
Adegan-adegan panas pun mulai bermunculan membuat Gibran yang sudah terbawa dengan jalan ceritanya pun menonton dengan serius padahal tadi dia sangat tidak berminat dengan filmnya.
Karren melirik ke arah Gibran yang sedang fokus menonton, Karren tersenyum mengagumi ketampanan Gibran yang bahkan di lihat di dalam ruangan yang remang-remang pun Gibran masih terlihat sangat tampan, benar-benar curang.
Dengan rasa tidak bersalah akhirnya Karren kembali menyenderkan kepalanya di bahu Gibran karena Karren tau kalau Gibran sudah mulai terbawa pada alur filmnya.
Karren memiliki ide licik untuk menggoda Gibran dengan cara mengelus lembut tangan Gibran, sebenarnya Karren sudah menahan tawanya untuk tidak tertawa karena melihat ekspresi wajah Gibran yang sedang menahan sesuatu.
Bagaimana Gibran tidak menahan sesuatu, sudah adegan yang di tampilkan menunjukkan adegan yang sangat romantis, sedangkan Karren malah mengelus tangan Gibran dengan lembut membuat Gibran merasa merinding.
“Menjauhlah Karren!” tegas Gibran sambil menatap tajam ke arah Karren.
“Kamu ga mau melakukan seperti yang ada di film?” Tanya Karren saat melihat adegan sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra lalu sang pria mencium kening sang wanita.
Karren bukannya benar-benar ingin melakukan hal yang ada di layar, hanya saja Karren iseng hanya menggoda Gibran dan senang melihat ekspresi Gibran.
Namun berbeda dengan Gibran, wajah Gibran berubah menjadi semakin tajam menatap ke arah Karren, kalau tau Karren akan melakukan hal ini pasti Gibran sudah menolak sejak awal Karren mengajaknya menonton.
“Saya ini laki-laki normal Karren! Jangan menggoda saya karena saya bisa khilaf jika kamu terus menggoda saya!” tegas Gibran.
Karren segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Gibran, sepertinya apa yang dia lakukan kali ini memang sudah kelewatan sampai membuat Gibran kesal.
Setelah Karren menjauh dari tubuhnya, barulah Gibran merasa lebih tenang dan meraih minumannya untuk menetralkan napasnya.
“Emm,, mas…” panggil Karren dengan nada pelan karena dia masih takut dengan Gibran yng sedang kesal.
“Apa lagi sih Karren!?” Tanya Gibran dengan nada tinggi hingga membuat orang yang ada di depan mereka menoleh ke belakang.
“Yang kamu minum itu minumanku tau.” Ucap Karren dengan polosnya.
Ucapan Karren membuat Gibran mematung dan melihat sejenak ke arah minuman yang dia pegang lalu beralih ke tempat minuman yang menempel di kursi bioskop.
Dan benar saja, ternyata Gibran memang benar-benar salah mengambil minuman karena minuman miliknya masih ada di tempatnya.
__ADS_1
“Jadi ini minuman kamu?” tanya Gibran lalu beralih menatap Karren.
Karren hanya mengangguk dengan polosnya membuat Gibran menghembuskan nafas kasar.
“Maaf, nanti biar saya ganti.” Ucap Gibran yang jadi salah tingkah karena malu.
“Nggak usah deh mas, aku minum minuman punya kamu aja jadi kita impas deh.” Ucap Karren dengan santainya.
Karren segera mengambil minuman milik Gibran lalu meminumnya dengan santai, mungkin hal itu bukanlah masalah bagi Karren, tapi bagi Gibran itu adalah masalah.
Gibran minum dari sedotan yang di pakai Karren, dan Karren meminum minumannya dengan memakai sedotan bekas Gibran, itu adalah hal yang tidak biasa bagi Gibran karena hal itu sama saja seperti mereka berciuman secara tidak langsung.
“Kenapa kamu ga bilang kalo itu minuman kamu?” tanya Gibran.
“Kamu kan ga tanya mas jadi aku ga bilang apa-apa, lagian kan kamu juga langsung minum gitu aja gimana aku mau ngasih tau.” Jawab Karren dengan polosnya.
Gibran hanya bisa memegang kepalanya yang frustasi karena sikap Karren. Sedangkan Karren yang melihat wajah Gibran frustasi hanya bisa mengerutkan keningnya, karena menurutnya Gibran terlalu berlebihan saat ini hanya karena minuman saja.
“Mas, aku ga penyakitan kok jadi ga usah frustasi gitu lah.” Ucap Karren dengan nada sedikit ketus.
Sedangkan Karren kembali melihat layar bioskop dengan seriusnya, hingga akhirnya film pun selesai.
Sebelum pulang, Karren mengajak Gibran untuk menemaninya berkeliling lebih dulu karena dia ingin membeli beberapa kebutuhannya yang sudah habis.
Dengan setia Gibran terus mengikuti Karren dari belakang dan ikut memilih jika Karren memintanya memilih salah satu.
Karren akhirnya selesai membeli beberapa belanjaannya, Karren awalnya mau langsung mengajak Gibran untuk segera pulang, tapi tiba-tiba saja Gibran menghentikan langkahnya yang membuat Karren menoleh ke arah Gibran.
“Ada apa mas?” tanya Karren.
“Kamu keberatan ga kalo saya ajak kamu beli kemeja dulu sebelum pulang?” tanya Gibran.
Karren tersenyum manis sebelum akhirnya mengiyakan ajakan Gibran.
__ADS_1
“Ayo!” seru Karren dengan senang hati.
Karren sibuk sekali memilih beberapa kemeja untuk Gibran, entahlah padahal Gibran lah yang mau membeli kemeja tapi malah Karren yang bersemangat untuk memilih pakaian untuk Gibran.
“Kayaknya yang ini bagus deh mas, cobain satu-satu ya?” ucap Karren sambil memeberikan beberapa kemeja yang tadi sudah dia ambil dengan berbagai macam warna.
Gibran segera mengangguk dan mengambil kemeja yang di pilih oleh Karren, Gibran segera berjalan ke ruang ganti sedangkan Karren menunggu Gibran dari luar.
Baru kemeja pertama saja Karren sudah di buat takjub dengan ketampanan Gibran, sampai akhirnya semua kemeja yang di pilihkan oleh Karren sudah selesai di coba dan Karren terus berdecak kagum setiap Gibran mengganti pakaian.
Bahkan beberapa pelayan yang berdiri tidak jauh dari ruang ganti pun ikut mengagumi ketampanan Gibran membuat Karren tidak rela kalau Gibran di kagumi oleh wanita lain.
“Kamu cocok pake semuanya mas, tapi aku jadi ga rela kalo kamu pake semua itu nanti banyak cewek-cewek yang mengangumi ketampanan kamu.” Ucap Karren dengan nada tidak suka tapi dia masih tersenyum manis ke arah Gibran.
Gibran terkekeh mendengar ucapan Karren, seperti laki-laki pada umumnya, Gibran menyukai pujian yang di berikan Karren kepadanya.
“Bagus dong kalo gitu, kebetulan saya sedang mencari calon istri, jadi kalo banyak yang suka kan saya tinggal seleksi.” Ucap Gibran.
“Kalo gitu aku juga mau ikut daftar ah! Nanti aku minta tolong orang dalem deh.” Sahut Karren.
Gibran tertawa mendengar ucapan Karren yang menurutnya lucu, sedangkan Karren terpesona melihat tawa Gibran yang membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.
“Emangnya siapa orang dalamnya?” tanya Gibran.
“Mau tau aja apa mau tau banget nih?” goda Karren sambil tersenyum jahil.
“Kamu mulai menyebalkan ya Karren..” ucap Gibran.
“Hehehe, maaf maaf mas..” balas Karren sambil tertawa.
“Orang dalemnya tentu saja mama kamu, aku akan berusaha untuk menarik perhatian mama kamu dulu baru anaknya.” Ucap Karren.
“Kayaknya kamu ga perlu repot-repot untuk mengambil hati mama, karena mama sudah menyukaimu sejak awal bertemu.” Ucap Gibran membuat Karren tersenyum senang.
__ADS_1
“Jadi sekarang aku tinggal ambil hati anaknya dong?” tanya Karren.
“Hemm, begitulah..” ucap Gibran sambil berlalu melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar pakaian yang mau dia beli.