DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 110 (SURGA?)


__ADS_3

Gibran yang masih setia menunggu Karren mengemasi barang-barangnya, dia beralih melihat meja belajar Karren dan melihat album foto yang terletak di atas sana dan membuat perhatian Gibran tertarik.


Album foto itu terlihat cantik dengan cover berwarna pink dan biru muda. Karena penasaran akhirnya Gibran pun membukanya setelah dia mendudukkan dirinya di kursi meja belajar Karren.


Halaman pertama ada foto Karren yang sedang tersenyum lebar dengan pose tangan berbentuk V dan sebelah mata yang menutup, Gibran tersenyum melihat foto di halaman pertama itu dan Gibran langsung membaca tulisan yang ada di bawah foto itu.


Nama : Karren Adibrata


Nama panggilan : Karren


Tempat tanggal lahir : Kasur rumah sakit, 29 Februari tahun kabisat


Hobi : Rebahan, dan membebani keluarga


Makanan favorit : Bakso


Cita-cita : Menjadi orang sukses


Tempat yang ingin di kunjungi : Surga


Gibran menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia heran dengan kata-kata Karren di kalimat terakhirnya.


“Ya ga salah sih, tapi...”


Gibran hanya menghela nafas panjang karena dia kehabisan kata-kata melihat biodata Karren.


Karren yang menyadari kalau Gibran hanya diam saja sejak tadi akhirnya langsung menoleh melihat apa yang sedang di lakukan suaminya itu sampai anteng sekali, dan ternyata Gibran sedang membuka-buka album fotonya.


“Kamu se-anteng itu liatin album fotoku? Emangnya aku secantik itu sampe kamu anteng begitu?” tanya Karren.


“Aku masih speechless aja sama kalimat yang kamu tulis begini.” Ucap Gibran.


Seketika Karren baru ingat kalau ada biodatanya yang dia tulis di sana, awalnya Karren terkejut dan malu dengan tulisan alaynya itu tapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja di hadapan Gibran.

__ADS_1


“Apa yang buat kamu speechless? Kan aku nulis fakta aja.” Ucap Karren dengan santainya.


“Kamu tau kan keinginan kamu melihat surga itu tandanya apa?” tanya Gibran.


“Maksudnya?” tanya Karren.


“Kalo kamu mau lihat surga itu artinya kamu harus meninggal, apa kamu ga pernah memikirkan hal itu?” tanya Gibran.


“Ya aku kan ga tau, itu kan cuma kata-kata saat aku muda mas, aku ga berpikiran panjang waktu itu.” Ucap Karren.


“Sudahlah, lain kali jangan menulis yang tidak-tidak lagi.” Ucap Gibran yang di balas anggukan oleh Karren.


“Udah selesai?” tanya Gibran.


“Sudah mas, ayo kita kembali.” Ajak Karren.


Gibran mengangguk lalu dia membawa dua koper milik Karren, sedangkan Karren membawa tas make upnya dan tote bag yang berisi buku-buku kuliahnya dan juga laptopnya.


“Yaampun mas, nyapa ja ga usah salaman, kita kan bolak-balik masa iya mau salaman bolak-balik juga?” balas Karren.


Akhirnya Gibran menyetujui ucapan Karren, memang masih ada beberapa barang Karren yang perlu di bawa, jadi Gibran hanya menyapa Key saja dan Key juga hanya mengangguk dan tersenyum kepada sang menantu.


***


Tubuh Karren menggeliat di bawah selimutnya, tangannya meraba-raba sisi kanannya untuk mencari seseorang yang seharusnya masih memeluknya, tapi yang Karren dapatkan hanyalah sebuah guling.


Karren mulai membuka kedua matanya saat tidak menemukan Gibran di sampingnya, pantas saja wangi khas dari tubuh Gibran tidak tercium di hidung Karren, dan ternyata sejak tadi yang dia peluk adalah guling bukan suaminya.


Seingat Karren, Gibran tadi ikut tidur setelah mereka shalat subuh karena memang mereka tidur menjelang subuh. Itu semua karena Gibran yang meminta bayarannya setelah membantu Karren.


Padahal Gibran hanya sekali jalan saja membawa barang-barang Karren, karena kebetulan Darren datang dan membantu memindahkan barang-barang Karren, tapi Gibran meminta bayarannya berkali-kali.


Memang dosen killer itu paling bisa mencari keuntungan membuat Karren geleng-geleng kepala, Karren berharap agar anak mereka nanti otaknya menurun dari otak Gibran yang jenius, jangan sampai anak mereka memiliki otak yang licik sepertinya.

__ADS_1


Mata Karren melirik jam dinding dengan mat yang menyipit, jarum jam hampir menunjukkan pukul sembilan pagi. Karren dan Gibran tidak takut terlambat ke kampus karena mereka masih cuti.


Mereka sengaja mengambil cuti seminggu meskipun hanya di isi dengan bersantai di rumah karena mereka sepakat untuk menunda acara bulan madu.


Karren tidak suka liburan hanya satu minggu, sedangkan Gibran tidak bisa cuti lama-lama, jadi mereka memutuskan untuk bulan madu saat liburan semester.


Rencananya Karren ingin bulan madu ke Paris sekaligus melakukan pemotretan dengan Gibran di sana sebagai ganti foto pre wedding mereka yang tidak sesuai dengan harapan.


Gibran pun menyetujui keinginan Karren, dia akan menuruti semua permintaan Karren selagi tidak aneh-aneh karena dia sudah berjanji kepada Bernard untuk selalu membahagiakan Karren.


Sejak kecil Karren selalu di manja oleh orang tuanya, sekarang giliran Gibran yang akan melakukan hal itu. Dia tidak ingin Karren merasa hidupnya lebih bahagia saat sebelum menikah dari pada setelah menikah. Kalau bisa Gibran ingin Karren merasa lebih bahagia setelah menikah.


Karren beranjak bangun dari tidurnya, dia memakai sandal berbulunya lalu melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berkumur karena dia sudah mandi tadi sebelum shalat subuh jadi dia tidak berniat mandi lagi sekarang.


Setelah wajahnya segar, Karren mulai membereskan tempat tidur dan membuka tirai agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam kamar.


Karren tau Gibran sengaja tidak membuka tirai karena tidak ingin cahaya matahari mengusik tidur cantik Karren.


Karren membuka pintu menuju balkon, senyumnya mengembang saat melihat balkon kamarnya yang tertutup. Dia jadi mengingat saat pertama kali bertemu Gibran.


Balkon juga menjadi saksi kejahilan Karren yang sering menggoda Gibran dengan teriakannya dan juga baju seksi yang dia kenakan.


Siapa sangka dia malah berakhir menjadi istri Gibran jika mengingat bagaimana Gibran menghindari Karren dulu seolah Karren adalah sumber dari semua dosanya.


Merasa sudah puas bernostalgia, Karren kembali masuk ke dalam rumah dan berniat untuk mencari suaminya yang belum juga nampak batang hidungnya dari tadi.


Karren melihat sekeliling rumah saat sudah turun dari tangga, suara dari dapur membuat kakinya refleks melangkah menuju asal suara. Wangi masakan langsung tercium saat jarak Karren dan dapur semakin dekat dan dia menduga kalau ART Gibran sedang memasak.


Namun dugaan Karren ternyata salah, karena saat dia sudah sampai di dapur, bukan ART yang dia temukan, melainkan Gibran yang sedang berdiri di depan kompor. Tangannya terlihat sedang mengaduk sesuatu yang ada di dalam wajan dengan apron yang melingkar di leher dan pinggangnya.


“Sayang, kamu ngapain di sini?” tanya Karren dengan wajah kebingungan.


Karena seharusnya ART yang memasak, bukannya Gibran. Apa lagi selama ini Karren belum pernah melihat Gibran memasak jadi dia sedikit ragu dengan rasa masakan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2