meskipun wajah Gibran tidak sehangat biasanya.
"Kamu mau ke mana mas?" tanya Karren saat melihat Gibran meninggalkan kamar setelah mengganti bajunya dengan baju santai.
"Aku mau ke ruang kerja, ada tugas mahasiswa yang belum aku koreksi." jawab Gibran dengan singkat.
Karren menghembuskan nafas panjang, dia merapikan kembali mukenanya lalu merebahkan diri kembali ke atas tempat tidurnya.
Karren tidak berniat tidur lagi, dia hanya sedang memikirkan solusi untuk masalahnya.
Dia ingin hubungannya dengan Gibran kembali membaik, tapi dia juga ingin meraih mimpinya yang sudah ada di depan mata. Karren tidak bisa memilih diantara keduanya.
Gibran kembali saat waktu sudah mendekati jam berangkat ke kampus, Karren sudah mengganti bajunya dan sedang memakai make up.
Tanpa mengeluarkan suara, Gibran mengambil baju yang sudah disiapkan Karren dan memakainya di kamar mandi.
"Mau dibantuin nggak mas?" tanya Karren saat melihat Gibran sedang memasang dasinya.
Biasanya Karren yang bertugas memasangkan dasi di leher Gibran, tapi laki-laki itu sekarang memasangnya sendiri mungkin dia masih kesal karena masalah semalam.
"Nggak usah, aku bisa sendiri." jawab Gibran dengan dingin.
Karren hanya mengganggu, dia tidak suka dengan sikap dingin Gibran padanya, tapi dia juga sadar Gibran seperti ini juga karena dirinya.
__ADS_1
Mereka turun bersama menuju meja makan setelah selesai bersiap. Masih tidak ada yang berniat mengeluarkan suara, keduanya diam dengan pikirannya masing-masing.
Acara sarapan kali ini terasa hening, hanya ada suara denting sendok dan garpu di atas piring saja yang terdengar. Antara Gibran dan Karren tidak ada yang berniat membuka obrolan.
Gibran dan Karren sama-sama kecewa. Gibran kecewa karena Karren berniat melanggar janjinya sendiri dan tidak mau menurut pada suami sedangkan Karren kecewa karena Gibran tidak mendukung cita-citanya.
Kekecewaan itu yang membuat mereka sama-sama memilih bungkam, entah siapa yang akan mengalah nantinya keduanya sama-sama memiliki ego yang tinggi.
Karren hanya memakan makanannya sedikit, dia sedang tidak nafsu makan begitu pun Gibran porsi sarapannya tidak sebanyak biasanya.
Di dalam mobil menuju kampus pun hanya ada keheningan di antara mereka, mereka seperti dua orang asing dalam satu tempat.
"Mas, nanti makan siangnya mau barengan?" Karren yang sudah tidak tahan pun mencoba memulai membuka obrolan.
"Nggak, aku banyak kerjaan, kamu makan siang sama teman-teman kamu aja." jawab Gibran singkat.
Karren hanya mengganggu kaku, Gibran ternyata benar-benar menghindarinya sekarang, laki-laki itu bahkan tidak mau makan siang dengannya.
Tanpa sadar air mata karena menetes, dia mengalihkan pandangan ke kaca agar Gibran tidak bisa melihat air matanya.
Karren benci situasi seperti ini, dia tidak suka Gibran mengabaikannya, dia rindu momen-momen manis dengan Gibran.
Namun, egonya belum mau mengalah, dia masih ingin menerima tawaran itu yang tentu saja bertentangan dengan keinginan Gibran.
Mobil Gibran berhenti setelah sampai di parkiran, dia ingin keluar tapi Karren menahan tangannya.
"Kamu belum kasih aku ciuman mas." ucap Karren mengingatkan.
Gibran menuruti permintaan Karren, dia mencium kening Karren singkat.
"Bibirnya belum." pinta Karren lagi saat Gibran menjauhkan dirinya.
Gibran masalah napas lalu menangkup wajah Karren dan mulai mengecup bibir Karren yang terasa lembut. Awalnya dia berniat mengecupnya saja, tapi Karren malah melanjutkannya.
Gibran melepaskan pagutannya, bibir keduanya terlihat basah, bahkan lipstik Karren menjadi berantakan sekarang. Seakan belum puas, Gibran mengecup karena sekali lagi.
"Kalau kamu ingin yang lebih dari kecupan, seharusnya kamu mintanya tadi saat kita masih ada di rumah." bisik Gibran membuat pipi Karren memerah.
__ADS_1