DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 82 (DIAM!!)


__ADS_3

Setelah semalaman penuh Karren berkecamuk dengan pikirannya sendiri, Karren sekarang sudah mulai ceria kembali, dia memutuskan untuk belajar menjalani semuanya dengan sebaik-baiknya. Cepat atau lambat dia juga pasti akan menikah bukan?


Gibran adalah laki-laki idaman para wanita dan juga menantu idaman para mertua. Jika Karren melepaskannya begitu saja, dia pasti akan sangat menyesal. Belum tentu Karren akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Gibran.


Yang ada Karren malah mendapatkan laki-laki buaya yang masih satu spesies dengan Darren dan Kevin.


Karren berjalan menuju rumah Gibran karena hari ini mereka akan berangkat ke kampus bersama. Karren nampak sangat cantik dengan senyum yang terus mengembang, pakaian Karren saat ini juga jauh lebih sopan di bandingkan sebelumnya karena dia tidak mau mendapat omelan dari yang terhormat tuan Gibran Mahardika.


Gibran keluar dari rumah tepat saat Karren sampai di depan rumahnya.


“Selamat pagi dosen cintaku.” Ucap Karren dengan senyum manis yang terpampang di wajahnya.


Mendengar sapaan dari Karren membuat Gibran berdehem karena salah tingkah dengan panggilan Karren kepadanya lalu senyum indah terukir di bibir Gibran.


“Selamat pagi juga.” Balas Gibran.


“Kok masih kaku aja sih mas, masa ngomong sama calon istri kayak gitu.” Ucap Karren sambil tertawa karena kata-katanya sendiri.


Calon istri dia bilang? Kemarin saja dia sangat ketakutan membayangkan akan menjadi seorang istri, tapi saat ini malah dia mengatakan hal itu kepada Gibran.


“Sudahlah ayo kita berangkat!” tegas Gibran mengalihkan pembicaraan agar dia tidak semakin salah tingkah karena ucapan Karren.


“Bentar dulu mas.” Cegah Karren saat Gibran sudah mau membuka pintu mobilnya.


“Kenapa lagi?” tanya Gibran sambil menoleh ke arah Karren.


“Gimana penampilanku hari ini mas?” tanya Karren dengan berputar-putar di depan Gibran seperti seorang putri yang sedang memamerkan gaunnya.


Gibran tidak menyangka kalau ternyata sikap centil Karren akan kembali lagi, padahal dia kira hari ini mereka berdua akan canggung seperti kemarin.


Gibran akhirnya mengalihkan pandangannya dan memperhatikan penampilan Karren dari atas sampai ke bawah lalu tersenyum.


“Bagus, saya suka.” Ucap Gibran.

__ADS_1


“Aku hari ini pakai baju kayak gini biar kamu ga ngomelin aku terus narik-narik aku ke ruangan kamu kayak kambing, tangan aku sampe merah tau waktu itu.” Protes Karren dengan nada bicara yang manja.


Senyum Gibran semakin lebar saat melihat sikap manja Karren yang ternyata tidak berubah walaupun mereka sudah bertunangan.


“Maafkan saya, lain kali saya akan lebih lembut lagi.” Ucap Gibran yang membuat mata Karren melotot.


“Jadi kamu masih ada niatan buat narik aku lagi?” tanya Karren tidak percaya.


“Bercanda Karren, ayo masuk nanti kita terlambat sampai kampus.” Ucap Gibran sambil mengusap kepala Karren.


Karren mematung di tempatnya, dia tidak percaya kalau Gibran akan mengusap rambutnya walaupun Gibran sudah pernah mengusap rambutnya tapi tetap saja Karren masih terkejut dengan apa yang di lakukan Gibran.


“Karren? Ayo.” Ucap Gibran saat melihat Karren masih mematung di tempatnya.


“Eh? Iya mas.” Ucap Karren yang langsung masuk ke dalam mobil.


Gibran segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat dia sekarang sudah menjadi tunangan Gibran, Karren semakin berani untuk mengajak laki-laki itu berbicara.


“Nanti makan siangnya bareng aku atau mau sendiri-sendiri mas?” tanya Karren.


“Oke deh kalo gitu, aku makan siang sama teman-temanku saja hari ini ya mas.” Ucap Karren.


Sesampainya di kampus, Karren dan Gibran keluar dari mobil, mereka berdua berjalan berdampingan melewati para mahasiswa yang saling berbisik, lalu berpisah di persimpangan koridor karena tujuan mereka berlawanan arah.


Karren tidak memperdulikan semua ucapan para mahasiswa, dia hanya membalas sapaan para penggemarnya seperti biasanya.


***


Gibran yang sedang duduk santai di ruangannya di kejutkan dengan seseorang yang membuka pintu ruangannya dengan keras.


Seorang perempuan muncul dan berjalan tergesa-gesa, matanya terlihat memerah dan berair membuat Gibran semakin tidak mengerti.


Entah apa yang terjadi sampai wanita itu menangis di ruangannya.

__ADS_1


“Sarah? Ada apa?” tanya Gibran yang panik.


Meskipun terlihat cuek dengan Sarah, namun Sarah tetaplah sahabatnya dan tentu saja dia panik saat melihat sahabatnya terlihat kacau dan menangis tersedu-sedu.


“Apa benar yang di bicarakan orang-orang kalau kamu dan Karren sudah bertunangan?” tanya Sarah dengan tersedu-sedu.


Wajah khawatir Gibran seketika menghilang, dia kira ada sesuatu yang terjadi kepada Sarah, ternyata hanya karena dia mendengar kabar pertunangannya.


“Iya, maaf karena saya tidak mengundang kamu, acaranya tertutup hanya di hadiri keluargaku dan keluarga Karren saja.” Jawab Gibran dengan wajah datarnya tanpa merasa bersalah sama sekali.


Jawaban Gibran membuat hati Sarah semakin sakit, rasanya dadanya sesak. Untuk bernapas saja rasanya sangat sulit, Sarah merasa kehilangan pasokan udaranya secara mendadak.


Sarah terus menangis dengan menundukkan kepalanya, bahunya terguncang hebat, dia tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir deras.


Jujur saja Gibran merasa bingung dengan reaksi Sarah, bukankah seharusnya dia sebagai teman senang saat temannya sudah bertunangan? Lalu kenapa dia malah menangis?


Gibran memberikan beberapa lembar tisu kepada Sarah, Sarah pun menerimanya dan mengambil lembaran tisu yang di berikan Gibran lalu segera menghapus air matanya yang sudah membanjiri pipi dan hijabnya.


“Sebenarnya kamu kenapa Sarah?” tanya Gibran yang masih belum mengerti dengan sikap Sarah.


Sarah akhirnya berani menatap wajah Gibran dengan matanya yang merah.


“Kamu sebenernya sadar ga sih Gibran? Dari SMA aku ini udah suka sama kamu, aku berusaha dekat sama kamu meskipun kamu cuma menganggap aku sahabat aja, aku mengubah penampilanku jadi berhijab biar kamu suka sama aku.” Ucap Sarah.


“Tapi ternyata kamu malah menyukai wanita seperti Karren, perempuan yang suka pamer paha dan dada! Sebenernya apa yang kamu lihat dari dia Gibran? Dia bukan tipe wanita idaman kamu, dia itu perempuan murahan, nggak pantas buat kamu.”


“Dia hobinya ke kelab malam, suka mabuk-mabukan, entah sudah berapa laki-laki yang udah tidur sama dia!” ketus Sarah.


“DIAM!!!” bentak Gibran, napasnya memburu, tangannya mengepal mendengar setiap hinaan yang di lontarkan Sarah untuk Karren.


Andai saja Sarah laki-laki, dia pasti sudah menghajarnya habis-habisan karena dia sangat emosi saat ini.


Sarah terkejut mendengar bentakan Gibran, dia terdiam karena ketakutan dengan tangan yang bergetar, kepalanya menunduk tidak berani menatap mata Gibran yang sedang menatapnya dengan tajam ke aranya.

__ADS_1


Baru kali ini Sarah melihat Gibran yang sangat emosi, terlihat sekali dari tatapannya kalau Gibran sedang marah, namun Sarah tidak merasa apa yang dia ucapkan salah, karena menurutnya Karren adalah wanita yang seperti itu.


__ADS_2