DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 28 (MAKAN MALAM)


__ADS_3

Makan malam pun tiba, semua orang sudah berkumpul di halaman belakang rumah Karren, seperti biasa mereka memang sering makan bersama terutama jika Khansa dan Kalandra datang ke Indonesia.


Kalandra sudah tiba tepat saat adzan maghrib berkumandang, seperti biasa, mami Khansa segera menceritakan tentang anak dan cucunya, namun Kalandra lebih tertarik dengan cerita Karren yang sedang mendekati tetangganya dan dosennya sendiri.


“Karren, kenapa kamu tidak mengundang laki-laki itu?” tanya Kalandra.


“Laki-laki siapa yang grandpa maksud?” tanya Karren yang pura-pura tidak mengerti.


“Laki-laki yang sedang kamu dekati.” Balas Kalandra.


Karren sudah hafal kalau neneknya pasti langsung memberitahu semuanya kepada kakeknya, hanya saja kali ini terlihat kalau kakeknya juga tertarik dengan Gibran.


“Apaan sih grandpa, aku ga deket sama siapa-siapa kok.” Ucap Karren.


“Udah turutin aja ucapan grandpa Ren, panggil gih Gibrannya biar nanti lauk yang mau mami kasih bisa buat besok pagi.” Sahut Key.


“Apaan sih mam, jangan nyuruh aku lah, tuh suruh aja Darren.” Ucap Karren sambil menunjuk ke arah Darren dengan dagunya.


“Dih ogah! Kan bukan gue yang lagi deketin pak Gibran.” Sahut Darren yang kebetulan mendengar ucapan Karren dan Key.


Karren mendengus kesal, dia segera menoleh ke arah kakeknya yang mengangguk seperti kode untuk membawa Gibran ke hadapannya.


“Oke aku mengajaknya kemari, semoga aja dia mau ya.” Ucap Karren yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju rumah Gibran yang ada di sebrang rumahnya.


Karren yang saat itu hanya menggunakan T-shirt dan celana pendek segera menghampiri rumah Gibran dan mengetuk pintunya yang saat itu terbuka lebar bahkan Karren bisa melihat Gibran yang sedang bersantai duduk di kursi ruang tamu sambil melihat laptopnya.


Mendengar ada suara ketukan dari luar membuat sang pemilik rumah menoleh ke asal suara.


“Karren?” ucap Gibran saat melihat Karren sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


“Ada apa? Kenapa kamu keluar pake baju seperti ini?” tanya Gibran sambil meneliti penampilan Karren dari atas sampai bawah.


“Kenapa malah komentar bajuku? Aku kan di rumah jadi ga harus pake baju panjang kan?” balas Karren.


“Tapi...” baru saja Gibran mau membalas ucapan Karren, namun terhenti saat tangan Karren mengangkat ke atas.

__ADS_1


“Bisa ga sih ga usah ceramah mas? Aku capek loh denger kamu ceramah terus, sekarang aku di sini mau ngundang mas Gibran buat makan malam bersama keluargaku.” Ucap Karren.


“Makan malam bersama?” tanya Gibran sambil mengerutkan keningnya.


“Iya, grandpa mau melihat siapa orang yang sudah membuatku tergila-gila.” Ucap Karren membuat pipi Gibran seketika merah merona karena malu.


Karren berusaha untuk menahan tawanya sebisa mungkin saat melihat ekspresi wajah Gibran yang malu-malu.


“Ehem! Gimana? Mau ga mas?” tanya Karren yang berhasil memecah lamunan Gibran.


“Hah? Eh, baiklah saya akan datang, tidak mungkin saya menolak ajakan orang yang lebih tua.” Ucap Gibran.


“Apa!? Maksudnya aku lebih tua gitu?” tanya Karren dengan kesal.


“Bukan kamu, kan katanya tadi grandpa kamu mau lihat saya tentu saja saya harus datang.” Ucap Gibran.


“Oh gitu,, yaudah ayo kita ke rumahku.” Ajak Karren.


“Tunggu, saya ganti baju dulu.” Ucap Gibran.


“Ngapain ganti baju?” tanya Karren sambil melihat ke arah Gibran dari atas ke bawah.


“Ga sopan kalo saya memakai pakaian seperti ini saat makan malam keluarga.” Ucap Gibran.


“Ga masalah, toh celana yang di pakai juga bukan celana kolor yang tipis kok.” Ucap Karren yang langsung menarik lengan Gibran.


“Tunggu Karren, aku harus menutup pintu rumahku dulu.” Ucap Gibran yang membuat Karren menghentikan langkahnya dan segera membiarkan Gibran untuk menutup pintu rumahnya lebih dulu.


Sampai di rumah, Karren mengajak Gibran masuk menuju halaman belakang dan bertemu dengan seluruh keluarganya.


Gibran sangat gugup, mungkin kalau dengan Bernard dan Key dia sudah bisa di bilang akrab karena sering menyapa dan mengobrol, namun dengan yang lain Gibran benar-benar tidak pernah bertemu.


“Grandpa, ini mas Gibran calon cucu mantu Grandpa.” Ucap Karren dengan frontal nya mengenalkan Gibran kepada sang kakek.


Gibran melotot mendengar ucapan Karren yang benar-benar terlalu jujur, dia menelan salvilanya dan tersenyum kikuk ke arah Kalandra yang terlihat menyeramkan.

__ADS_1


“Pfftt,, kayak yang mau aja dia sama lu, Ren!" sahut Darren sambil menertawakan Karren.


Karren kesal dengan ucapan sepupunya itu, dia ingin sekali mencakar wajah Darren, hanya saja tidak bisa dia lakukan karena ada Gibran di sampingnya.


"Darren, kamu selalu godain saudara kamu terus deh!" seru Andini kepada putranya.


"Iya mi maaf." ucap Darren sambil menundukkan kepalanya.


Sedangkan Karren menjulurkan lidahnya ke arah Darren untuk mengejeknya.


"Gibran, duduklah jangan berdiri terus." ucap Kalandra mempersilahkan Karren untuk duduk di kursi yang bersebelahan dengan Karren.


Karena hanya kursi itulah yang kosong, kalau tidak, Gibran akan lebih memilih untuk duduk di sebelah Bernard yang sudah sering mengobrol dengannya.


"Kenapa diam saja? Tidak nyaman kalo duduk di sebelah Karren?" tanya Kalandra kembali.


"B-bukan seperti itu pak..."


"Jangan panggil aku pak, panggil sama grandpa sama seperti Karren dan Darren." potong Kalandra.


"Ah baiklah pak, eh om, eh grandpa." ucap Gibran yang terus menerus salah bicara.


Melihat hal itu membuat semua orang yang ada di sana menahan tawa terutama Karren dan Darren, karena Gibran seorang dosen killer bisa menjadi gugup saat berhadapan dengan Kalandra.


Yah, memang semua orang mengakui ketegasan Kalandra, Kalandra memang paling pintar kalau di suruh untuk mengintimidasi lawan bicaranya dan belum ada yang bisa menandinginya.


"Aku banyak mendengar tentangmu dari putriku, istriku dan cucuku, tapi aku ingin bisa mengenalmu lebih dekat lagi." jelas Kalandra to the point.


Gibran yang masih grogi berusaha untuk menarik nafas dalam-dalam lalu tersenyum setelah jantungnya mulai berdetak dengan stabil.


"Entah apa yang mereka ceritakan tentang saya kepada grandpa, tapi suatu kehormatan bagi saya karena grandpa bisa sampai penasaran dengan saya." ucap Gibran.


Kalandra hanya tersenyum menanggapi ucapan Gibran, lalu makan malam pun di mulai.


Awalnya Gibran sangat canggung dan gugup, tapi lama kelamaan dia bisa menyatu dengan keluarga Kalandra, terlebih saat keluarga itu sangat welcome kepadanya.

__ADS_1


Baru kali ini Gibran melihat ada keluarga yang bercanda lepas seperti teman namun tidak mengurangi sedikit pun rasa sopan santun.


Bahkan Gibran yang baru saja mengenal keluarga itu sudah seperti keluarganya sendiri, dan Gibran merasa nyaman berada di sana.


__ADS_2