
"Nggak ada orang minta maaf dengan posisi kayak gitu Karen." Tegur Gibran karena Karen masih belum beranjak dari atasnya.
Wanita itu berbicara dengan santai tanpa peduli jika tubuhnya sedang berada di atas seseorang.
"Aku kan istri kamu, bebas dong!" Karren menatap Gibran tidak suka.
"Ya udah deh terserah kamu, terus keputusan kamu apa?" Tanya Gibran.
"Aku nggak akan terima tawaran itu kalau memang kamu nggak izinin." Jawab Karren yang membuat Gibran terkejut.
Gibran terkejut mendengar jawaban Karren, dia tidak menyangka karena akan mengambil keputusan seperti itu.
Apalagi jika mengingat Karren yang sedari kemarin kekeuh ingin menerima tawaran menjadi model cover majalah yang sudah menjadi mimpinya sejak lama.
Bahkan otak suudzon Gibran berpikir kalau Karren naik ke atas perutnya karena wanita itu berniat merayunya agar mendapat izin darinya.
"Kenapa kamu tiba-tiba mengubah keputusan kamu? Bukannya kamu kemarin kekeuh kepengen terima tawaran itu?" Tanya Gibran penasaran.
"Aku nggak suka kamu cuekin." Jujur Karren.
Jujur saja, rasanya sesak saat melihat Gibran yang sangat perhatian padanya tiba-tiba bersikap tidak peduli.
"Aku cuekin kamu karena aku berusaha meredam emosiku sendiri, aku takut lepas kontrol kalau terlalu banyak ngomong sama kamu, aku nggak mau marah-marah sama kamu yang akan buat aku ngeluarin kata-kata yang akan menyakiti kamu aku menghindari itu dengan cara diam." Jelas Gibran.
Karren menatapnya haru, dia kira Gibran mendiamkannya karena tidak mau berbicara padanya tapi ternyata laki-laki itu sedang berusaha meredam emosinya sendiri.
Terkadang diam memang lebih baik daripada berbicara saat marah, andai yang menjadi suami Karren bukan Gibran belum tentu dia akan sesabar Gibran namun, kesabaran dosen killer itu tidak berlaku jika sudah memasuki wilayah kampus.
"Makasih udah sabar menghadapi aku." Ucap Karren dengan tulus.
"Terima kasih juga kamu sudah mau menurut sama aku." Ucap Gibran sambil tersenyum.
"Kata mami, aku harus nurut sama kamu karena kamu kunci surgaku." Ucap Karren.
"Mami kamu ngomong kayak gitu?" Tanya Gibran dengan heran.
Karren mengangguk menjawab pertanyaan Gibran, Gibran hanya manggut-manggut pura-pura percaya padahal dia masih heran karena berbicara seperti itu bukan termasuk ciri khas Key seperti yang dikatakan Bernard setiap mereka ngopi bersama.
Bernard bilang Key termasuk pendengar yang baik tapi buruk dalam memberi solusi.
Gibran melingkarkan tangan di pinggang Karren, matanya menatap Karren memuja, Karren yang sadar dengan tetapan Gibran pun mengundurkan duduknya berniat menggoda Gibran dan benar saja Gibran langsung menyerang pelan saat Karren mengubah posisinya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam Karren! Cepat turun dari atas tubuhku." perintah Gibran dengan tatapan tajam.
Karren menahan senyumnya karena Gibran mulai terpancing dengan godaannya jiwa iblis dalam dirinya sedang berkuasa sekarang.
"Kenapa?" tanya Karen polos pura-pura tidak mengerti.
"Tidak usah pura-pura tidak mengerti seperti itu, cepat turun! Kamu membangunkanku." Tegas Gibran sambil berdecak kesal.
Rasanya Karren ingin menyemburkan tawa mendengar kejujuran Gibran, suaminya itu memang menggemaskan pantas saja banyak yang menggilai Gibran padahal dia sangat kejam pada mahasiswanya.
"Membangunkan apa? Kamu kan belum tidur tadi." kemarin masih memasang tampang polos membuat Gibran gemas sendiri.
Dengan cepat Gibran menggulingkan tubuh Karren ke samping sampai wanita itu sedikit berteriak karena terkejut, dan sekarang Karren yang berada di bawah Gibran.
Walaupun tahu dirinya sudah tidak berkuasa lagi, tapi Karren masih tetap berani menggoda Gibran dengan jemari lantainya yang membuat tubuh Gibran langsung menegang.
"Dasar iblis cantik." Gumam Gibran.
Bukannya tersinggung, karena tersenyum licik.
"Iblis cantik ini cuma berani godain kamu sayang." Ucap Karren dengan genit.
"Awas aja kamu berani godain laki-laki lain, akan aku kerangkeng kamu!" Ucap Gibran.
"Karena kamu udah godain aku, kamu harus tanggung jawab sekarang!" ucap Gibran dengan seringai nakalnya.
"Tanggung jawab? Aku harus tanggung jawab gimana?" tanya Karren pura-pura tidak mengerti.
"Kita kolaborasi buat baby Karran." Jawab Gibran.
Dari bahasa yang Gibran gunakan, Karren bisa memastikan jika Gibran sepertinya ketularan Darren dan Bernard.
"Baby Karran?" tanya Karren dengan dahi yang berkerut.
"Iya, Karren dan Gibran junior." Jawab Gibran yang membuat Karren tersipu malu.
Belum sempat Karren sadar dari keterkejutan karena ucapan Gibran, laki-laki itu sudah menjalankan aksinya untuk membuat baby Karran.
"Stay with me until I die, Karren.." bisik Gibran tepat di telinga Karren.
"I'm promise.." ucap Karren sambil mengangguk lemas.
__ADS_1
Mereka melaksanakan pembuatan baby Karran selama berjam-jam hingga keduanya kelelahan dan akhirnya tertidur dengan tertutup selimut tebal.
Semoga saja baby Karran akan segera launching setelah ini agar hubungan di antara keduanya lebih erat dan rumah mereka menjadi lebih ramai lagi.
***
Tengah malam Karren terbangun karena dia merasa perutnya tiba-tiba terasa lapar, dia berusaha untuk melepaskan pelukan Gibran secara perlahan lalu turun dari tempat tidur.
Karren memakai pakaiannya kembali dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mensucikan diri lebih dulu.
Karena kalau tidak, Gibran akan ikut mandi bersamanya dan mereka tidak akan benar-benar mandi.
Setelah selesai mensucikan diri, Karren langsung menuju ke dapur untuk membuat mie instan karena dia sangat menginginkannya malam itu.
Padahal Gibran sangat menentang mie instan kalau tidak benar-benar kepepet, hanya saja perut Karren saat ini sudah kepepet jadi dia hanya ingin masak mie instan saja.
wangi yang menyerbak dari kuah mie tersebut langsung menusuk ke hidung Karren membuat Karren memejamkan kedua matanya untuk menikmati harumnya aroma mie yang baru matang itu.
"Emang mie instan tuh yang terbaik!!!" seru Karren dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Karren langsung memindahkan mie yang dia buat ke atas meja makan dan mulai menyantap mie tersebut.
Namun tidak lupa dia berdoa lebih dulu sebelum memakannya.
"Enak sekali yaampun, apalagi aku sudah menambahkan sawi dan irisan cabai." gumam Karren yang terus menyeruput mie nya.
Emang dasarnya keluarga pencinta mie, Darren dan Karren sama sama menyukai mie, hanya saja Darren lebih terobsesi dengan semua jenis mie di bandingkan Karren.
Setelah Karren sudah menyelesaikan makannya dia berniat untuk segera mencuci bekas mangkuk dan sendoknya.
Namun belum sempat Karren berdiri, tiba-tiba saja seseorang berdehem membuat Karren terlonjak kaget.
"Yaampun mas! Kamu kok ngagetin aku aja sih." ucap Karren.
"Apa yang sedang kamu lakukan tengah malam begini Karren?" tanya Gibran.
"Aku habis mandi." jawab Karren.
"Kamu mandi di dapur?" tanya Gibran.
"Ya di kamar mandi lah mas! Mana bisa aku mandi di dapur kamu ini ada-ada aja!" ucap Karren.
__ADS_1
"Terus kamu di dapur ngapain?"
"Makan, aku laper habis kolaborasi sama kamu!" Ucap Karren dengan wajah yang menggemaskan membuat Gibran ingin memakan Karren lagi.