DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 123 (MALANG)


__ADS_3

Rencana bulan madu ke Paris yang sudah Karren susun sejak lama terpaksa harus batal saat gibran mendapatkan kabar bahwa neneknya sedang sakit.


Liburan semester yang seharusnya mereka pakai untuk berbulan madu itu mereka pakai untuk mengunjungi rumah nenek Gibran yang berada di Malang.


Rasa kecewa pastinya ada di hati Karren, tapi hanya sedikit karena yang terpenting sekarang adalah memastikan keadaan neneknya Gibran.


Bulan madu bisa di untuk kapan saja, itu pun lebih cocok di sebut liburan dari pada bulan madu karena mereka memang sudah berbulan madu setiap hari.


Karren dan keluarga besar Gibran terbang ke Malang tepat satu hari setelah mendengar kabar buruk itu. Untung saja dia dan Gibran belum pergi berbulan madu, walaupun semuanya sudah di persiapkan.


 Mulai dari baju, sampai tiket semua sudah siap dan mereka hanya tinggal berangkat saja andai tidak mendapatkan kabar buruk itu.


Dan di sinilah Karren dan Gibran sekarang, di sebuah rumah mewah dengan perkebunan luas di sekitarnya.


Mulai dari sayur-sayuran seperti sawi, cabe, terong, tomat sampai buah-buahan seperti apel, anggur, strawberry, dan lain-lain semuanya ada.


Tanah yang subur dan cuaca yang dingin membuat sayur-sayuran dan buah-buahan gampang hidup di sana.


Karren menggesek-gesekkan telapak tangannya berharap apa yang dilakukannya itu bisa membuat tangannya yang terasa beku bisa menghangat. Pagi ini udara terasa sangat dingin apalagi malam tadi hujan turun cukup deras Untung saja ada Gibran yang menghangatkan tubuhnya dengan memeluknya sepanjang malam.


Mata Karren tidak bisa menatap jauh pada hamparan sayur-sayuran di depannya karena ada kabut tebal yang menghalanginya namun itu tidak menghalangi niatnya untuk menatap hijaunya sayur-sayuran dan mencoba beberapa buah langsung dari pohonnya.


Setelah salat subuh tadi Karren memang tidak tidur lagi seperti biasanya karena ingin berjalan-jalan di perkebunan milik neneknya Gibran.


Dilihat dari luas perkebunan dan mewahnya rumah neneknya Gibran bisa dipastikan kalau neneknya Gibran sangatlah kaya raya, sayangnya neneknya Gibran itu harus tinggal sendiri dengan beberapa perawat karena suaminya sudah meninggal, yang mengurus kebunnya pun orang kepercayaannya sudah lama mengabdi kepadanya.


Karren bisa merasakan pelukan seseorang di tubuhnya, tanpa menoleh pun dia sudah tahu siapa pelakunya tentu saja suaminya karena hanya mereka berdua yang sekarang berada di perkebunan, sedangkan semua orang memilih tetap berdiam di dalam rumah karena cuaca sangat dingin.


"Dingin ya?" Tangan Gibran yang tadinya melingkar di perut Karren sekarang terangkat meraih tangan Karren dan menggesek-gesekkan dengan tangannya.


"Aku ngerasa beku di sini." Ucap Karren dengan wajah memelas.


"Lebay deh!" Ejek Gibran sambil tertawa pelan.


"Bener sayang lihat nih tanganku rasanya kaku agak bengkak juga." Rengek Karren menunjukkan telapak tangannya yang memang terasa kaku.

__ADS_1


Dia lupa tidak membawa sarung tangan, untung saja dia membawa jaket, sedangkan Gibran terus mengelus tangan Karren pelan lalu mengangkat tangan itu menuju bibirnya dan dia memberikan kecupan singkat di tangan Karren.


Karren yang terkejut langsung membalikkan badannya, dia menatap Gibran dengan tersenyum bahagia sedangkan Gibran.


"Kamu nggak marah kan kalau honeymoon kita diundur?" Tanya Gibran.


Sebenarnya Gibran juga merasa bersalah karena dia tahu Karren sangat antusias menjelang honeymoon namun rencananya itu tiba-tiba saja harus batal.


Karren menggeleng dengan tersenyum untuk meyakinkan suaminya.


"Nggak kok lagian itu kan cuma liburan bisa kapan aja." Jawab Karren.


Lalu tiba-tiba saja Karren menutup mulut dan perutnya karena dia merasa mual.


Melihat hal itu Gibran seketika langsung panik.


"Kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Gibran.


"Engga, aku ga apa-apa mas, kayaknya aku langsung masuk angin deh, soalnya di Jakarta panas jadi kaget sekalinya ke tempat dingin." Jelas Karren yang rasa mualnya sudah mulai mereda.


"Engga mas! Aku mau menikmati pemandangan ini, jarang-jarang aku bisa lihat pemandangan yang masih asri ini di Jakarta." Ucap Karren memohon.


"Yaudah tunggu di sini, aku mau ambil sarung tangan dulu buat kamu." Ucap Gibran yang langsung berlari pergi masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Karren tersenyum melihat Gibran yang sangat perhatian kepadanya.


Setelah melihat suaminya benar-benar masuk ke dalam rumah, barulah Karren mengeluarkan sesuatu sambil tersenyum bahagia.


Karren mengeluarkan sebuah testpack yang terpampang garis dua di sana.


"Sebentar lagi kita akan melihat Gibran dan Karren junior mas." Gumam Karren yang tidak bisa berhenti tersenyum.


Karena tepat sebelum mereka berangkat, Karren merasa ada yang aneh dengan tubuhnya dan kebetulan dia juga terlambat dia hari, akhirnya Karren iseng untuk melakukan testpack dan hasilnya benar-benar tidak terduga.


Karren sengaja tidak memberitahu Gibran dulu karena dia tau pasti Gibran tidak akan mengijinkannya untuk ikut ke Malang karena takut Karren kelelahan.

__ADS_1


Saat melihat Gibran kembali, dengan cepat Karren memasukkan kembali testpack nya ke dalam kantong jaketnya.


"Ini pakailah." Ucap Gibran sambil memberikan sepasang sarung tangan kepada Karren.


"Sebenarnya aku nanti mau ajak kamu ke pantai mumpung di sini dekat sama pantai tapi kayaknya kamu masuk angin deh lebih baik kita urungkan saja rencana itu." Ucap Gibran.


Karren tidak terima jika harus membatalkan perjalanan ke pantai, dia juga ingin memberitahu tentang kehamilannya kepada Gibran saat di pantai nanti.


"Engga! Aku udah ga apa-apa mas, ayo kita ke pantai yaaa..." Rengek Karren.


"Iya deh kalau kamu ngerasa baik-baik aja." Jawab Gibran.


"Beneran?" Tanya Karren.


"Iya, mama tadi suruh kita jalan-jalan, nenek juga udah baikan, ada papa dan mama juga yang jaga di sini." Jelas Gibran.


"Makasih ya mas..." Seru Karren yang langsung memeluk tubuh Gibran dengan semangat.


Gibran mengangguk, tangannya mengusap rambut Karren dengan penuh rasa sayang.


"Kalau kamu mau, kita bisa ke tempat wisata yang lainnya juga." Ucap Gibran.


Gibran yang awalnya khawatir kalau Karren akan kelelahan langsung terhipnotis saat melihat Karren yang begitu antusias.


Gibran berencana lebih lama di Malang jika Karren memang ingin mengunjungi banyak tempat wisata.


"Emangnya boleh?" Tanya Karren yang sudah menjauhkan tubuhnya dari Gibran dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Boleh lah, sekalian kita liburan di sini." Jawab Gibran.


"Makasih banyak sayang, aku sayang kamu!" Seru Karren yang kembali memeluk tubuh Gibran.


Tidak lupa Karren juga mengecup pipi Gibran dengan singkat sebagai ucapan terimakasih.


Setelah mendapat kabar dari Gibran jika mereka akan ke pantai, Karren langsung masuk ke dalam rumah dan menyiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa termasuk baju yang akan di pakai untuk bermain air.

__ADS_1


__ADS_2