
“Kenapa kamu jadi diam?” tanya Gibran.
“E-engga!” balas Karren yang jadi salah tingkah.
Gibran meneliti wajah Karren, walaupun tidak bisa melihat warna asli pipinya karena sudah tertutup oleh make up yang berlapis-lapis, tapi Gibran tau kalau saat ini Karren sedang tersipu malu.
Hal itu terlihat dari kepala Karren yang terus menunduk dan terlihat jika wanita itu sedang menggigit bibirnya.
“Jangan-jangan kamu sedang berpikir macam-macam ya?” tanya Gibran dengan tatapan curiga.
“Engga! Apaan sih kamu!” ketus Karren dengan mata yang melotot.
Karren berbalik dengan cepat menuju meja rias meninggalkan Gibran yang masih menatapnya bingung. Dia pura-pura memakai lipstiknya lagi untuk menyembunyikan kegugupannya.
Gibran hanya mengedikkan bahu acuh lalu berjalan menuju tempat tidur, di sana sudah ada setelan bajunya yang sudah di siapkan oleh Karren saat dia sedang mandi tadi.
Senyum mengembang di wajah Gibran, “Ternyata begini rasanya punya istri.” Begitulah gumaman di dalam hatinya.
Gibran langsung memakai pakaiannya, sambil mengancingkan bajunya, Gibran memperhatikan istri cantiknya yang masih merias wajahnya. Dahinya berkerut saat melihat baju Karren, lalu tatapannya beralih pada bajunya yang sedang dia pakai.
“Karren, kamu sengaja menyamakan pakaian kita?” tanya Gibran.
Mendengar pertanyaan suaminya membuat Karren menoleh dan tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya.
“Iya dong! Biar kelihatan couple goals gitu.” Balas Karren tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Gibran tercengang, bukannya membuat iri, yang ada mereka malah akan menjadi bahan ledekan orang-orang.
Dengan cepat Gibran melepaskan kembali kancing kemejanya, lalu dia segera mencari kemeja dengan warna lain di lemari membuat Karren mengerutkan keningnya.
“Loh, kenapa di ganti mas?” tanya Karren dengan kecewa.
“Kamu pikir kita akan kelihatan seperti couple goals? Yang ada malah kita akan di tertawakan oleh orang-orang. Aku bukan remaja lagi Karren, aku pria dewasa yang seharusnya kamu bisa mengerti jika gaya seperti ini adalah gaya remaja yang baru puber, bukan gaya orang dewasa!” tegas Gibran.
Mendengar ucapan Gibran membuat Karren cemberut, matanya sudah berkaca-kaca, dia merasa sakit hati padahal niatnya hanya ingin terlihat serasi dengan Gibran.
Dengan cepat Karren berbalik badan dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak mau Gibran melihat air matanya, sedangkan Gibran yang melihat Karren masuk ke dalam kamar mandi pun panik, dia segera menyusul Karren dan mencoba untuk membuka pintu kamar mandi.
Sayangnya Karren mengunci pintu itu membuat Gibran tidak bisa membukanya dan hal itu membuat Gibran tidak bisa melakukan apa pun selain menggedor pintu kamar mandi agar Karren mau keluar.
“Sayang, cepat keluar nanti kita terlambat.” Ucap Gibran sambil mengetuk pintu.
Namun tidak ada jawaban dari dalam membuat Gibran semakin khawatir.
__ADS_1
“Karren, maaf kalau kata-kataku menyakiti hatimu.” Lanjutnya.
“Sayang jangan bikin aku khawatir, cepat keluar!” gibran semakin keras menggedor pintu kamar mandi agar Karren mau keluar.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Karren terisak pelan, tangannya terus menghapus air matanya yang mengalir dengan tisu yang ada di dalam kamar mandi.
“Keluar atau aku dobrak pintu ini!” ancam Gibran dengan suara yang keras.
“Ih dasar ngeselin! Dia ga bisa lihat orang ngambek bentar apa?” gumam Karren kesal.
Dengan malas Karren membuka pintu kamar mandi, seketika tubuhnya menegang saat Gibran langsung memeluknya tiba-tiba saat dia keluar dari kamar mandi.
“Maafin aku..” ucap Gibran pelan.
Karren hanya mengangguk di dalam pelukan Gibran, Gibran segera menjauhkan tubuh Karren, dia menangkup wajah Karren yang terlihat basah, ada jejak air mata di sata. Di tambah mata Karren yang memerah semakin memperkuat dugaan Gibran.
“Kamu nangis?” tanya Gibran sambil menatap Karren dengan intens.
“Engga, tadi ada bulu mata aku yang jatuh di mata, jadi perih banget terus keluar air mata.” Jawab Karren beralasan.
“Jangan bohong! Aku tau kamu habis nangis.” Ucap Gibran.
“Kalo udah tau ngapain masih nanya!” ketus Karren.
Gibran menghampiri Karren dan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang, dia mendaratkan kecupan berulang kali di pucuk kepala Karren.
“Maaf kan aku sayang..” bisik Gibran dengan pelan.
Napas Gibran yang mengenai leher Karren membuat tubuh Karren merinding, bisa-bisanya dia membuat Karren jadi merinding begini.
“Jangan napas di leherku mas, geli.” Ucap Karren yang berusaha menghindar namun Gibran sama sekali tidak melepaskannya.
“Nanti pulang kampus kita belanja ya, aku kan belum pernah belanjain kamu semenjak menikah. Kamu mau apa? Tas, sepatu, atau baju?” ucap Gibran membuat Karren langsung menoleh ke arah Gibran.
“Dih! Ngerayu!” ketus Karren sambil menatap Gibran kesal.
“Emangnya kamu ga mau?” tanya Gibran.
“Ya, mau lah!!!!” seru Karren dengan kencang.
Mendengar jawaban Karren langsung membuat Gibran terkekeh, yah memang Karren sangat menggemaskan dan mudah sekali membuatnya tidak mengambek lagi.
“Sudahlah ayo cepat rapihkan make up kamu nanti kita terlambat.” Ucap Gibran.
__ADS_1
Karren mengangguk mengiyakan ucapan Gibran terlebih saat Karren melihat jam di dinding kamarnya, dia segera merapihkan make upnya dengan cepat.
Sedangkan Gibran merapihkan kemejanya, lalu segera membawa tas kerjanya berjalan ke arah pitu kamar.
“Aku tunggu di luar ya, aku sambil manasin mobil.” Ucap Gibran yang di balas anggukan oleh Karren.
Gibran segera keluar dari kamar dan berjalan ke luar rumah untuk memanaskan mobilnya. Di sana dia melihat Key yang sedang menyiram tanaman.
“Pagi mam.” Ucap Gibran menyapa Key.
“Eh mantu mami, pagi juga.. Udah mau berangkat?” tanya Key.
“Iya mam, tinggal nunggu Karren aja dia lagi make up.” Jawab Gibran.
“Karren make up nya lama ya? Harap maklum ya, emang anak mami yang satu itu butuh waktu lama kalo dandan.” Ucap Key.
“Terus aja mam, terus ngomongin aku di belakang.” Ucap Karren yang baru saja keluar dari rumah.
Key tertawa melihat Karren keluar dari rumahnya, dia benar-benar bahagia akhirnya putri kecilnya sudah memiliki keluarga sendiri dan terlihat bahagia.
“Kamu sewot aja deh jadi orang, jangan marah-marah mulu nanti cepet tua.” Ucap Key.
“Mami tuh jangan buat orang marah-marah nanti dosanya nambah.” Balas Karren.
“Ih dasar anak durhaka!”
“Kan mami duluan yang durhaka.” Balas Karren sambil menjulurkan lidahnya.
Melihat perdebatan ibu dan anak ini membuat Gibran menggelengkan kepala, Karren dan maminya memang seperti seorang sahabat dan keduanya sangat dekat, jadi tidak aneh kalau melihat mereka berdebat seperti itu.
Hanya saja Gibran jadi canggung sendiri jika berada di tenagh-tengah mereka berdua, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
“Kalau begitu Gibran sama Karren berangkat dulu ya mam.” Ucap Gibran.
“Iya, hati-hati menyetirnya ya Gibran.” Ucap Key dengan lembut.
“Karren berangkat mam.” Ucap Karren.
“Kamu siapa???” ucap Key mengejek Karren.
Benar-benar sangat menyebalkan bagi Karren. Sebenarnya yang anak kandungnya ini siapa? Kenapa maminya lembut sekali kepada Gibran sedangkan dengannya malah seperti Tom and Jerry.
Papinya sering kali di buat pusing jika Karren dan Key sudah mulai berdebat karena keduanya tidak ada yang mau mengalah dan keduanya sama-sama suka memulai perdebatan.
__ADS_1