DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 121 (ES KRIM)


__ADS_3

"Aku takut." Karren memasang wajah ketakutan sembari menatap Gibran dengan tatapan paling menggemaskannya.


"Jangan mengada-ngada! Ini film aksi, bukan film horor." Ucap Gibran melirik Karren jengah.


"Tapi, ini nanti pasti saling bunuh kan?" Tebak Karren sok tahu.


"Nggak, yang pakai kaos itu nanti dipenjara, terus yang pakai jaket nanti naik pangkat." Jawab Gibran tanpa sadar.


"Ih, kamu spoiler! Nggak suka ah." Ucap Karren sambil membuang muka pura-pura ngambek.


Gibran menoleh dengan mata tajam, mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sanggup.


Kelakuan Karren memang sering kali membuatnya speechless sampai tidak bisa berkata-kata.


Karren mulai memakan es krimnya, sedangkan di sampingnya, Gibran kembali fokus pada filmnya.


Sesekali Gibran mencuri panda melihat Karren yang malam ini terlihat seksi, wanita itu hanya memakai tank top dan celana pendek saja.


Meskipun biasanya juga begitu, tapi biasanya Karren hanya akan memakai pakaian seperti itu saat di dalam kamar saja.


Karren yang sadar akan lirikan Gibran pun tersenyum samar, dia berhasil membuat konsentrasi manusia robot itu pecah.


"Mas, kamu kok tumben nggak kerja malah nonton TV?" tanya Karren sambil menatap Gibran penasaran.


"Aku lagi pusing, butuh hiburan." Ucap Gibran sambil melirik Karren sekilas selalu kembali menatap ke depan.


Karren hanya manggut-manggut, memang terlihat sekali dari wajah Gibran kalau laki-laki itu sedang punya masalah.


Masalah yang diciptakan Karren, tapi si penciptanya sekarang malah sedang makan es krim dengan santainya. Sedangkan, korbannya sampai stres dan berujung mencari hiburan di tengah banyaknya pekerjaan yang menanti untuk dikerjakan.


"Aaaaa..." Karren menyiapkan es krimnya lagi saat mendapati Gibran beberapa kali melirik ke arah es krimnya.


Gibran pun langsung menerimanya karena sejak tadi Gibran memang merasa tergoda dengan es krim yang dibawa oleh Karren.


Karren tersenyum geli melihat kelakuan Gibran, karena sudah sangat gemas dia pun akhirnya menarik tubuh Gibran dan mencium pipi suaminya itu dengan singkat.


"Gemas banget sih!" Ucap Karren sambil tersenyum tanpa dosa meskipun di depannya Gibran sudah menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Taukah Karren kalau Gibran masih marah? Tapi perempuan itu tetap saja bersikap agresif seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


Es krim yang ada di dalam cup sudah habis tak tersisa, semuanya sudah beralih masuk ke dalam perut Karren.


Karren menguap, karena perutnya sudah kenyang, sekarang dia mulai mengantuk.


Tanpa meminta persetujuan Gibran, Karren merebahkan kepalanya di paha Gibran membuat Gibran lagi-lagi terkejut.


Tubuh Gibran menegang karena ini baru pertama kalinya Karren tidur di pahanya.


"Kenapa kamu malah tidur di paha aku Karren?" Tanya Gibran kepada istrinya.


"Ngantuk aku mas, nggak ada bantal." Jawab Karren tanpa merasa bersalah.


Gibran jalan-jalan kepala, dia membiarkan Karren tidur di pahanya sedangkan matanya kembali fokus pada film yang sebentar lagi selesai.


Tidak lama kemudian nafas Karren mulai teratur, diam-diam Gibran tersenyum tangannya terulur mengelus rambut Karren lembut membuat tidur wanita itu semakin nyenyak.


Gibran terus memandangi wajah Karren yang sedang tidur, istrinya itu terlihat sensual meskipun hanya memejamkan mata saja membuat Gibran ingin memakannya andai tidak mengingat jika dia masih dalam mode marah.


Film Hollywood yang tadi Gibran tonton telah selesai, dia langsung mematikan televisinya pandangannya beralih pada seorang wanita yang masih tidur dengan berbantalkan pahanya, wanita itu tidak terusik meskipun beberapa kali terdengar suara tembakan dari televisi.


Gibran memindahkan kepala Karren ke sofa dengan perlahan dia berjongkok di samping kanan yang sedang tidur, memperhatikan wajah Karen cukup lama lalu mendaratkan kecupan singkat di kening dan bibir istrinya itu.


Dengan mudah Gibran mengangkat tubuh Karren lalu membawanya ke lantai atas tempat di mana kamar mereka berada.


Tanpa Gibran sadari, Karren sudah terbangun dari tidurnya, ciuman Gibran berhasil membangunkan Karren dari tidur sebentarnya namun, Karren masih belum berniat membuka matanya dia masih berpura-pura tidur untuk menjalankan aksinya.


Karren membuka matanya sedikit saat merasa langkah Gibran berhenti, ternyata mereka sudah sampai di depan kamar dan Gibran sedang kesusahan membuka pintu kamar.


Setelah berhasil membuka pintu, Gibran membawa Karren masuk ke dalam dan menidurkan Karren di atas tempat tidurnya dengan perlahan berharap tidur kalian tidak terusik, padahal wanita itu sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu.


Suara langkah Gibran terdengar menjauh Karren kembali membuka matanya perlahan dan benar saja Gibran sedang pergi ke kamar mandi.


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka membuat Karren kembali menutup matanya.


Karren bisa merasakan sisi ranjang sebelahnya bergerak menandakan jika Gibran sudah naik ke atas tempat tidur, Karren membuka matanya sedikit untuk memastikan.

__ADS_1


Melihat penampilan Gibran yang hanya memakai celana pendek tanpa atasan, Karren yakin laki-laki itu tadi ke kamar mandi untuk berganti baju.


Mata Karren terbuka sepenuhnya setelah melihat Gibran sudah memejamkan mata, dia tersenyum devil, wanita cantik itu akan perform setelah ini.


Tanpa aba-aba Karren naik ke atas tubuh Gibran, mendudukkan dirinya di atas perut kotak-kotak Gibran.


Apa yang dilakukan Karren itu membuat Gibran yang memang belum tidur langsung membuka mata karena terkejut.


Awalnya Gibran menduga ada jin yang mendudukinya, tapi saat dia membuka mata ternyata istrinya sendiri yang sudah duduk santai di atas perutnya.


"Karren? Bukannya kamu udah tidur?" Tanya Gibran sambil menatap Karen dengan tatapan bingung.


"Aku udah bangun pas kamu cium aku tadi." Jawab Karren dengan cengengesan.


Gibran mengalihkan pandangan salah tingkah karena ketahuan mencium Karren padahal dia masih marah pada wanita itu.


"Kok kamu nggak bilang kalau udah bangun?" Tanya Gibran kepada Karren.


"Kalau aku bilang nanti kamu suruh aku jalan sendiri ke kamar, males banget." Jawab Karren sambil memajukan bibirnya beberapa senti.


Gibran geleng-geleng kepala, tapi dia juga tidak menyesal telah menggendong Karren di saat wanita itu sebenarnya sudah bangun, sifat manja Karren malah membuat Gibran gemas padanya.


"Terus, kenapa kamu malah duduk di atasku kayak gini?" Alis Gibran terangkat sebelah menatap Karren penasaran.


"Aku mau minta maaf." Jawab Karren dengan menatap mata Gibran dalam.


"Minta maaf buat kesalahan kamu yang mana?" Tanya Gibran seolah-olah Karren mempunyai banyak salah padanya.


"Emangnya salahku banyak banget ya?" Tanya Karren dengan wajah kesal.


Gibran menahan tawanya melihat wajah kesal Karen.


"Maybe?" Balas Gibran dengan mengedikkan bahu, dia memasang wajah serius agar Karren percaya.


"Aku mau minta maaf karena udah buat kamu marah, udah paksa kamu buat izinin aku terima tawaran dari majalah itu dan udah bersikap egois karena cuma pikirin tentang mimpiku aja tanpa pikirin perasaan kamu juga, aku minta maaf buat semuanya." Ucapkan dengan wajah sendu, kepalanya menunduk merasa bersalah.


"Nggak ada orang minta maaf dengan posisi kayak gitu Karen." Tegur Gibran karena Karen masih belum beranjak dari atasnya.

__ADS_1


__ADS_2