DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 70 (APA KURANG KERAS?)


__ADS_3

Setelah tiba di kampus, Karren dan gibran langsung turun dari mobil, bahkan keduanya berjalan bersama-sama membuat para mahasiswa dan juga dosen mulai membicarakan mereka lagi.


Namun kali ini Gibran bersikap lebih santai dari sebelumnya, dia sudah tidak memikirkan ucapan orang-orang yang membicarakan mereka.


“Terimakasih tumpangannya mas.” Bisik Karren sebelum dia masuk ke dalam ruang kelasnya.


Gibran hanya tersenyum dan mengangguk sekilas lalu kembali melanjutkan jalannya menuju ruangannya dan melakukan kegiatan perkuliahan seperti biasanya.


Gibran yang baru saja selesai mengajar duduk dengan santainya di kursi yang ada di dalam ruangannya, tangannya dengan lincah mengotak-atik keyboard laptopnya untuk membuat soal ujian mahasiswa tingkat akhir.


Tok,,tok,,tok.. pintu ruangannya di ketuk lalu langsung terbuka tanpa menunggu Gibran mempersilahkannya masuk.


Gibran memandang ke arah orang yang baru saja membuka pintu ruangannya dengan tatapan kesal, padahal Gibran belum mempersilahkan masuk tapi orang itu sudah masuk duluan, bahkan orang itu sudah duduk di kursi depan meja Gibran tanpa menunggu di persilahkan.


“Sejak kapan kamu suka masuk ke ruangan orang tanpa permisi dulu Sarah?” sindir Gibran dengan tatapan sinis.


“Maaf Gibran, tapi aku ke sini karena mau tanya sesuatu yang sangat penting sama kamu.” Ucap Sarah tanpa ada rasa bersalah sama sekali dan menampilkan wajah kesal.


“Tanya tentang apa sampai kamu masuk ke dalam ruangan tanpa permisi bahkan tidak memberi salam?” tanya Gibran yang juga penasaran.


“Kamu dekat lagi sama Karren? Aku denger banyak yang bicarain kamu dan Gibran berangkat bareng tadi.” Ucap Sarah


“Terus kenapa?” tanya Gibran dengan santainya.


“Kenapa kamu dekat lagi sama Karren sih Gibran? Kamu tau kan apa akibatnya kalau kamu dekat sama wanita itu? Image kamu akan buruk, dosen-dosen juga akan membicarakan kamu dan berpikir kalau kamu dan dia ada hubungan spesial.” Ucap Sarah.


“Saya akan menanggung konsekuensinya sendiri, kamu tidak perlu sibuk memikirkan hal itu.” Balas Gibran dengan santainya.


Gibran sama sekali tidak terpancing oleh ucapan Sarah.yang seakan sedang mengompor-ngompori dirinya agar menjauhi Karren.


Sarah terkejut melihat tanggapan Gibran yang sama sekali tidak terpengaruh dengan kata-katanya.

__ADS_1


“Tapi Gibran, apa kata para mahasiswa dan para dosen kalau lihat kamu dekat dengan mahasiswi kamu sendiri?” tanya Sarah.


“Kenapa kamu mempermasalahkan hubungan saya dengan Karren? Bukankah selain saya masih ada dosen yang dekat dengan mahasiswinya sendiri?” tanya Gibran.


“Tapi beda cerita Gibran, kalo pak Bayu sama Dila itu sudah bertunangan, mereka akan menikah, sedangkan kamu sama Karren cuma sebatas tetangga aja.” Balas Karren.


Gibran sama sekali tidak mengerti kenapa Sarah terlalu mencampuri urusannya, bahkan Sarah sepertinya bersikeras agar Gibran menjauhi Karren.


“Ya udah kalo gitu saya akan mengikuti jejak pak Bayu.” Ucap Gibran yang membuat Sarah tercengang tidak percaya.


Meskipun sedang banyak pekerjaan, namun Gibran bisa meluangkan sedikit waktunya untuk berdebat dengan Sarah sekaligus menjelaskan kepada wanita yang ada di hadapannya ini agar berhenti untuk membahas masalah ini lagi.


“M-maksud kamu apa Gibran?” tanya Sarah dengan tergagap-gagap.


Wajah Sarah sudah mulai pucat, dia berharap apa yang di maksud Gibran tidak seperti yang sedang dia pikirkan, Sarah masih berharap kalau Gibran akan membantah kesimpulan yang sedang berputar di otaknya.


“Kayaknya kamu cukup pintar untuk mencerna apa yang saya maksud, Sarah.” Ucap Gibran dengan tegas, dia menatap tajam ke arah Sarah yang sekarang sudah pias.


“G-Gibran, k-kamu tidak...”


Gibran tau apa yang dia lakukan tidaklah sopan apa lagi Sarah adalah teman lamanya, tapi kali ini Gibran sudah kesal dengan semua ucapan Sarah.


Dengan kesal Sarah langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu dengan cepat, dia tidak berpamitan atau memberi salam, bahkan Sarah menutup pintu ruangan Gibran dengan keras.


Gibran terkejut dengan apa yang di lakukan Sarah, tapi menurut Gibran mungkin Sarah berani melakukan hal itu karena mereka sudah berteman lama, jika Gibran adalah dosen lain mungkin Sarah tidak akan seberani itu.


Semarah apapun Sarah, dia tidak akan berani melakukan hal itu, Sarah sudah membangun image wanita berhijab yang kalem, jadi hanya Gibran saja yang tau bagaimana sifat Sarah sebenarnya.


Gibran menatap pintu ruangannya yang sudah tertutup sambil menghela nafas panjang, sikap Sarah masih sama seperti dulu, hanya cara berpakaiannya saja yang berubah.


Gibran memutuskan untuk tidak perduli dengan Sarah lagi, dia melihat ponselnya yang sejak tadi sudah mengirim pesan kepada Karren namun belum di balas bahkan belum di baca, padahal seharusnya Karren sudah keluar dari kelas sekarang.

__ADS_1


Setelah lama duduk ternyata Gibran mulai pegal dan bosan, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari ruangannya.


Saat pintu ruangannya terbuka, tiba-tiba saja Gibran menghirup parfum yang sangat dia kenali, Gibran segera menoleh ke arah parfum itu berasal, dan benar saja orang yang memakai parfum khas itu adalah Karren yang kebetulan baru saja melewati ruangannya.


Gibran melihat Karren yang sedang mengobrol dengan teman-temannya menuju kantin, Karren tidak melihat Gibran karena memang Gibran berada di belakang Karren.


Tiba-tiba saja tubuh Gibran kaku, tangannya mengepal, rahangnya mengeras melihat seseorang yang sedang merangkul Karren dengan santainya.


“Apa dia tidak mendengar ancamanku semalam? Apa pukulan yang semalam kurang keras?” gumam Gibran dengan kesal.


Gibran berjalan dengan cepat menyusul mereka semua, dia berdehem saat dirinya sudah berada tepat di belakang Karren.


Keempat mahasiswanya yang terdiri dari Karren, Darren, Kevin dan Silvia itu segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara.


Mereka terkejut melihat Gibran yang sudah ada di belakang mereka dengan tatapan tajamnya, melihat hal itu Kevin langsung melepaskan tangannya dari bahu Karren, dia tidak mau mendapat luka baru karena yang kemarin saja masih berbekas dan masih terasa nyut-nyutan.


“Karren, ikut saya!” tegas Gibran membuat Karren tidak bisa membantah lagi dan segera mengikuti Gibran dari belakang.


Karren juga menyempatkan untuk pamit kepada teman-temannya dan menyuruh mereka untuk tidak menunggunya, karena Karren yakin kalau dia dan Gibran akan lama.


Gibran membawa Karren ke ruangannya, Gibran juga menyuruh Karren duduk di sofa ruangannya dan segera di lakukan oleh Karren.


Dengan nyamannya Karren duduk di sofa, namun dia langsung mengerutkan keningnya saat melihat Gibran yang justru duduk di kursi kejayaannya sambil membuka beberapa dokumen.


Lalu untuk apa dia di sini sekarang? Kenapa Gibran malah mengajaknya ke ruangannya kalau hanya untuk melihat Gibran bekerja, sedangkan perut Karren sudah terasa keroncongan karena lapar.


Harusnya tadi dia menitip makanan kepada Silvia dan memintanya untuk mengantar makanan itu ke ruangan Gibran.


“Ada apa mas bawa aku ke sini?” tanya Karren.


***

__ADS_1


Coba author kurang baik apa kakak-kakak? author hari ini udah up 5 bab loh... Masih kurang? mau lagi ga nih???


Jangan lupa kasih dukungan buat author ya... saranghaeee~~~


__ADS_2