
“DIAM!!!” bentak Gibran, napasnya memburu, tangannya mengepal mendengar setiap hinaan yang di lontarkan Sarah untuk Karren.
Andai saja Sarah laki-laki, dia pasti sudah menghajarnya habis-habisan karena dia sangat emosi saat ini.
Sarah terkejut mendengar bentakan Gibran, dia terdiam karena ketakutan dengan tangan yang bergetar, kepalanya menunduk tidak berani menatap mata Gibran yang sedang menatapnya dengan tajam ke aranya.
Baru kali ini Sarah melihat Gibran yang sangat emosi, terlihat sekali dari tatapannya kalau Gibran sedang marah, namun Sarah tidak merasa apa yang dia ucapkan salah, karena menurutnya Karren adalah wanita yang seperti itu.
“Ini lah yang membedakan kamu dengan Karren Sarah! Apa kamu tidak sadar?” ucap Gibran dengan penuh emosi.
“Saya benar-benar kecewa sama kamu, bisa-bisanya kamu menghina orang sampai seperti itu, sebagai seorang perempuan bukankah kamu seharusnya menghargai sesama perempuan? Saya tidak menyangka pikiran kamu seburuk itu mengenai Karren.”
“Apa Karren pernah menjelek-jelekkan kamu sampai kamu dengan lancarnya menghina dia? Apa yang kamuketahui tentang Karren sampai kamu bisa membuat kesimpulan seburuk itu?”
“Kamu tidak tau apa-apa tentang dia Sarah, kamu berpikiran seperti itu karena memang kamu membencinya. Yang terlihat di mata kamu hanya keburukannya saja, kamu tidak bisa melihat kebaikannya.”
Gibran mengatakan semua uneg-unegnya yang ada di dalam hatinya, kali ini Sarah benar-benar keterlaluan, bukan hanya karena Karren adalah tunangannya Gibran sampai semarah itu, walaupun wanita lain yang di hina Sarah, Gibran tetap akan murka karena sifat Sarah sama sekali tidak pantas.
“Jujur saja, aku lebih respect pada orang yang menunjukkan dirinya yang sebenarnya, dari pada orang yang membangun image baik hanya untuk menutupi sifat aslinya, harusnya kamu malu, kamu berhijab hanya untuk membuat saya suka sama kamu.” Ucap Gibran kembali.
“Berhijab itu dari hati, karena Allah, bukan karena ingin di sukai seseorang, saya berharap kamu mengubah niat kamu itu agar apa yang kamu lakukan tidak sia-sia.” Tegas Gibran.
Mendengar hal itu membuat Sarah juga kesal, semua usahanya selama ini perubahan yang susah payah dia bangun hanya untuk membuat Gibran menyukainya ternyata hanya sia-sia karena pada akhirnya dia tidak bisa mendapatkan Gibran.
“Ya, kamu benar! Apa yang aku lakuin emang sia-sia Gibran, perubahanku ga bisa buat kamu suka sama aku, jadi buat apa aku masih kayak gini!” ucap Sarah.
Kening Gibran mengerut, dia tidak mengerti dengan apa yang di maksud Sarah, apa maksudnya dia menyesal sudah berhijab?
“Apa maksud kamu sebenarnya Sarah?” ucap Gibran.
__ADS_1
Sarah tersenyum sinis dengan air mata yang masih menetes, Sarah memberanikan diri untuk menatap wajah Gibran.
“Kamu sudah menyia-nyiakan aku hanya karena sampah seperti Karren? Kamu akan menyesal udah pilih dia Gibran, dia cuma limbah dari para laki-laki brengsek!” ucap Sarah dengan beraninya.
Brakkk!! Gibran berdiri dari tempat duduknya sambil menggebrak mejanya, dia menatap penuh dengan amarah ke arah Sarah.
“SARAH! CEPAT PERGI SEBELUM AKU KEHILANGAN KENDALI DAN MENGHAJARMU TANPA BERPIKIR!!!” teriak Gibran.
Sarah terkejut, dia segera keluar dari ruangan Gibran dengan berlari, dia menunduk agar tidak ada yang sadar kalau dia sedang menangis.
Tapi tetap saja, hubungan antara Gibran dan Sarah dulu sudah tersebar luar di lingkungan kampus walaupun semuanya tidak ada yang benar, dan saat pertunangan Gibran dan Karren tersebar semua orang tidak mungkin tidak memperhatikan Sarah.
Banyak orang yang kasihan dengan Sarah karena Gibran malah memilih Karren padahal Gibran dan Sarah sangat serasi dan selama ini mereka pikir kalau Sarah dan Gibran akan menikah suaru saat nanti, tapi ternyata semua perkiraan mereka salah.
Sarah tidak memperdulikan ucapan orang-orang di sekitarnya, dia memilih toilet untuk membasuh wajahnya dan memperbaiki bedaknya agar tidak terlalu kelihatan kalau dia habis menangis.
Mungkin mereka semua merasa penasaran dengan hubungan dia dan Gibran yang hanya berawal dari tetangga saja tapi malah menjadi tunangannya.
“Haahh..” Karren menghela nafas panjang membuat Silvia menoleh ke arah sahabatnya.
“Kenapa lo kek banyak beban hidup gitu, baru juga tunangan lo.” Ucap Silvia.
“Gue risih, anak-anak kayaknya pada merhatiin gue deh.” Ucap Karren sambil melirik ke sekeliling ruang kelas.
“Ya wajar lah, jiwa kepo manusia itu sudah alami jadi mereka pasti kepo sama hubungan lo sama dosen cinta lo itu.” Ucap Silvia dengan santai.
“Oh iya, si Darren ke mana?” tanya Silvia.
“Biasalah, ketua BEM gadungan dia sekalian tepe tepe.” Balas Karren sambil melirik ke arah dua bangku di sebelahnya yang kosong.
__ADS_1
Hari ini Kevin juga tidak terlihat entah dia ke mana, Karren semakin merasa bersalah karena hal ini dan lagi-lagi Karren menghela nafas panjang membuat Silvia kembali menoleh ke arah Karren.
“Lo kenapa lagi sih Ren?” tanya Silvia.
“Si Kevin juga kemana coba, sepi rasanya ga ada si duo somplak itu.” Ucap Karren dengan lemas.
“Mending lo biarin Kevin nenangin diri dulu deh, lo ga tau di hari pertunangan lo dia minum banyak banget, terus nari-nari ga jelas sama asal cewek sampe si Trisna nemenin Kevin sampe dia pulang ke rumahnya.” Jelas Silvia.
“Serius? Gue jadi makin ngerasa bersalah banget sama dia.” Ucap Karren.
“Udahlah, kasih dia waktu buat nata hatinya, lo tau kan nata hati itu ga gampang apa lagi lo sama dia udah lama bareng-bareng walaupun sebagai mantan.” Ucap Silvia memberi saran.
“Yah, semoga aja dia cepat membaik dan kita bisa bareng-bareng lagi.” Balas Karren yang di balas senyuman dan anggukan oleh Silvia.
“Udah cepetan selesein tugasnya habis ini kita langsung ke kantin udah laper banget perut gue.” Ucap Silvia yang di balas anggukan oleh Karren.
Karren segera mengerjakan tugas kuliahnya begitu juga dengan Silvia, lalu mereka berdua bersama-sama mengumpulkan tugas mereka dan pergi ke kantin untuk membeli makan siang.
Seperti tadi pagi, Karren menjadi pusat perhatian dan juga pusat pembiacaraan, ada yang mengatakan kalau Karren perebut laki orang, ada juga yang mengatakan kalau Karren sudah tidur dengan Gibran sampai akhirnya Gibran tergila-gila dan membuat Gibran menjadikan Karren sebagai miliknya.
Semua orang yang berbisik tidak-tidak tentang Karren langsung mendapatkan tatapan tajam dari Silvia, namun Karren mencoba untuk menenangkannya dan merangkul bahu sahabatnya untuk menenangkannya.
“Udahlah santai saja, entar juga reda kok gosipnya.” Bisik Karren yang memilih untuk menenangkan sahabatnya yang memiliki emosi setipis tisu itu.
“Lo kok bisa sih santai kayak gitu, mereka kan ga tau faktanya.” Ucap Silvia.
“Karena mereka ga tau faktanya makanya kita diem aja, kan faktanya emang gue yang kegenitan sama mas Gibran duluan.” Ucap Karren.
Silvia hanya berdecak kesal lalu duduk di kursi kosong yang ada di kantin.
__ADS_1